Makro 01 Mar 2026 Penulis: Yunila Wati Editor: Pramirvan Datu

Emas Menuju USD6.000 di Tengah Bara Selat Hormuz

Eskalasi Israel–Iran dan risiko penutupan Selat Hormuz dorong proyeksi emas ke USD6.000, ditopang sentimen suku bunga The Fed dan tekanan rupiah.

Konflik Timur Tengah dan risiko Selat Hormuz dorong emas dibidik USD6.000. Suku bunga The Fed dan rupiah jadi faktor penentu.

Tidak hanya emas global yang diprediksi akan mencapai level USD6.000, harga emas domestik pun diperkirakan akan menembus Rp3,5 juta per gram. (Foto: Dok KabarBursa)
Tidak hanya emas global yang diprediksi akan mencapai level USD6.000, harga emas domestik pun diperkirakan akan menembus Rp3,5 juta per gram. (Foto: Dok KabarBursa)

Daftar Isi

  1. 01 Dari Kebijakan Moneter hingga Federal Reserve
  2. 02 Emas Domestik Diprediksi Mencapai Rp3,5 Juta per Gram

KABARBURSA.COM – Harga emas dunia memasuki fase volatilitas tinggi seiring meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah, termasuk eskalasi konflik Israel–Iran dan risiko gangguan di jalur strategis Selat Hormuz. 

Seperti diketahui, kombinasi faktor geopolitik, arah kebijakan moneter Amerika Serikat, serta dinamika perang dagang mendorong penguatan permintaan terhadap aset lindung nilai.

Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, mengumumkan peluncuran serangan pre-emptif terhadap Iran. Perkembangan tersebut meningkatkan persepsi risiko global, terutama karena kawasan Teluk merupakan pusat distribusi energi dunia. 

Ketegangan di sekitar Selat Hormuz, yang mengalirkan sekitar 20 persen pasokan minyak global, memperbesar potensi lonjakan harga energi dan tekanan inflasi internasional. Kondisi ini secara historis berkorelasi dengan penguatan harga emas sebagai instrumen safe haven.

Analis komoditas Ibrahim Assuaibi, menyatakan eskalasi perang yang melibatkan Israel, Iran, serta kepentingan Amerika Serikat meningkatkan ketidakpastian global dan mendorong arus dana ke logam mulia. 

Ia menyebut harga emas berpotensi menembus USD6.000 per troy ounce pada Maret apabila konflik terus berlanjut. Pada fase awal, ia memproyeksikan kemungkinan lonjakan harga ke area USD5.500 per troy ounce sebagai respons terhadap sentimen geopolitik.

Dari Kebijakan Moneter hingga Federal Reserve

Kenaikan harga emas dalam skenario tersebut tidak hanya dipengaruhi faktor konflik, tetapi juga dinamika kebijakan moneter. Arah suku bunga Federal Reserve menjadi variabel penting dalam pembentukan tren harga logam mulia. 

Peluang penurunan suku bunga pada 2026 dinilai masih terbuka, terutama jika terjadi perubahan kepemimpinan bank sentral Amerika Serikat setelah berakhirnya masa jabatan Jerome Powell. Nama Kevin Warsh disebut sebagai salah satu kandidat yang berpotensi mendorong pelonggaran moneter lebih agresif.

Secara historis, penurunan suku bunga dan pelemahan dolar Amerika Serikat meningkatkan daya tarik emas karena biaya peluang memegang aset non-yielding menjadi lebih rendah. Likuiditas yang lebih longgar juga berkontribusi terhadap penguatan harga komoditas berbasis dolar. 

Dalam kondisi geopolitik yang tidak stabil dan ekspektasi pelonggaran moneter, kombinasi tersebut memperkuat momentum kenaikan emas di pasar global.

Ketegangan perang dagang turut menjadi sentimen tambahan. Rencana penerapan tarif impor sebesar 15 persen oleh Amerika Serikat terhadap mitra dagang berpotensi memicu tekanan baru pada perdagangan internasional. 

Ketidakpastian kebijakan perdagangan dan potensi gangguan rantai pasok global memperbesar minat investor terhadap aset lindung nilai, termasuk emas.

Emas Domestik Diprediksi Mencapai Rp3,5 Juta per Gram

Dari sisi domestik, pergerakan harga emas juga dipengaruhi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat. Dalam skenario pelemahan rupiah mendekati Rp17.000 per dolar AS, harga emas batangan berpotensi mengalami kenaikan lebih tinggi secara nominal. 

Proyeksi harga logam mulia di pasar dalam negeri disebut dapat mencapai Rp3.500.000 per gram apabila harga global menembus level tinggi dan nilai tukar terdepresiasi.

Secara keseluruhan, dinamika harga emas pada Maret ditentukan oleh perkembangan konflik di Timur Tengah, stabilitas jalur energi seperti Selat Hormuz, arah kebijakan suku bunga Federal Reserve, serta kebijakan perdagangan Amerika Serikat. 

Interaksi faktor-faktor tersebut membentuk sentimen risiko global yang tercermin pada pergerakan logam mulia sebagai instrumen lindung nilai di tengah ketidakpastian pasar keuangan internasional.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
YU
Redaktur

Yunila Wati

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait