Makro 20 Feb 2026 Penulis: Citra Dara Vresti Trisna Editor: Moh. Alpin Pulungan

Ekonom: Ada Empat Risiko Global Tekan Ekonomi RI pada 2026

Ekonom Permata Bank menilai tensi geopolitik, perang dagang, divergensi suku bunga global, dan pelemahan China jadi risiko utama ekonomi Indonesia 2026.

Joshua Pardede sebut empat risiko global 2026, mulai geopolitik, perang dagang, divergensi suku bunga hingga pelemahan China.

Ilustrasi ekonomi Indonesia pada tahun 2026. Foto: dok KabarBursa.com.
Ilustrasi ekonomi Indonesia pada tahun 2026. Foto: dok KabarBursa.com.

KABARBURSA.COM – Ekonom Permata Bank Joshua Pardede mengungkapkan, ada beberapa risiko global yang masih membayangi ekonomi Indonesia pada tahun 2026. Menurutnya, risiko itu meliputi peningkatan tensi geopolitik, perang dagang, divergensi kebijakan suku bunga global dan pelambatan ekonomi China.

“Beberapa risiko tersebut masih berkaitan dengan tensi politik yang masih akan memberikan dampak sentimen di pasar keuangan domestik. Dan ini tentunya akan berpengaruh juga dalam jangka pendek,” kata Joshua dalam Media Briefing PIER Economic Review 2025, pada Jumat, 20 Februari 2026.

Risiko berikutnya, kata Joshua, adalah perang dagang yang sempat memanas beberapa waktu lalu. Menurutnya, meski Presiden Prabowo Subianto sedang berada di Amerika Serikat (AS) dan sedang dalam tahap negosiasi, perang dagang tetap mengancam.

Ia menjelaskan, angka perdagangan pada tahun lalu, khususnya ekspor Indonesia ke AS masih terdapat faktor front loading pada semester satu. Namun, pada semester berikutnya, kinerja ekspor Indonesia ke AS mulai normal.

“Artinya efek dari tarif resporokal itu sudah mulai taking place. Dan ini tentunya full impact-nya akan mulai terindikasi di tahun ini. Sehingga ini yang harus kita antisipasi,” ujarnya.

Pengaruh berikutnya, kata dia, adalah divergensi arah suku bunga kebijakan monitor global. Ia menjelaskan, bank sentral Inggris menunjukkan bahwa tanda-tanda untuk mulai mengerem penurunan sekubunganya. 

Sementara untuk bank sentral AS, ini masih memiliki ruang adanya pemangkasan sekubunga meskipun relatif lebih terbatas dibandingkan dengan tahun lalu.

“Namun, di sisi lainnya kalau kita lihat di bank sentral Jepang, tren kenaikan sekubunga masih terus berlanjut sampai dengan 2 tahun ke depan. Sehingga ini pun juga menunjukkan bahwa divergensi arah kebijakan sekubunga global ini memberikan dampak juga pada jangka pendek, namun juga jangka menengah panjang,” jelasnya.

Faktor berikutnya yang harus diwaspadai, adalah keberlanjutan pelemahan ekonomi Tiongkok secara konsisten. “Tentunya kita perlu harus antisipasi karena dampaknya ini akan cukup berpengaruh bukan hanya kepada perdagangan Indonesia, mengingat China merupakan mitra dewan utama Indonesia, namun juga kita perlu mengantisipasi dampaknya terhadap pelemahan investasi,” imbuhnya. (*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
CI
Ass. Redaktur

Citra Dara Vresti Trisna

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait