KABARBURSA.COM — Setelah berbulan-bulan dibayangi sentimen negatif, pasar keuangan mulai menunjukkan sinyal pemulihan. Nilai tukar rupiah menguat, tekanan terhadap pasar saham berangsur mereda, sementara harga minyak dunia yang sebelumnya menjadi ancaman serius kini bergerak turun. Di tengah perubahan situasi itu, ekonom senior INDEF yang juga Rektor Universitas Paramadina, Prof. Didik J. Rachbini, menilai kombinasi faktor global dan domestik mulai menciptakan ruang yang lebih nyaman bagi perekonomian Indonesia.
Didik menyoroti pernyataan Presiden ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang beberapa waktu lalu mengingatkan pentingnya disiplin fiskal. Menurutnya, pesan tersebut tetap relevan meski kondisi pasar kini menunjukkan perbaikan. “Alhamdulillah ada good news untuk kita semua,” kata Didik dalam keterangan tertulis kepada KabarBursa.com, Senin, 15 Juni 2026, malam.
Menurut Didik, membaiknya sentimen pasar tidak bisa dilepaskan dari perkembangan geopolitik global. Salah satu faktor paling menentukan adalah turunnya harga minyak dunia setelah muncul harapan penyelesaian konflik di Timur Tengah.
Ia menjelaskan sebelumnya harga minyak sempat melonjak tajam akibat ketegangan yang mengganggu jalur perdagangan energi dunia, terutama di Selat Hormuz. Kini situasi mulai berubah setelah muncul sinyal perdamaian yang membuat pasar energi kembali tenang. “Pasar minyak telah mendapat gangguan sangat serius sejak bulan Februari yang lalu, kini diperkirakan ada harapan untuk pulih dan kembali normal,” ujar Didik.
Meredanya tekanan eksternal tersebut memberi keuntungan bagi negara pengimpor minyak seperti Indonesia. Risiko lonjakan inflasi dan beban subsidi energi menjadi lebih terkendali, sehingga kekhawatiran pasar terhadap kondisi fiskal ikut menurun. Namun menurut Didik, faktor luar negeri bukan satu-satunya alasan. Dari sisi domestik, ia menilai kondisi fiskal pemerintah masih relatif terjaga meski terus menjadi sasaran kritik.
“Jika saya lihat dari laporan yang ada, dalam pandangan saya kondisi fiskal cukup baik dengan pendapatan dan pengeluaran masih dalam toleransi yang memadai,” katanya.
Ia mencatat defisit fiskal hingga Mei 2026 masih berada di kisaran 0,7 persen terhadap produk domestik bruto. Angka tersebut dinilai masih aman dan jauh dari batas maksimal defisit APBN yang selama ini menjadi perhatian pasar.
Pada saat yang sama, pendapatan negara menunjukkan tren positif. Hingga Mei 2026, penerimaan fiskal tercatat mencapai Rp1.185 triliun. Kenaikan terutama ditopang oleh penerimaan pajak yang tumbuh sekitar 22 persen secara tahunan, dengan kontribusi terbesar berasal dari lonjakan penerimaan pajak pertambahan nilai atau PPN.
Didik juga menilai implementasi sistem Coretax mulai memberikan dampak terhadap perbaikan administrasi perpajakan. “Saya kira ini ada faktor sukses Cortex, yang berperan dalam hal ini,” ujarnya.
Selain sektor pajak, penerimaan negara bukan pajak juga mengalami peningkatan signifikan, terutama dari sektor teknologi, informasi, dan komunikasi. Menurut Didik, perkembangan tersebut menjadi sinyal bahwa basis penerimaan negara mulai semakin beragam dan tidak semata bergantung pada komoditas.
Di sisi belanja, program prioritas pemerintahan Prabowo seperti ketahanan pangan dan Makan Bergizi Gratis atau MBG tetap menjadi perhatian pasar. Namun Didik melihat pemerintah mulai melakukan penyesuaian agar ruang fiskal tetap terjaga.
Ia menilai kritik terhadap program MBG telah direspons dengan pengurangan anggaran dan fokus yang lebih selektif, terutama untuk wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar atau 3T. “Saya kira pemerintah mendengar kritik tersebut dan sudah dikurangi,” katanya.
Karena realisasi MBG selama hampir satu semester baru mencapai Rp86,6 triliun, Didik memperkirakan kebutuhan anggaran hingga akhir tahun tidak akan sebesar kekhawatiran sebagian kalangan sebelumnya.
Meski optimistis terhadap arah perbaikan ekonomi, Didik mengingatkan pemerintah agar tidak terlena. Menurut dia, disiplin fiskal, perbaikan sistem perpajakan, penyelesaian persoalan restitusi, serta komunikasi kebijakan yang kredibel tetap menjadi syarat utama untuk menjaga kepercayaan pasar.
“Jika pasar melihat konsistensi kebijakan, tata kelola fiskal dan pemerintahan yang baik, dan komunikasi pemerintah yang kredibel, maka kepercayaan lambat laun akan pulih,” kata Didik.
Bagi Didik, pesan utama yang perlu dibaca dari kondisi saat ini bukan sekadar menguatnya rupiah atau naiknya indeks saham. Yang lebih penting adalah mulai munculnya keyakinan bahwa risiko fiskal Indonesia masih dapat dikelola, sementara tekanan global yang sempat menghantam perekonomian perlahan mulai mereda.(*)