Makro 17 Mar 2026 Penulis: Citra Dara Vresti Trisna Editor: Moh. Alpin Pulungan

Ekonom Soroti Risiko Kenaikan Harga Akibat Gangguan Pelayaran

Gangguan jalur pelayaran global akibat konflik geopolitik berisiko menaikkan biaya logistik, menekan industri, dan memicu kenaikan harga barang di Indonesia.

Gangguan pelayaran global akibat konflik geopolitik berisiko menaikkan biaya logistik, mengganggu pasokan, dan mendorong harga barang di Indonesia.

Ilustrasi kenaikan harga barang akibat gangguan jalur pelayaran global. Foto: dok KabarBursa.com
Ilustrasi kenaikan harga barang akibat gangguan jalur pelayaran global. Foto: dok KabarBursa.com

KABARBURSA.COM — Gangguan jalur pelayaran global akibat konflik geopolitik mulai memicu risiko kenaikan harga barang di Indonesia, seiring meningkatnya biaya angkut, premi asuransi, serta potensi keterlambatan pasokan.

Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede mengatakan, dampak gangguan tersebut dapat cepat merambat ke dalam negeri melalui jalur perdagangan dan aktivitas industri.

“Bila jalur pelayaran global terganggu akibat konflik, dampaknya ke Indonesia bisa cepat terasa pada perdagangan dan aktivitas industri melalui kenaikan biaya angkut, premi asuransi, serta keterlambatan pasokan,” ujar Josua kepada KabarBursa.com, Selasa, 17 Maret 2026.

Menurutnya, perkembangan terbaru menunjukkan sejumlah perusahaan pelayaran mulai menghindari kawasan Teluk Persia. Operasi pelabuhan utama di Dubai sempat ditangguhkan, sementara pelayaran minyak dan gas di Selat Hormuz dilaporkan tertahan.

Kondisi tersebut meningkatkan risiko keterlambatan distribusi serta mendorong kenaikan ongkos logistik, meskipun tidak ada penutupan jalur secara resmi.

“Pada kondisi seperti ini, industri dalam negeri berisiko menghadapi keterlambatan bahan baku, komponen, dan barang modal, sehingga biaya persediaan naik dan jadwal produksi terganggu, terutama bagi sektor yang mengandalkan pasokan tepat waktu,” kata Josua.

Ia menambahkan, pengalihan arus perdagangan ke jalur alternatif tidak serta-merta menyelesaikan persoalan.

“Bahkan jika sebagian arus dagang dialihkan, kapasitas jalur pengganti terbatas dan beban biaya cenderung menetap lebih lama, sehingga tekanan ke harga barang dan biaya produksi bisa bertahan,” ujarnya.

Tekanan tersebut juga diperkuat oleh kenaikan harga energi global. Pada perdagangan 17 Maret 2026, harga minyak Brent tercatat di kisaran USD102,78 per barel, sementara WTI berada di sekitar USD96,01 per barel.

Kenaikan harga minyak mendorong biaya operasional transportasi dan distribusi, yang kemudian berpotensi diteruskan ke harga barang di tingkat konsumen.

Sektor transportasi menjadi salah satu kanal utama transmisi tekanan tersebut ke inflasi. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan kelompok transportasi secara konsisten memberikan andil terhadap inflasi, terutama saat terjadi perubahan harga bahan bakar dan tarif angkutan.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
CI
Ass. Redaktur

Citra Dara Vresti Trisna

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait