Makro 26 Jun 2026 Penulis: Hutama Prayoga Editor: Tim Editorial

Efisiensi Anggaran MBG Jadi ‘Vitamin’ Penguat Rupiah Hari ini

Pengamat mata uang, Ibrahim Assuaibi mengatakan penguatan rupiah hari ini merupakan respon positif pasar terhadap pemerintah yang mempertimbangkan efisiensi MBG

Kurs rupiah hari ini ditutup menguat ke Rp17.922 setelah pasar merespons positif pemotongan anggaran program Makan Bergizi Gratis (MBG) demi stabilitas fiskal

Mata uang rupiah (Foto: Dok. KabarBursa)
Mata uang rupiah (Foto: Dok. KabarBursa)

KABARBURSA.COM - Nilai tukar rupiah ditutup menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) sebesar 21 poin ke level Rp17.922 pada perdagangan Jumat, 26 Juni 2026.

Pengamat mata uang, Ibrahim Assuaibi mengatakan penguatan rupiah hari ini merupakan respon positif pasar terhadap pemerintah yang mempertimbangkan efisiensi dan pengurangan anggaran lebih lanjut untuk program unggulan Makan Bergizi Gratis (MBG) guna menjaga stabilitas fiskal.

"Anggaran Badan Gizi Nasional (BGN) pada APBN 2026 telah disesuaikan. Pagu anggaran MBG telah dipangkas dari rencana awal sebesar Rp335 triliun menjadi Rp268 triliun. Berdasarkan penyesuaian terbaru, alokasi tersebut dilaporkan kembali mengalami penajaman/pemotongan menjadi sekitar Rp228,38 triliun," ujar dia dalam keterangannya.

Ibrahim menyebut, pemotongan tersebut dilakukan untuk merespons risiko ekonomi global, menjaga defisit fiskal, serta memperbaiki tata kelola program.

Dari mancanegara, sentimen datang dari Timur Tengah. Ibrahim mengatakan, per Kamis, 25 Juni 2026, pengiriman minyak mentah melalui Selat Hormuz meningkat ke level tertinggi sejak konflik AS-Israel dengan Iran dimulai pada bulan Februari setelah kesepakatan gencatan senjata membuka kembali jalur air tersebut.

"Sementara kekhawatiran tentang berapa lama selat tersebut akan tetap terbuka juga meningkatkan perdagangan," jelas dia.

Namun, lanjut Ibrahim, lalu lintas secara keseluruhan tetap jauh lebih sedikit dibandingkan rata-rata harian 125 kapal yang melewati selat tersebut sebelum konflik 28 Februari dimulai. Sementara itu, gempa bumi di Venezuela yang terjadi pada hari Kamis juga meningkatkan kekhawatiran pasokan.

Sentimen juga datang dari Negeri Paman Sam. Biro Analisis Ekonomi AS melaporkan bahwa PCE inti naik menjadi 3,4 persen YoY pada bulan Mei dari 3,3 persen pada bulan April.

Secara bulanan, PCE inti tidak berubah di 0,3 persen. Inflasi PCE utama meningkat menjadi 4,1 persen YoY dari 3,8 persen. Ibrahim menuturkan, angka ini menandai angka tahunan tertinggi sejak April 2023 dan Oktober 2023.

Menurut catatan Ibrahim, alat CME FedWatch menyebut reaksi terhadap data PCE menunjukkan sedikit penurunan taruhan untuk kenaikan suku bunga Fed tahun ini dan sedikit peningkatan taruhan agar bank sentral mempertahankan suku bunga tetap stabil.

Sedangkan untuk perdagangan Senin pekan depan atau 29 Juni 2026, Ibrahim memprediksi mata uang rupiah akan bergerak fluktuatif namun ditutup melemah direntang  Rp17.920- Rp17.960.

"Sedangkan untuk sepekan ke depan rupiah direntang Rp17.880 - Rp18.100,' pungkasnya. (*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
HU
Ass. Redaktur

Hutama Prayoga

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait