Makro 11 Jul 2024 Penulis: Pramirvan Datu Editor: Tim Editorial

Efisiensi Sektor Logistik Melalui Investasi Teknologi

Efisiensi Sektor Logistik Melalui Investasi Teknologi
Efisiensi Sektor Logistik Melalui Investasi Teknologi

Daftar Isi

  1. 01 Biaya Logistik Mahal
  2. 02 Indeks Kinerja
  3. 03 Pembatasan Angkut Darat

KABARBURSA.COM - Menteri Perhubungan (Menhub) Budi Karya Sumadi menekankan pentingnya efisiensi sektor logistik melalui investasi teknologi untuk mendukung masa depan rantai pasok yang berkelanjutan.

"Yang terpenting adalah bagaimana kita lebih efisien, lebih kompak," kata Menhub dikutip Kamis Juli 2024.

Pemanfaatan teknologi seperti big data dan kecerdasan buatan diharapkan dapat berkontribusi terhadap efisiensi sektor logistik.

Selain efisiensi, Menhub juga mendorong pelaku usaha logistik dan forwarder untuk memperluas jaringan, baik di dalam maupun luar negeri.

Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Arsjad Rasjid, dalam kesempatan yang sama, menyatakan bahwa sektor logistik diharapkan dapat meningkatkan efisiensi untuk mendorong kontribusi yang lebih besar terhadap perekonomian nasional.

Ia juga menekankan pentingnya keberlanjutan untuk mendukung transisi energi menuju lingkungan yang lebih ramah.

"Ke depan, kami harus efisien dan akan tumbuh lebih dari lima persen saat ini. Salah satu kuncinya adalah logistik. Tanpa logistik yang baik dan efisien, ekonomi tidak bisa naik," ujarnya.

Pada 2023, sektor logistik Indonesia berkontribusi 5,5 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional dengan pertumbuhan tahunan mencapai tujuh persen.

Pertumbuhan ini didorong oleh peningkatan volume perdagangan, ekspansi infrastruktur, dan adopsi teknologi baru dalam manajemen rantai pasok.

Ketua Umum Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI), Akbar Djohan, menjelaskan bahwa investasi dalam teknologi hijau dan solusi logistik merupakan kebutuhan mendesak.

Penggunaan teknologi seperti kecerdasan buatan (AI) dan big data dalam manajemen rantai pasok menunjukkan efisiensi biaya operasional hingga 20 persen dan pengurangan emisi karbon hingga 15 persen.

Pasar pengangkutan (freight) dan logistik global diperkirakan tumbuh sebesar USD18,69 miliar pada 2026 dengan tingkat pertumbuhan tahunan rata-rata sebesar 4,4 persen.

Di Asia Pasifik, Mordor Intelligence memprediksi nilai pasar logistik dan forwarder mencapai USD3,55 triliun pada 2024 dan akan meningkat menjadi USD4,56 triliun pada 2029.

Pengangkutan logistik mencakup penjualan jasa oleh perusahaan yang mengangkut barang dan komoditas melalui darat, laut, dan udara, serta mencakup operator pergudangan, transportasi, pengiriman, hingga pengemasan.

Biaya Logistik Mahal

Presiden Jokowi menyoroti fakta bahwa biaya logistik di Indonesia masih sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan negara-negara lain. Beliau mengingatkan bahwa sepuluh tahun yang lalu, biaya logistik Indonesia mencapai 24 persen dari PDB, sementara negara lain sudah berada di kisaran 9 persen-12 persen.

“Saat ini, biaya logistik kita sudah turun sekitar 14 persen. Meskipun ada penurunan, namun tetap sedikit lebih tinggi dari negara lain. Hal ini merupakan tantangan bersama yang harus kita selesaikan,” kata Jokowi saat meresmikan Makassar New Port, dikutip dari Youtube.

Menanggapi hal ini, Ketua Umum Indonesian National Shipowners Association (INSA), Carmelita Hartoto, menekankan bahwa reformasi logistik harus dilakukan secara menyeluruh dan melibatkan berbagai sektor.

“Peningkatan efisiensi logistik membutuhkan pemerataan ekonomi dan peningkatan perdagangan di daerah, termasuk peningkatan performa pelabuhan, bandara, efisiensi jasa kepelabuhanan, dan hal lainnya,” ungkap Carmelita.

Indeks Kinerja 

Dia menambahkan bahwa Indeks Kinerja Logistik (LPI) Indonesia pada tahun 2023 menempati peringkat 63, menunjukkan penurunan dari peringkat 45 pada tahun 2018. Hal ini menandakan bahwa Indonesia masih tertinggal dibandingkan dengan negara-negara tetangga.

Oleh karena itu, ia meminta agar pemerintahan yang baru dapat memberikan perhatian khusus pada sektor transportasi dan logistik. “Kita berharap pemerintah yang baru dapat mengatasi gangguan operasional dalam transportasi, serta memastikan keselamatan dan keamanan di laut,” tambahnya.

Carmelita juga mengakui bahwa sektor logistik di Indonesia memiliki keunikan yang berbeda dengan negara lain. Konektivitas multimoda menjadi penting, di mana barang harus diangkut menggunakan minimal dua moda transportasi yang berbeda berdasarkan satu kontrak.

Data LPI tahun 2023 menunjukkan bahwa Indonesia meraih skor total 3,0 atau berada di peringkat 63. Angka ini menurun dibandingkan dengan LPI tahun 2018 yang mencapai skor 3,15 atau berada di peringkat 46. Di antara negara-negara ASEAN, peringkat LPI tahun 2023 tertinggi adalah Singapura (peringkat 7), diikuti oleh Malaysia (31), Thailand (37), Filipina (47), Vietnam (50), Indonesia (63), dan Kamboja (116).

Sementara itu, berdasarkan riset, Indonesia menjadi negara dengan biaya logistik tertinggi di Asia pada tahun 2019, mencapai 24 persen dari PDB. Diikuti oleh Vietnam (20 persen), Thailand (15 persen), Cina (14 persen), Malaysia (13 persen), Filipina (13 persen), India (13 persen), Taiwan (9 persen), Korea Selatan (9 persen), Singapura (8 persen), dan Jepang (8 persen).

Pembatasan Angkut Darat

Kementerian Perdagangan (Kemendag) meminta kepada Kementerian Perhubungan (Kemenhub) agar adanya relaksasi bagi pengangkutan logistik atau ekspor dan impor dari pembatasan angkutan darat pada saat hari besar keagamaan nasional (HBKN).

Menurut Isy, hal tersebut penting agar memastikan ketersediaan pasokan bahan pokok dalam negeri tetap tersedia utamanya saat HKBN Idul Fitri termasuk saat Natal dan tahun baru.

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
PR
Redaktur Pelaksana

Pramirvan Datu

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait