Makro 06 Sep 2025 Penulis: Syahrianto Editor: Yunila Wati

Emas Dekati Rekor USD3.600 saat Data Ketenagakerjaan Lemah

Harga emas mendekati rekor baru usai data jobs AS melemah, pasar perkirakan pemangkasan suku bunga The Fed bulan ini.

Harga emas mendekati rekor baru usai data jobs AS melemah, pasar perkirakan pemangkasan suku bunga The Fed bulan ini.

Ilustrasi: sebongkah emas batangan. (Foto: Pexels/Michael Steinberg)
Ilustrasi: sebongkah emas batangan. (Foto: Pexels/Michael Steinberg)

KABARBURSA.COM – Reli harga emas kembali berlanjut pada Jumat, dengan harga hanya terpaut beberapa sen dari level USD3.600 per ons, setelah data ketenagakerjaan AS yang lemah semakin meningkatkan ekspektasi pemangkasan suku bunga Federal Reserve.

Harga emas spot naik 1,4 persen ke USD3.596,55 per ons, setelah sempat menyentuh rekor USD3.599,89. 

Logam mulia ini berada di jalur untuk mencatat kenaikan mingguan terkuat dalam hampir empat bulan. Kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Desember ditutup naik 1,3 persen ke USD3.653,30.

Sejauh ini pada 2025, emas sudah melonjak 37 persen setelah naik 27 persen pada 2024. 

Kenaikan ini dipicu oleh pelemahan dolar AS, pembelian bank sentral, kebijakan moneter yang melunak, serta ketidakpastian geopolitik dan ekonomi global.

Data menunjukkan pertumbuhan lapangan kerja AS melemah tajam pada Agustus, dengan tingkat pengangguran naik ke 4,3 persen. 

Kondisi ini memperkuat ekspektasi pasar bahwa The Fed akan memangkas suku bunga, dengan peluang 90 persen untuk pemangkasan 25 basis poin dan 10 persen untuk pemangkasan 50 basis poin bulan ini.

“Emas mencetak rekor baru; pelaku pasar melihat tren pelemahan lapangan kerja jelas berpotensi diterjemahkan ke dalam beberapa kali pemangkasan suku bunga,” kata Tai Wong, trader logam independen.

Ia menambahkan, prospek emas jelas bullish karena kekhawatiran pasar tenaga kerja kini lebih dominan dibanding inflasi dalam jangka pendek hingga menengah, meski menurutnya level USD4.000 masih terlalu jauh tanpa guncangan besar.

Analis juga menyoroti independensi The Fed sebagai faktor penting bagi arah harga emas, setelah Presiden AS Donald Trump mencoba memecat Gubernur Fed Lisa Cook dan terus menekan bank sentral untuk memangkas suku bunga.

Emas, yang tidak memberikan imbal hasil, biasanya bersinar ketika suku bunga rendah dan ketidakpastian meningkat, menjadikannya aset lindung nilai bagi investor.

China dan India sebagai konsumen emas terbesar mencatat penurunan permintaan fisik pekan ini akibat harga yang mencetak rekor tinggi. 

Data cadangan emas bank sentral China untuk Agustus yang akan dirilis Minggu diperkirakan belum mencerminkan lonjakan harga September, namun tetap menjadi perhatian untuk melihat dampak harga tinggi terhadap permintaan bank sentral.

Di antara logam mulia lainnya, perak spot naik 0,8 persen ke USD40,98 per ons dan menuju kenaikan mingguan ketiga beruntun. Platinum naik 0,5 persen ke USD1.373,92, sementara paladium turun 1,5 persen ke USD1.110,32. (*)

 

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
SY
Ass. Redaktur

Syahrianto

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait