Makro 12 Jun 2025 Penulis: Yunila Wati Editor: Pramirvan Datu

Dolar AS Tertekan Setelah Data Inflasi Melambat

Inflasi inti yang tidak memasukkan komponen makanan dan energi tercatat naik tipis ke 2,4 persen dari 2,3 persen pada April.

Dolar AS melemah usai inflasi melambat. Pasar prediksi The Fed pangkas suku bunga. Fokus beralih ke kesepakatan dagang AS-China dan arah kebijakan moneter.

Ilustrasi dolar Amerika Serikat. (Foto: Adobe Stock)
Ilustrasi dolar Amerika Serikat. (Foto: Adobe Stock)

Daftar Isi

  1. 01 Dolar Lemah Terhadap Sejumlah Mata Uang

KABARBURSA.COM – Nilai tukar dolar Amerika Serikat bergerak melemah pada perdagangan Rabu waktu setempat, atau Kamis WIB, 12 Juni 2025.

Data inflasi terbaru menunjukkan kenaikan harga konsumen yang lebih rendah dari perkiraan, yang melemahkan nilai tukar dolar Amerika Serikat. Pelemahan ini memperkuat ekspektasi bahwa Federal Reserve bisa saja mulai memangkas suku bunga lebih cepat dari yang sebelumnya diprediksi.

Data dari Biro Statistik Tenaga Kerja AS mencatat bahwa indeks harga konsumen (CPI) hanya naik 0,1 persen pada Mei, melambat dari bulan sebelumnya yang sebesar 0,2 persen. 

Secara tahunan, inflasi inti yang tidak memasukkan komponen makanan dan energi tercatat naik tipis ke 2,4 persen dari 2,3 persen pada April. Angka ini berada di bawah ekspektasi pasar dan menjadi sinyal bahwa tekanan harga mulai mereda.

Dampaknya langsung terasa di pasar mata uang. Dolar AS turun 0,2 persen terhadap yen Jepang ke level 144,58. Terhadap euro, dolar juga tertekan hingga 0,5 persen ke USD1,1484. 

Meskipun sempat memangkas kerugian setelah Presiden Donald Trump mengumumkan tercapainya kesepakatan dagang dengan China, sentimen terhadap greenback tetap rapuh.

Dalam kesepakatan tersebut, Beijing disebut akan kembali memasok logam tanah jarang dan magnet permanen ke AS. Sebagai gantinya, Washington membuka pintu bagi mahasiswa China untuk kembali belajar di perguruan tinggi AS. 

Namun, dalam paket yang sama, Gedung Putih juga menetapkan struktur tarif baru sebesar 55 persen terhadap barang-barang impor dari China, terdiri dari tarif dasar 10 persen, tambahan 20 persen untuk kasus fentanyl, dan tarif eksisting sebesar 25 persen. 

Sebagai balasan, China akan mengenakan tarif 10 persen untuk produk asal AS.

Meski ada sentimen perbaikan hubungan dagang, pasar tampak lebih fokus pada arah kebijakan moneter. 

Analis pasar di Brown Brothers Harriman London Elias Haddad, menyebut bahwa perlambatan inflasi memperkuat ekspektasi pemangkasan suku bunga oleh The Fed. 

“Pasar kini mulai memperhitungkan peluang 50 basis poin penurunan suku bunga hingga akhir tahun,” ujar Haddad, mengutip Reuters, 12 Juni 2025.

Dolar Lemah Terhadap Sejumlah Mata Uang

Pelemahan dolar juga tercermin dari pergerakan terhadap mata uang utama lainnya. Dolar AS turun 0,3 persen terhadap franc Swiss menjadi 0,8205. Sementara terhadap yuan offshore milik China, dolar justru sedikit menguat 0,1 persen ke 7,197.

Di sisi lain, pound sterling ikut menguat 0,3 persen terhadap dolar ke level USD1,3542. Kenaikan ini terjadi di tengah kabar bahwa pemerintah Inggris tengah menyusun ulang anggaran belanja jangka panjang senilai lebih dari EUR2 triliun, yang ditujukan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dalam beberapa tahun ke depan.

Kondisi saat ini menunjukkan pasar keuangan tengah bergulat antara ekspektasi pelonggaran moneter dan dinamika geopolitik. 

Managing Director dari firma investasi Paleo Leon di Princeton John Praveen, menilai bahwa pasar setidaknya bisa bernafas sedikit lega. 

“Skenario terburuk mungkin sudah lewat. Ada elemen ‘penyelamat muka’ dari kedua belah pihak. Yang penting adalah eskalasi mulai mereda, dan itu yang ditangkap pasar saat ini,” ujar Praveen.

Untuk saat ini, pelaku pasar menanti pertemuan Federal Reserve berikutnya pada pertengahan Juni, yang akan menjadi momen penting dalam menentukan arah suku bunga serta masa depan dolar AS dalam jangka menengah.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
YU
Redaktur

Yunila Wati

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait