Makro 16 Jun 2026 Penulis: Moh. Alpin Pulungan Editor: Syahrianto

Ekonomi China Mulai Pincang, Pabrik Ngebut tapi Dompet Warga Makin Kisut

Penjualan ritel China jatuh untuk pertama kali sejak 2022, sementara industri tumbuh di tengah lesunya konsumsi dan properti.

Penjualan ritel China turun untuk pertama kali sejak 2022 saat produksi industri naik. Konsumsi melemah, properti masih terpuruk.

Penjualan ritel China turun untuk pertama kali sejak 2022 saat produksi industri naik. Konsumsi melemah, properti masih terpuruk. Foto: Xinhua.
Penjualan ritel China turun untuk pertama kali sejak 2022 saat produksi industri naik. Konsumsi melemah, properti masih terpuruk. Foto: Xinhua.

KABARBURSA.COM — Mesin ekonomi China masih menyala, tetapi suaranya mulai terdengar sumbang. Di satu sisi, pabrik-pabrik terus berproduksi dan ekspor tetap bertahan. Di sisi lain, warga justru makin irit belanja, investasi merosot, dan sektor properti belum juga keluar dari kubangan krisis.

Data resmi yang dirilis Biro Statistik Nasional China menunjukkan penjualan ritel pada Mei turun 0,6 persen dibanding bulan sebelumnya. Angka itu berbalik arah dari kenaikan 0,2 persen pada April dan lebih buruk dari perkiraan ekonom yang memperkirakan pertumbuhan nol persen. Ini menjadi penurunan bulanan pertama sejak Desember 2022.

Kondisi tersebut memperlihatkan jurang yang makin lebar dalam ekonomi terbesar kedua dunia itu. Sektor manufaktur masih ditopang ekspor yang ternyata lebih tangguh dari perkiraan, sementara konsumsi domestik terus melemah akibat lesunya pasar properti yang sudah berlangsung bertahun-tahun.

Salah satu tanda paling jelas terlihat di industri otomotif. Penjualan mobil di dalam negeri kembali turun pada Mei 2026 dan memperpanjang tren negatif menjadi delapan bulan berturut-turut. Situasi itu menunjukkan permintaan masyarakat terus melemah di pasar otomotif terbesar dunia dan tekanan diperkirakan masih akan berlanjut hingga akhir tahun.

Belanja masyarakat selama libur Hari Buruh yang berlangsung lima hari pada Mei juga tidak terlalu menggembirakan. Efek program tukar tambah barang konsumsi yang digelontorkan pemerintah mulai kehilangan tenaga. Selain itu, tingginya basis perbandingan pada periode yang sama tahun lalu ikut memperburuk angka penjualan.

Jie’ao Feng, pengelola sebuah bar di kawasan finansial Shanghai, mengaku usahanya ikut terkena imbas. Anggaran hiburan perusahaan yang menyusut membuat jumlah pelanggan menurun. Berbagai promo kelompok sudah ditawarkan demi menarik pengunjung lebih banyak, tetapi langkah itu justru memangkas margin keuntungan.

Penayangan pertandingan Piala Dunia juga belum banyak membantu mendongkrak pemasukan. Jadwal pertandingan yang berlangsung larut malam hingga dini hari membuat jumlah pelanggan tetap sepi. Bahkan pada Juni, jumlah pengunjung tercatat lebih sedikit dibanding Mei yang sempat terdongkrak libur panjang.

“Konsumen tidak lagi seimpulsif dulu,” kata Feng, dikutip dari Reuters, Selasa, 16 Juni 2026.

Kepala Ekonom Pinpoint Asset Management, Zhiwei Zhang, menilai lemahnya data penjualan ritel akan menambah tekanan bagi pemerintah untuk segera mengambil langkah penyelamatan konsumsi. “Saya masih memperkirakan penyesuaian kebijakan akan dilakukan pada Juli setelah data produk domestik bruto kuartal kedua dirilis,” ujarnya.

Berbeda dengan konsumsi rumah tangga yang lesu, sektor industri justru menunjukkan performa lebih kuat. Produksi industri pada Mei tumbuh 4,5 persen dibanding periode yang sama tahun lalu. Angka itu lebih tinggi dari pertumbuhan 4,1 persen pada April dan melampaui ekspektasi pasar sebesar 4,3 persen.

Ledakan investasi global di bidang kecerdasan buatan atau AI serta meningkatnya permintaan teknologi membantu China mempertahankan laju manufakturnya. Produksi sektor manufaktur berteknologi tinggi bahkan melonjak 15,1 persen pada Mei.

Ekonom senior Economist Intelligence Unit, Xu Tianchen, menilai ekonomi China saat ini terbelah ke dalam beberapa kutub berbeda.

“Sejumlah kesenjangan mewarnai ekonomi pada Mei, yaitu kesenjangan antara permintaan domestik dan eksternal, kesenjangan antara AI dan industri tradisional, serta kesenjangan antara penjualan barang dan konsumsi jasa,” katanya.

Konsumsi jasa memang masih tumbuh 5,4 persen sepanjang Januari hingga Mei. Angka itu lebih baik dibanding penjualan barang dan mulai menjadi motor baru konsumsi rumah tangga. Namun laju pertumbuhannya juga melambat dibanding empat bulan pertama tahun ini yang mencapai 5,6 persen.

Xu memperkirakan pertumbuhan ekonomi China pada kuartal kedua akan melambat menjadi 4,5 persen dari 5 persen pada kuartal pertama. “Untuk sepanjang 2026, mencapai target pertumbuhan 4,5 hingga 5 persen tidak akan sulit. Namun lemahnya permintaan domestik tetap membutuhkan intervensi kebijakan pada paruh kedua tahun ini,” ujarnya.

Masalah lain datang dari sektor investasi yang hasilnya jauh lebih buruk dibanding perkiraan. Investasi aset tetap sepanjang lima bulan pertama 2026 anjlok 4,1 persen setelah sebelumnya turun 1,6 persen pada periode Januari hingga April. Padahal para ekonom hanya memperkirakan penurunan sebesar 2 persen.

Juru bicara Biro Statistik Nasional China, Fu Linghui, mengatakan pelemahan itu sebagian dipicu cuaca ekstrem berupa suhu tinggi dan hujan lebat di sejumlah wilayah. Selain itu, proses transisi dari mesin pertumbuhan lama ke mesin pertumbuhan baru juga ikut memengaruhi investasi.

Meski begitu, Fu menilai peluang investasi China masih sangat besar. Urbanisasi baru, revitalisasi pedesaan, pengembangan kekuatan produktif berkualitas baru, serta peningkatan layanan publik masih membutuhkan suntikan investasi besar.

Sementara itu, sektor properti tetap menjadi beban utama ekonomi. Investasi properti sepanjang Januari hingga Mei merosot 16,2 persen dibanding periode yang sama tahun lalu. Penurunan itu lebih dalam dibanding empat bulan pertama yang tercatat 13,7 persen. Penjualan properti dan pembangunan proyek baru juga turun semakin tajam.

Harga rumah baru pada Mei kembali melemah secara bulanan dengan laju yang sedikit lebih cepat. Meski demikian, beberapa kota besar mulai menunjukkan tanda-tanda stabilisasi.

Data pinjaman rumah tangga yang dirilis pekan lalu juga menunjukkan masyarakat masih enggan berutang untuk membeli rumah. Pertumbuhan pendapatan yang lambat dan ketidakpastian pekerjaan menjadi alasan utama.

Pasar tenaga kerja pun belum sepenuhnya pulih. Sekitar 12,7 juta lulusan baru akan memasuki pasar kerja pada musim panas tahun ini. Di saat bersamaan, kekhawatiran bahwa AI akan menggantikan sebagian pekerjaan turut meningkatkan kecemasan para pekerja. Meski demikian, tingkat pengangguran nasional turun tipis menjadi 5,1 persen dari 5,2 persen pada April.

Para ekonom menilai ekspor masih akan menjadi penyelamat pertumbuhan ekonomi China sepanjang tahun ini. Namun surplus perdagangan yang terus membengkak berpotensi memicu gesekan baru dengan negara-negara mitra dagang.

“Ledakan ekspor dapat membantu meredam lemahnya permintaan domestik dalam jangka pendek. Namun mengingat besarnya ekonomi China, pertumbuhan ekspor yang kuat kemungkinan akan menimbulkan ketegangan dengan mitra dagang,” kata Zhang.

Ia menambahkan, potensi konflik perdagangan dengan Eropa menjadi salah satu risiko yang patut diawasi dalam beberapa bulan mendatang.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
MO
Ass. Redaktur

Moh. Alpin Pulungan

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait