Makro 18 Jul 2025 Penulis: Syahrianto Editor: Yunila Wati

Dua Pemicu yang Membuat Harga Emas Melemah

Harga emas dunia turun setelah data tenaga kerja dan penjualan ritel AS menguat, sementara dolar menguat dan investor menanti kejelasan soal tarif dagang.

Emas melemah akibat penguatan dolar dan data ekonomi AS yang solid. Harga palladium melonjak, sementara pasar menanti arah kebijakan tarif dagang.

Ilustrasi: Setumpuk emas batangan (Foto: Unsplash/Jingming Pan)
Ilustrasi: Setumpuk emas batangan (Foto: Unsplash/Jingming Pan)

KABARBURSA.COM – Harga emas dunia tergelincir pada perdagangan Kamis, terseret oleh penguatan dolar Amerika Serikat dan data ekonomi yang menunjukkan ketahanan sektor tenaga kerja dan konsumsi. Pasar juga masih bersikap hati-hati sambil menanti kejelasan terkait perkembangan tarif dagang.

Dilansir Reuters, harga emas spot turun 0,3 persen menjadi USD3.337,43 per troy ounce, setelah sempat menyentuh level terendah sesi di USD3.309,59. Kontrak berjangka emas AS juga ditutup melemah 0,4 persen ke USD3.345,3 per troy ounce.

Menurut Bob Haberkorn, analis senior RJO Futures, “Setelah rilis data ekonomi AS, dolar mengalami sedikit penguatan dan imbal hasil obligasi naik, yang memberi tekanan pada harga emas.”

Dolar AS naik 0,3 persen, membuat harga emas yang dibanderol dalam dolar menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang asing. Sementara itu, klaim pengangguran mingguan AS menurun, mengindikasikan pertumbuhan lapangan kerja tetap stabil sepanjang Juli. Penjualan ritel juga naik 0,6 persen bulan lalu, melampaui ekspektasi, meski sebagian besar kenaikan diperkirakan akibat lonjakan harga karena tarif impor.

Gubernur The Fed Adriana Kugler menyatakan bahwa bank sentral belum akan menurunkan suku bunga dalam waktu dekat, karena dampak tarif pemerintahan Trump masih menyusup ke harga barang konsumen.

Emas kerap dipandang sebagai lindung nilai terhadap ketidakpastian dan inflasi, namun kenaikan suku bunga dapat mengurangi daya tariknya karena emas tidak memberikan imbal hasil.

Di sisi lain, Jepang terus menggelar negosiasi dengan AS guna mencegah tarif 25 persen atas produk ekspor, jelang tenggat kesepakatan pada 1 Agustus. “Jika Trump benar-benar menerapkan ancamannya dan ketegangan dagang meningkat, bukan hal mustahil emas kembali menguji — bahkan menembus — rekor tertingginya,” kata Fawad Razaq, analis pasar dari City Index dan FOREX.com.

Sementara itu, ekspor emas Swiss melonjak 44 persen secara bulanan pada Juni, berdasarkan data bea cukai, seiring pengiriman logam mulia dari AS kembali ke Inggris melalui kilang di Swiss.

Harga palladium melonjak 3,8 persen ke USD1.277,78, tertinggi sejak September 2023. Menurut Haberkorn, kekhawatiran atas konflik di Rusia yang merupakan eksportir utama palladium turut mendorong harga naik akibat potensi gangguan pasokan.

Adapun harga perak naik tipis 0,3 persen menjadi USD38,07 per troy ounce dan platinum menguat 3,1 persen menjadi USD1.460,13. (*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
SY
Ass. Redaktur

Syahrianto

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait