Makro 15 Feb 2026 Penulis: Moh. Alpin Pulungan Editor: Syahrianto

Ekspor Pertanian Naik Rp158 Triliun, Amran Klaim Efek Produksi dan Deregulasi

Ekspor pertanian naik Rp158,38 triliun pada 2025, Amran sebut deregulasi dan lonjakan produksi sebagai faktor utama, impor turun Rp34,08 triliun menurut data BPS.

Ekspor pertanian naik Rp158 triliun pada 2025. Amran menyebut deregulasi dan lonjakan produksi sebagai faktor utama, benarkah berdampak langsung?

Ekspor pertanian naik Rp158 triliun pada 2025. Amran menyebut deregulasi dan lonjakan produksi sebagai faktor utama, benarkah berdampak langsung? Foto: IG @a.amran.sulaiman
Ekspor pertanian naik Rp158 triliun pada 2025. Amran menyebut deregulasi dan lonjakan produksi sebagai faktor utama, benarkah berdampak langsung? Foto: IG @a.amran.sulaiman

Daftar Isi

  1. 01 Struktur Ekspor Masih Jadi PR

KABARBURSA.COM – Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman memamerkan lonjakan kinerja perdagangan sektor pertanian dalam forum Indonesia Economic Outlook 2026. Nilai ekspor disebut naik Rp158,38 triliun, sementara impor turun Rp34,08 triliun sepanjang 2025. Dua angka itu diposisikan sebagai buah dari deregulasi dan percepatan produksi pangan nasional.

“Ekspor kita naik Rp158 triliun sektor pertanian, tetapi impor kita turun Rp34 triliun,” kata Amran dalam paparannya di Wisma Danantara, Jakarta Selatan, Jumat, 13 Februari 2026.

Klaim tersebut muncul di tengah narasi besar pemerintah tentang swasembada pangan yang disebut tercapai lebih cepat dari target. Amran menekankan bahwa lonjakan itu bukan semata hasil tambahan anggaran, melainkan perubahan kebijakan yang membuat rantai produksi lebih ringkas. “Dengan deregulasi dan kebijakan kita ubah, impor pakan jagung nol pada 2025,” ujarnya.

Namun, di balik angka agregat yang impresif, muncul pertanyaan klasik dalam statistik perdagangan, apakah penurunan impor terjadi karena produksi domestik benar-benar melonjak atau karena kebijakan pembatasan masuknya barang dari luar?

Struktur Ekspor Masih Jadi PR

Data yang dipaparkan Amran tidak merinci komoditas penyumbang utama kenaikan ekspor. Dalam struktur perdagangan pertanian Indonesia selama ini, lonjakan nilai ekspor kerap ditopang oleh komoditas berbasis perkebunan seperti kelapa sawit, karet, kakao, dan turunannya, bukan pangan pokok.

Artinya, kenaikan Rp158 triliun belum tentu mencerminkan penguatan sektor pangan yang menjadi inti program swasembada. Amran sendiri menyinggung potensi hilirisasi komoditas sebagai mesin baru ekspor. Salah satunya kelapa yang disebut bisa melonjak nilainya hingga ratusan kali lipat jika diolah di dalam negeri.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman (kedua kanan) memaparkan data kinerja ekspor dan impor pertanian saat Indonesia Economic Outlook 2026 di Wisma Danantara, Jakarta Selatan, Jumat, 13 Februari 2026. Dalam paparannya, ekspor pertanian disebut naik Rp158,38 triliun atau 33,60 persen, sementara impor turun Rp34,08 triliun. Foto: Alpin Pulungan/KabarBursa

“Kelapa kita itu bisa naik 100 kali lipat kalau kita hilirisasi … itu ada pergeseran pangan di China, itu dari susu sapi, kambing, bergeser ke susu yang dari kelapa. Ini nilainya ini total itu bisa potensi 5.000 triliun,” katanya.

Pernyataan itu menunjukkan bahwa arah kebijakan tidak lagi berhenti di produksi bahan mentah, melainkan masuk ke industrialisasi pangan. Tapi hingga kini, hilirisasi tersebut masih berada pada tahap potensi, belum menjadi kontributor utama ekspor.

Penurunan impor Rp34 triliun juga perlu dibaca hati-hati. Dalam beberapa tahun terakhir, kebijakan pangan Indonesia sering menggunakan instrumen pengendalian impor untuk menjaga harga di tingkat petani. Langkah itu secara statistik memang menekan nilai impor, tetapi tidak selalu identik dengan peningkatan produksi.

Amran mengaitkan penurunan impor dengan lonjakan produksi domestik, terutama jagung pakan. “Pakan jagung itu nol impor tahun 2025,” ujarnya.

Jika klaim ini ditarik lebih jauh, maka dampaknya bukan hanya pada neraca perdagangan, tetapi juga pada industri peternakan yang selama ini bergantung pada jagung impor sebagai bahan baku utama. Tanpa pasokan yang stabil, harga pakan berpotensi berfluktuasi.

Dalam bagian lain paparannya, Amran menyebut perubahan posisi Indonesia dari importir besar menjadi produsen berdampak pada harga beras dunia.“Dulunya kita impor 7 juta ton… sekarang turun, sehingga harga beras dunia turun 44 persen,” katanya.

Pernyataan ini mengandung implikasi besar, Indonesia bukan sekadar pemain domestik, tetapi aktor yang memengaruhi pasar global. Namun, klaim tersebut masih membutuhkan pembacaan komprehensif karena harga komoditas dunia juga dipengaruhi faktor lain seperti produksi India, Vietnam, dan Thailand, serta kondisi iklim global.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
MO
Ass. Redaktur

Moh. Alpin Pulungan

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait