Makro 30 Jan 2026 Penulis: KabarBursa.com Editor: Syahrianto

Ekonom Peringatkan Risiko Jadikan Dana Pensiun Penopang IHSG

Dorongan menaikkan porsi investasi dana pensiun ke pasar saham dinilai berisiko memindahkan gejolak IHSG ke dana publik.

Ekonom menilai penggunaan dana pensiun sebagai penopang IHSG berisiko memindahkan volatilitas pasar ke tabungan publik dan dana sosial.

Ekonom menilai penggunaan dana pensiun sebagai penopang IHSG berisiko memindahkan volatilitas pasar ke tabungan publik dan dana sosial. Foto: Dok. KabarBursa.com
Ekonom menilai penggunaan dana pensiun sebagai penopang IHSG berisiko memindahkan volatilitas pasar ke tabungan publik dan dana sosial. Foto: Dok. KabarBursa.com

KABARBURSA.COM- Ekonom dan Pakar Kebijakan Publik UPN Veteran Jakarta, Achmad Nur Hidayat, mengingatkan risiko kebijakan pemerintah yang mendorong peningkatan porsi investasi dana pensiun dan asuransi di pasar modal sebagai penyangga Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).

Presiden Prabowo Subianto melalui arahan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto sebelumnya mendorong kenaikan batas investasi dana pensiun dan asuransi di pasar modal dari 8 persen menjadi 20 persen, disertai agenda demutualisasi Bursa Efek Indonesia (BEI) serta kenaikan free float menjadi 15 persen pada 2026.

Achmad menilai kebijakan tersebut berpotensi memindahkan risiko pasar ke dana masyarakat yang seharusnya dilindungi.

“Menyelamatkan IHSG itu harus jelas, menyelamatkan siapa, dengan uang siapa, dan risiko akhirnya jatuh ke siapa,” kata Achmad dalam keterangannya, dikutip Jumat, 30 Januari 2026.

Menurutnya, dana pensiun dan asuransi bukan instrumen untuk menahan gejolak indeks. Fungsi utama dana tersebut adalah memastikan pembayaran manfaat pensiun dan klaim asuransi tetap aman dan tersedia saat dibutuhkan.

Ia menjelaskan, peningkatan porsi saham yang terlalu besar dapat meningkatkan risiko volatilitas aset. Jika terjadi koreksi tajam, nilai portofolio turun dan bisa menekan kemampuan bayar dana pensiun maupun perusahaan asuransi.

“Kalau pasar jatuh, yang terancam bukan spekulan, tapi tabungan masa tua dan perlindungan hidup masyarakat,” ujarnya.

Achmad juga mengingatkan potensi moral hazard jika pasar merasa selalu ada pembeli besar yang siap menopang IHSG. Kondisi itu bisa membuat pelaku pasar lebih spekulatif dan emiten menunda perbaikan tata kelola.

Selain itu, kebijakan tersebut dinilai dapat mengaburkan batas antara keputusan investasi profesional dan penugasan kebijakan. Tekanan untuk menjaga sentimen pasar berisiko menurunkan kualitas manajemen risiko lembaga pengelola dana publik.

Ia menilai solusi menjaga pasar seharusnya dilakukan dengan memperkuat fondasi, bukan menjadikan dana sosial sebagai penopang indeks.

“Stabilitas yang sehat lahir dari transparansi, penegakan hukum, tata kelola emiten, dan likuiditas yang kuat, bukan dari menjadikan dana pensiun sebagai pembeli terakhir,” tegasnya.
Achmad menambahkan, pasar modal yang sehat tetap memberi ruang dana pensiun dan asuransi berinvestasi di saham secara proporsional, tetapi bukan untuk menjalankan fungsi stabilisasi semu terhadap IHSG. (Nur Nadiyah)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
KA
KabarBursa.pro Editorial Team

KabarBursa.com

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait