Makro 13 Sep 2025 Penulis: Yunila Wati Editor: Pramirvan Datu

Ekspektasi Rate Cut Naik: Harga Emas Dunia Dekati Rekor Tertinggi

Harga emas mendekati rekor tertinggi setelah data tenaga kerja AS melemah, memperkuat ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed dan dorongan aliran dana ke aset safe haven.

Harga emas naik dekat rekor, didorong data tenaga kerja AS melemah dan ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed, investor beralih ke aset safe haven.

Ilustrasi logam mulia. Foto: Pexels/Michael Steinberg.
Ilustrasi logam mulia. Foto: Pexels/Michael Steinberg.

KABARBURSA.COM - Harga emas dunia kembali menguat pada Jumat waktu setempat, 12 September 2025, menutup pekan ini nyaris di puncak rekor sepanjang masa. 

Spot gold naik 0,4 persen menjadi USD3.648,55 per ons pada sore perdagangan AS, hanya berjarak tipis dari rekor USD3.673,95 yang tercapai pada Selasa lalu. Sepanjang pekan, logam mulia ini sudah menambah 1,7 persen dan mencatat reli empat minggu beruntun, didukung kombinasi pelemahan pasar tenaga kerja AS serta ekspektasi pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve.

Sentimen utama yang menopang kenaikan emas datang dari data ekonomi AS yang melemah. Klaim pengangguran melonjak, laporan ketenagakerjaan nonfarm payrolls melambat, bahkan revisi data setahun terakhir menghapus lebih dari 900 ribu lapangan kerja dari catatan. Semua itu memperkuat pandangan bahwa momentum ekonomi sedang kehilangan tenaga. 

Di sisi lain, inflasi konsumen justru melonjak paling tajam dalam tujuh bulan terakhir. Namun pasar tampaknya lebih fokus pada pelemahan tenaga kerja dibandingkan inflasi yang masih lengket, sehingga peluang pemangkasan suku bunga oleh The Fed kian besar.

Kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Desember pun ditutup lebih tinggi di USD3.686,40 per ons. Pelaku pasar menilai harga emas akan terus diuntungkan karena penurunan suku bunga membuat logam mulia lebih menarik dibandingkan aset berbunga. 

UBS bahkan memproyeksikan harga emas bisa menembus USD3.900 per ons pada pertengahan tahun depan, seiring dengan aliran masuk yang kuat ke instrumen ETF berbasis emas.

Dukungan tambahan datang dari faktor geopolitik dan kebijakan. Presiden Donald Trump secara terbuka mendesak penurunan suku bunga dan bahkan dilaporkan berusaha menekan The Fed, menambah dimensi politik dalam kebijakan moneter. 

Sementara itu, Tiongkok melalui bank sentralnya mengajukan rencana pelonggaran aturan ekspor-impor emas, langkah yang bisa meningkatkan likuiditas perdagangan emas global.

Tidak hanya emas, logam mulia lain juga mencatat reli. Perak melesat 1,7 persen ke USD42,26 per ons, menembus level tertinggi dalam 14 tahun. Platinum naik 1,2 persen menjadi USD1.395,05, sementara paladium menguat 1,3 persen ke USD1.202,93. 

Semua logam utama ini menutup pekan dengan catatan positif, menegaskan tren kuat bahwa investor beralih ke aset safe haven di tengah ketidakpastian.

Dengan kenaikan hampir 40 persen sepanjang tahun ini, emas memperlihatkan bahwa daya tariknya sebagai lindung nilai terhadap inflasi, gejolak ekonomi, dan suku bunga rendah tetap solid. 

Pasar kini sepenuhnya menunggu keputusan The Fed pada 17 September mendatang, yang dipandang sebagai titik krusial dalam menentukan arah tren emas berikutnya.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
YU
Redaktur

Yunila Wati

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait