Makro 06 Oct 2025 Penulis: Desty Luthfiani Editor: Uslimin Usle

Emas Perhiasan Jadi Penyumbang Utama Inflasi September, Naik Selama 25 Bulan Berturut-turut

Harga emas terus menunjukkan tren kenaikan yang konsisten 25 bulan atau selama lebih dari dua tahun terakhir

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa komoditas emas perhiasan kembali menjadi penyumbang utama inflasi nasional pada September 2025.

Ilustrasi emas perhiasan. Foto: Dok KabarBursa.com
Ilustrasi emas perhiasan. Foto: Dok KabarBursa.com

Daftar Isi

  1. 01 Komponen Harga Sigaret Kretek

KABARBURSA.COM – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa komoditas emas perhiasan kembali menjadi penyumbang utama inflasi nasional pada September 2025. 

Kepala BPS RI, Amalia Adininggar Widyasanti, dalam rapat Pengendalian Inflasi Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) yang digelar secara daring melalui kanal YouTube Kemendagri, menjelaskan bahwa harga emas terus menunjukkan tren kenaikan yang konsisten 25 bulan atau selama lebih dari dua tahun terakhir.

“Emas perhiasan menjadi salah satu komoditas utama penyumbang inflasi bulan September dengan inflasi sebesar 1,24 persen secara bulanan,” ujar Amalia dalam paparannya, Senin, 6 Oktober 2025.

Amalia menjelaskan bahwa inflasi emas perhiasan pada September 2025 merupakan yang tertinggi dalam lima bulan terakhir. 

Secara month-to-month, emas perhiasan memberikan andil inflasi sebesar 0,08 persen terhadap total inflasi nasional bulan September. Jika ditelusuri lebih jauh, harga emas perhiasan telah mengalami kenaikan selama 25 bulan berturut-turut sejak September 2023, menandakan tekanan harga yang berkelanjutan di pasar logam mulia domestik.

Berdasarkan data BPS, kontribusi emas perhiasan terhadap kelompok pengeluaran perawatan pribadi dan jasa lainnya mencapai 9,59 persen dari total inflasi bulan September. Kondisi ini menunjukkan bahwa emas tidak hanya berperan sebagai instrumen investasi, tetapi juga mulai berdampak signifikan terhadap pengeluaran rumah tangga.

Lebih lanjut, Amalia memaparkan bahwa inflasi secara keseluruhan pada September 2025 didorong oleh kenaikan harga pada tiga komponen utama, yaitu inflasi inti, harga yang diatur pemerintah, dan harga bergejolak. 

“Komponen inti mencatat inflasi sebesar 0,18 persen dengan andil 0,11 persen. Penyumbang terbesar berasal dari emas perhiasan, disusul biaya kuliah karena bertepatan dengan masa pembayaran semester,” ujarnya.

Komponen Harga Sigaret  Kretek

Sementara itu, komponen harga yang diatur pemerintah mengalami inflasi 0,06 persen secara bulanan. Kenaikan ini terutama disebabkan oleh naiknya harga sigaret kretek mesin dan sigaret kretek tangan. Untuk komponen harga bergejolak, BPS mencatat inflasi sebesar 0,52 persen month-to-month dengan andil terhadap inflasi nasional sebesar 0,09 persen. Kenaikan harga pada kelompok ini banyak dipicu oleh komoditas cabai merah, daging ayam ras, dan cabai hijau yang mengalami fluktuasi harga di berbagai daerah.

Dalam kesempatan yang sama, Amalia juga menyinggung perkembangan Indeks Perkembangan Harga (IPH) hingga minggu pertama Oktober 2025. 

Menurutnya, sejumlah kabupaten dan kota mulai menunjukkan pergerakan harga yang bervariasi, terutama untuk bahan pangan bergejolak. “Kami mencatat beberapa daerah mengalami peningkatan IPH, khususnya akibat pergerakan harga cabai dan komoditas hortikultura lainnya,” jelasnya.

Tren kenaikan harga emas perhiasan yang konsisten dalam dua tahun terakhir dinilai turut merefleksikan kondisi global, di mana harga emas dunia juga menembus rekor tertinggi sepanjang sejarah pada kuartal ketiga 2025. Dalam konteks domestik, tekanan inflasi emas dapat menjadi tantangan bagi pengendalian inflasi inti, terutama jika harga global terus bergerak naik.

Dengan inflasi emas perhiasan yang belum menunjukkan tanda-tanda melandai, perhatian kini tertuju pada bagaimana tren ini akan berlanjut menjelang akhir tahun. Apalagi, permintaan emas di pasar domestik biasanya meningkat menjelang musim liburan dan perayaan akhir tahun, yang berpotensi memperkuat tekanan harga pada kuartal keempat 2025.

Berdasarkan data Trading Economics, harga emas di pasar spot tercatat pada level USD 3.926,44 per ons pada hari ini naik 1,03 persen atau setara 39,89 poin dibandingkan penutupan sebelumnya. 

Kenaikan harga emas global ini memperkuat tren bullish yang telah terbentuk sejak September lalu, di tengah meningkatnya ekspektasi pemangkasan suku bunga lanjutan oleh The Federal Reserve dan melemahnya dolar AS. Ketidakpastian geopolitik serta arus investasi ke aset aman juga menjadi pendorong utama reli emas.

Sejalan dengan kenaikan tersebut, harga emas batangan PT Aneka Tambang Tbk (Antam) ikut terkerek naik pada perdagangan hari ini. Berdasarkan data logam mulia Antam yang diperbarui pukul 08.30 WIB, harga dasar emas ukuran 1 gram mencapai Rp 2.250.000, sedangkan harga jual termasuk pajak PPh 0,25 persen berada di Rp 2.255.625 per gram.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
DE
Jurnalis

Desty Luthfiani

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait