Makro 21 Jun 2026 Penulis: Citra Dara Vresti Trisna Editor: Moh. Alpin Pulungan

Edisi Khusus: Bukan Tiket, F&B jadi Kunci Kinerja CNMA saat Libur Sekolah

Lonjakan penonton bioskop saat libur sekolah berpotensi meningkatkan pendapatan F&B CNMA yang menyumbang hingga 35 persen pendapatan.

CNMA berpotensi meraih pertumbuhan pendapatan saat libur sekolah melalui peningkatan penjualan tiket dan bisnis F&B bermargin tinggi.

Ilustrasi potensi penonton saat memasuki liburan sekolah. Foto: dok KabarBursa.com
Ilustrasi potensi penonton saat memasuki liburan sekolah. Foto: dok KabarBursa.com

Daftar Isi

  1. 01 Deretan Film Keluarga Siap Mengisi Layar Bioskop
  2. 02 Popcorn Lebih Menguntungkan
  3. 03 CNMA Masuk Musim Liburan dengan Kinerja yang Mulai Membaik
  4. 04 Bisakah Libur Sekolah Mengubah Pola Kinerja Kuartalan CNMA?
  5. 05 Jaringan Terbesar dan Kas Tebal Jadi Modal CNMA Menangkap Momentum

KABARBURSA.COM - Lonjakan jumlah penonton bioskop selama musim libur sekolah kerap dikaitkan dengan peningkatan penjualan tiket. Namun bagi PT Nusantara Sejahtera Raya Tbk (CNMA), pengelola jaringan Cinema XXI, potensi pertumbuhan pendapatan pada periode tersebut tidak hanya berasal dari jumlah kursi yang terisi di dalam studio, melainkan juga dari penjualan makanan dan minuman (food and beverages/F&B) yang memiliki margin lebih tinggi.

Momentum itu datang ketika industri bioskop nasional menunjukkan tren positif sepanjang semester I 2026. Data yang dihimpun dari Cinepoint dan Filmindonesia.or.id menunjukkan jumlah penonton bioskop nasional mencapai sekitar 51,3 juta hingga pertengahan Juni 2026. Jumlah ini meningkat sekitar 12-15 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Pertumbuhan tersebut ditopang oleh sejumlah film lokal berpenonton jutaan serta berlanjut menjelang musim libur sekolah pada akhir Juni hingga Juli.

Bagi CNMA, periode ini menjadi penting karena segmen penonton keluarga yang mendominasi musim liburan umumnya tidak hanya membeli tiket, tetapi juga meningkatkan konsumsi produk F&B di area bioskop. Dengan kontribusi F&B yang mencapai sekitar 32-35 persen terhadap pendapatan perseroan, musim libur sekolah berpotensi menjadi salah satu penopang kinerja CNMA pada paruh kedua 2026.

Setelah menikmati lonjakan kunjungan selama periode Lebaran, industri bioskop Indonesia memasuki momentum besar berikutnya pada musim libur sekolah. Periode ini secara historis menjadi salah satu masa dengan trafik penonton tertinggi karena bertepatan dengan meningkatnya aktivitas rekreasi keluarga dan pelajar.

Data Cinepoint dan Filmindonesia.or.id menunjukkan jumlah penonton bioskop nasional sepanjang Januari hingga pertengahan Juni 2026 mencapai sekitar 51,3 juta. Angka tersebut meningkat sekitar 12-15 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang berada di kisaran 45 juta penonton.

Puncak kunjungan terjadi pada Maret 2026 yang bertepatan dengan momentum Lebaran. Pada periode tersebut jumlah penonton diperkirakan mencapai sekitar 14,5 juta. Setelah itu, trafik bioskop tetap terjaga pada April dan Mei sebelum memasuki awal musim libur sekolah pada Juni.

Kinerja industri juga ditopang oleh dominasi film nasional. Hingga pertengahan Juni 2026, film Indonesia menguasai sekitar 62 persen pangsa pasar penonton bioskop. Tercatat sedikitnya 13 film lokal berhasil menembus satu juta penonton, menunjukkan daya tarik konten domestik masih menjadi penggerak utama industri layar lebar.

Beberapa film yang mencatatkan jumlah penonton terbesar sepanjang semester I 2026 antara lain Danur: The Last Chapter dengan 3,62 juta penonton, Ghost in the Cell sebanyak 3,38 juta penonton, serta Tunggu Aku Sukses Nanti yang menembus 3,01 juta penonton. Keberhasilan sejumlah judul tersebut menjadi salah satu faktor yang menjaga arus kunjungan ke bioskop sejak awal tahun.

Bagi operator bioskop seperti CNMA, pertumbuhan jumlah penonton nasional menjadi indikator penting karena menunjukkan permintaan masyarakat terhadap hiburan layar lebar masih terjaga. Kondisi tersebut memberikan landasan yang relatif kuat menjelang periode libur sekolah yang diperkirakan menjadi katalis berikutnya bagi peningkatan trafik bioskop.

Deretan Film Keluarga Siap Mengisi Layar Bioskop

Momentum libur sekolah tidak hanya ditentukan oleh jumlah hari libur, tetapi juga oleh ketersediaan film yang mampu menarik penonton datang ke bioskop. Pada periode Juni hingga Juli 2026, industri perfilman dinilai memiliki bauran konten yang lebih beragam dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, terutama untuk segmen keluarga.

Data yang dihimpun dari Cinepoint dan Filmindonesia.or.id menunjukkan Sekawan Limo 2: Gunung Klawih menjadi salah satu pembuka musim liburan dengan capaian sekitar 1,72 juta penonton hingga 21 Juni 2026. Film komedi horor produksi Starvision tersebut melanjutkan kesuksesan film pertamanya dan menjadi salah satu penarik trafik utama pada awal Juni.

Selain film lokal, sejumlah studio internasional juga merilis film yang menyasar segmen keluarga. Film animasi Hoppers produksi Pixar yang tayang pada pertengahan Juni tercatat mengumpulkan sekitar 840 ribu penonton hingga 21 Juni 2026. Kehadiran film tersebut menjadi pilihan bagi penonton anak-anak yang mulai memasuki masa libur sekolah.

Memasuki Juli, bioskop akan diisi oleh sejumlah judul yang menyasar penonton keluarga dalam skala lebih besar. Di antaranya Moana Live Action yang dijadwalkan tayang pada 2 Juli 2026 serta Shrek 5 yang akan hadir pada 10 Juli 2026. Kedua film tersebut berasal dari waralaba yang telah memiliki basis penggemar luas dan menjangkau berbagai kelompok usia.

Di luar segmen keluarga, industri juga tetap menawarkan pilihan bagi kelompok penonton lain. Film horor The Backrooms, Kuntilanak: Dendam Pusaka, hingga film aksi Super-Soldier: Iron Vanguard menjadi bagian dari strategi distributor untuk menjaga keberagaman konten selama musim liburan.

Struktur line-up tersebut berbeda dibandingkan periode libur sekolah 2025 yang lebih banyak didominasi film aksi dan horor. Pada 2026, kombinasi film animasi, komedi keluarga, musikal, horor, dan aksi menciptakan basis penonton yang lebih luas sehingga berpotensi meningkatkan frekuensi kunjungan ke bioskop.

Bagi operator bioskop, keberagaman genre memiliki arti penting karena memperbesar peluang kunjungan kelompok. Penonton keluarga yang datang bersama anak-anak, misalnya, cenderung menghasilkan jumlah transaksi yang lebih besar dibandingkan kunjungan individu. Kondisi inilah yang membuat musim libur sekolah menjadi salah satu periode yang paling diperhatikan oleh pelaku industri bioskop setelah momentum Lebaran.

Popcorn Lebih Menguntungkan 

Berdasarkan data kinerja perseroan, segmen F&B berkontribusi sekitar 32-35 persen terhadap total pendapatan. Porsi tersebut menjadikan F&B sebagai salah satu sumber pendapatan terbesar setelah bisnis inti penjualan tiket bioskop.

Kontribusi F&B menjadi penting karena karakteristik profitabilitasnya berbeda dibandingkan penjualan tiket. Dalam industri bioskop, sebagian pendapatan tiket harus dibagi dengan distributor maupun pemilik hak film. Sebaliknya, penjualan makanan dan minuman memberikan ruang margin yang lebih besar bagi operator bioskop.

Kondisi itu membuat perubahan profil penonton memiliki dampak tersendiri terhadap kinerja keuangan. Pada musim libur sekolah, penonton yang datang ke bioskop umumnya tidak hanya terdiri dari individu, melainkan kelompok keluarga yang membawa anak-anak atau remaja. Pola kunjungan tersebut biasanya diikuti dengan pembelian produk tambahan seperti popcorn, minuman, paket makanan, hingga merchandise edisi khusus yang dijual di area bioskop.

Karakteristik tersebut berbeda dengan kunjungan individu yang umumnya hanya berfokus pada pembelian tiket. Karena itu, kenaikan jumlah penonton pada periode liburan tidak hanya berpotensi meningkatkan volume tiket yang terjual, tetapi juga memperbesar nilai transaksi per kunjungan.

Signifikansi segmen F&B juga tercermin dari peningkatan kinerja operasional CNMA pada awal tahun. Dalam laporan keuangan interim kuartal I 2026, perseroan membukukan pendapatan sebesar Rp1,1 triliun atau naik 18,2 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pada saat yang sama, EBITDA meningkat 81,2 persen menjadi Rp226,9 miliar.

Meski perseroan tidak merinci kontribusi faktor pendorong kenaikan EBITDA dalam laporan keuangan interim tersebut, pertumbuhan belanja pelanggan pada lini F&B menjadi salah satu faktor yang disebut mendukung perbaikan kinerja operasional.

Dengan komposisi film libur sekolah yang lebih banyak menyasar segmen keluarga melalui kehadiran judul seperti Hoppers, Moana Live Action, dan Shrek 5, periode Juni hingga Juli berpotensi menjadi momentum penting bagi monetisasi bisnis F&B. Bagi CNMA, ukuran keberhasilan musim liburan tidak hanya ditentukan oleh banyaknya tiket yang terjual, tetapi juga oleh kemampuan mengonversi peningkatan trafik penonton menjadi transaksi tambahan di konter makanan dan minuman.

CNMA Masuk Musim Liburan dengan Kinerja yang Mulai Membaik

Di tengah pertumbuhan jumlah penonton bioskop nasional pada semester I 2026, PT Nusantara Sejahtera Raya Tbk (CNMA) memasuki musim libur sekolah dengan kinerja operasional yang menunjukkan perbaikan dibandingkan tahun sebelumnya.

Berdasarkan laporan keuangan interim per 31 Maret 2026, perseroan membukukan pendapatan sebesar Rp1,1 triliun, meningkat 18,2 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pada saat yang sama, EBITDA tumbuh 81,2 persen menjadi Rp226,9 miliar.

Perbaikan tersebut juga terlihat dari sisi laba rugi. Jika pada kuartal I 2025 perseroan masih mencatat rugi bersih sebesar Rp69 miliar, pada kuartal I 2026 kerugian menyempit menjadi sekitar Rp8 miliar. Penyempitan rugi terjadi ketika industri bioskop nasional mulai menikmati peningkatan jumlah penonton yang ditopang oleh sejumlah film lokal berpenonton jutaan.

Dari sisi likuiditas, CNMA masih memiliki kas dan setara kas sebesar Rp1,75 triliun per akhir Maret 2026. Posisi tersebut memberikan ruang bagi perseroan untuk menjaga operasional sekaligus melanjutkan pengembangan jaringan bioskop di berbagai daerah.

Ekspansi jaringan menjadi salah satu strategi yang terus dijalankan perseroan dalam beberapa tahun terakhir. Dalam Laporan Tahunan 2025, CNMA menyebut telah membuka 16 bioskop baru dengan tambahan 70 layar sepanjang 2024, termasuk tujuh layar IMAX with Laser serta ekspansi ke sejumlah kota baru. Hingga kuartal I 2026, jaringan Cinema XXI tercatat mencapai 268 bioskop dengan 1.391 layar yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia.

Penambahan kapasitas tersebut menjadi faktor penting dalam menangkap pertumbuhan jumlah penonton. Ketika trafik bioskop meningkat selama musim liburan, jaringan layar yang lebih luas memberi peluang bagi perseroan untuk menjangkau lebih banyak penonton sekaligus memperbesar potensi transaksi di luar penjualan tiket.

Kondisi ini membuat CNMA berada dalam posisi yang berbeda dibandingkan masa pemulihan pascapandemi beberapa tahun lalu. Jika sebelumnya fokus utama perseroan adalah mengembalikan tingkat kunjungan penonton, saat ini tantangan yang dihadapi lebih banyak berkaitan dengan bagaimana mengoptimalkan pertumbuhan trafik menjadi peningkatan pendapatan dan profitabilitas.

Dengan pendapatan yang tumbuh dua digit, EBITDA yang meningkat lebih dari 80 persen, serta dukungan jaringan bioskop terbesar di Indonesia, CNMA memasuki musim libur sekolah 2026 dalam kondisi yang relatif lebih kuat dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Bisakah Libur Sekolah Mengubah Pola Kinerja Kuartalan CNMA?

Meski musim libur sekolah kerap dianggap sebagai salah satu periode penting bagi industri bioskop, data historis menunjukkan kontribusinya terhadap kinerja kuartalan CNMA tidak selalu lebih besar dibandingkan momentum lainnya, terutama Lebaran.

Berdasarkan data laba bersih perseroan dalam tiga tahun terakhir, kuartal II secara konsisten menjadi periode dengan kinerja lebih kuat dibandingkan kuartal III. Pada 2023, laba bersih CNMA mencapai Rp225 miliar pada kuartal II dan Rp187 miliar pada kuartal III. Pola serupa terjadi pada 2024 ketika laba bersih tercatat Rp248 miliar pada kuartal II dan Rp141 miliar pada kuartal III.

Kesenjangan yang lebih lebar terlihat pada 2025. Laba bersih perseroan mencapai Rp358 miliar pada kuartal II, jauh lebih tinggi dibandingkan Rp156 miliar pada kuartal III. Data tersebut menunjukkan bahwa puncak kinerja CNMA dalam beberapa tahun terakhir lebih banyak ditopang oleh periode yang berdekatan dengan momentum Lebaran dibandingkan libur sekolah.

Meski demikian, kondisi pada 2026 memiliki sejumlah perbedaan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Selain jumlah penonton bioskop nasional yang meningkat sepanjang semester I, periode libur sekolah tahun ini juga didukung oleh kombinasi film keluarga, animasi, komedi, horor, dan aksi yang relatif lebih beragam.

Kehadiran film seperti Moana Live Action dan Shrek 5 misalnya, berpotensi memperluas basis penonton keluarga pada Juli. Sementara film lokal seperti Sekawan Limo 2 telah lebih dulu menarik penonton sejak awal Juni. Struktur konten semacam ini memberi peluang bagi industri bioskop untuk menjaga trafik penonton setelah berakhirnya momentum Lebaran.

Bagi CNMA, dampak dari kondisi tersebut tidak hanya terlihat pada potensi penjualan tiket, tetapi juga pada peluang peningkatan transaksi F&B yang telah menjadi salah satu sumber pendapatan penting perseroan. Semakin lama film keluarga mampu mempertahankan kunjungan penonton, semakin besar pula peluang monetisasi dari lini makanan dan minuman yang dijual di area bioskop.

Karena itu, perhatian investor pada kuartal III 2026 tidak hanya akan tertuju pada jumlah penonton yang berhasil dibukukan industri bioskop nasional. Yang tidak kalah penting adalah apakah pertumbuhan trafik tersebut mampu diterjemahkan menjadi peningkatan pendapatan dan profitabilitas yang lebih kuat dibandingkan pola historis yang selama ini terjadi.

Data historis memang menunjukkan kuartal II masih menjadi periode yang lebih dominan bagi kinerja CNMA. Namun dengan tren pertumbuhan penonton nasional, dukungan line-up film keluarga, serta kontribusi F&B yang semakin signifikan terhadap pendapatan perseroan, musim libur sekolah 2026 akan menjadi salah satu indikator yang patut diperhatikan untuk menilai keberlanjutan pertumbuhan kinerja CNMA pada paruh kedua tahun ini.

Jaringan Terbesar dan Kas Tebal Jadi Modal CNMA Menangkap Momentum

Selain didukung pertumbuhan jumlah penonton, CNMA juga memasuki musim libur sekolah dengan kapasitas operasional yang terus bertambah dalam beberapa tahun terakhir. Faktor ini menjadi penting karena peningkatan trafik penonton hanya dapat dikonversi menjadi pendapatan apabila tersedia jaringan bioskop dan layar yang memadai untuk menampung permintaan.

Dalam Laporan Tahunan 2025, perseroan mencatat pembukaan 16 bioskop baru dengan tambahan 70 layar sepanjang 2024. Ekspansi tersebut mencakup pembukaan bioskop pertama di Timika serta penambahan layar di sejumlah kota yang dinilai memiliki potensi pertumbuhan ekonomi dan konsumsi masyarakat.

Hingga akhir kuartal I 2026, jaringan Cinema XXI telah mencapai 268 bioskop dengan 1.391 layar. Skala tersebut menjadikan CNMA sebagai operator bioskop dengan jaringan terbesar di Indonesia dan memberikan jangkauan yang luas terhadap pertumbuhan pasar hiburan di berbagai daerah.

Ekspansi jaringan tersebut sejalan dengan strategi perseroan untuk memperluas akses masyarakat terhadap hiburan layar lebar, termasuk di kota-kota tier 2 dan tier 3 yang dalam beberapa tahun terakhir mulai menjadi tujuan pengembangan bisnis. Pendekatan ini memungkinkan CNMA tidak hanya mengandalkan pertumbuhan penonton di kota-kota besar, tetapi juga menangkap permintaan baru dari wilayah yang sebelumnya memiliki akses bioskop yang terbatas.

Dari sisi keuangan, perseroan juga memiliki fleksibilitas yang relatif kuat untuk mendukung pengembangan usaha. Berdasarkan laporan keuangan interim per 31 Maret 2026, CNMA memiliki kas dan setara kas sebesar Rp1,75 triliun. Meski lebih rendah dibanding posisi akhir 2023 yang mencapai Rp2,69 triliun, saldo kas tersebut masih mencerminkan kemampuan perseroan untuk membiayai kebutuhan operasional dan ekspansi secara berkelanjutan.

Kombinasi antara jaringan bioskop yang luas dan posisi kas yang solid menjadi faktor yang membedakan CNMA dari banyak pelaku industri hiburan lainnya. Ketika jumlah penonton nasional meningkat, perseroan tidak hanya memiliki peluang untuk menjual lebih banyak tiket, tetapi juga memanfaatkan skala operasional yang besar untuk meningkatkan penjualan F&B dan layanan pendukung lainnya di seluruh jaringan bioskop.

Pada akhirnya, keberhasilan CNMA memanfaatkan musim libur sekolah 2026 tidak hanya akan ditentukan oleh kuat atau tidaknya line-up film yang tayang. Faktor yang tidak kalah penting adalah kemampuan perseroan mengoptimalkan jaringan 268 bioskop dan 1.391 layar yang dimilikinya untuk menangkap peningkatan kunjungan penonton dan mengubahnya menjadi pertumbuhan pendapatan yang berkelanjutan.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
CI
Ass. Redaktur

Citra Dara Vresti Trisna

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait