KABARBURSA.COM - Kebijakan penyesuaian harga Pertamax menjadi Rp16.250 per liter dinilai menekan langsung daya beli kelompok masyarakat kelas menengah di dalam negeri.
Meskipun secara makro dampak langsungnya terhadap Indeks Harga Konsumen (IHK) diklaim minimalis, kebijakan ini berpotensi memicu inflasi laten yang menular lewat ekspektasi harga di pasar.
Ekonom dan Pakar Kebijakan Publik UPN Veteran Jakarta, Achmad Nur Hidayat menyebut, secara statistik, Pertamax dan Pertamax Green hanya menguasai sekitar tujuh persen pangsa pasar penjualan BBM domestik, sehingga tidak langsung menghantam armada logistik bahan pokok.
Namun, kebijakan yang berlaku sejak 10 Juni 2026 ini dijatuhkan saat kondisi konsumsi domestik sedang rapuh, di mana inflasi tahunan sektor pangan per Mei 2026 sudah bertengger di level 4,94 persen.
Achmad Nur Hidayat mengungkapkan bahwa klaim dampak terbatas dari kenaikan harga BBM non subsidi ini bisa menyesatkan jika mengabaikan beban riil rumah tangga perkotaan.
"Dampak inflasi langsungnya memang tidak sebesar kenaikan BBM subsidi, tetapi sifatnya laten. Ia tampak terbatas dalam tabel makro, tetapi terasa di dompet, dapur, dan perut kelas menengah," papar Achmad.
Menurutnya, kelompok kelas menengah diposisikan sebagai bantalan pertama yang menanggung beban kenaikan biaya mobilitas tanpa kompensasi jaringan pengaman sosial dari pemerintah.
Penurunan sisa pendapatan siap belanja (disposable income), kata dia, memaksa kelompok ini menahan belanja nonprimer, yang pada akhirnya dapat memperlambat laju pertumbuhan ekonomi nasional dari sisi konsumsi rumah tangga.
"Secara statistik, dampak langsung kenaikan Pertamax terhadap inflasi nasional mungkin terlihat terbatas. Pertamax bukan bahan bakar utama angkutan umum, bukan BBM utama truk logistik pangan, dan bukan komponen dominan dalam distribusi barang pokok. Namun, rumah tangga tidak hidup di dalam tabel statistik. Yang mereka rasakan adalah sisa uang setelah mengisi bensin, membeli beras, membayar listrik, membayar cicilan, dan memenuhi kebutuhan anak sekolah," tegas Achmad, Senin 15 Juni 2026.
Selain menghantam alokasi pengeluaran bulanan, menurut Achmad kenaikan Pertamax juga membawa risiko psikologis terhadap pembentukan harga barang lainnya.
Narasi kenaikan BBM, kata dia, berpotensi dimanfaatkan oleh pelaku pasar untuk melakukan penyesuaian harga secara sepihak di tingkat ritel.
"Tetapi pasar tidak selalu bergerak secara mekanis. Pedagang, pengemudi, pelaku jasa, dan konsumen sering tidak membedakan secara rinci antara Pertamax, Pertalite, Solar, Dexlite, atau Pertamina Dex. Yang mereka dengar adalah “BBM naik”. Narasi itu cukup kuat untuk membentuk ekspektasi harga," tutur Achmad.
Simulasi menunjukkan dampak putaran kedua (second-round effect) dari penularan ekspektasi ini dapat mengerek inflasi umum bertambah hingga 0,20 poin persentase dalam tiga bulan ke depan, sehingga mengganggu stabilitas daya beli masyarakat secara keseluruhan. (*)