Makro 23 Jun 2026 Penulis: Harun Rasyid Editor: Syahrianto

FER Jabar 2026, Cirebon Petakan 10 Kawasan Wisata demi Tumbuhkan Ekonomi

Cirebon memetakan 10 kawasan wisata berbasis budaya, sejarah, dan akulturasi untuk mendorong ekonomi daerah.

Pemkot Cirebon memetakan 10 kawasan wisata unggulan berbasis budaya, keraton, Kota Tua, dan akulturasi demi mendongkrak ekonomi.

Pemkot Cirebon memetakan 10 kawasan wisata unggulan berbasis budaya, keraton, Kota Tua, dan akulturasi demi mendongkrak ekonomi. Foto: Dpl.
Pemkot Cirebon memetakan 10 kawasan wisata unggulan berbasis budaya, keraton, Kota Tua, dan akulturasi demi mendongkrak ekonomi. Foto: Dpl.

KABARBURSA.COM – Kota Cirebon di Jawa Barat memiliki kekayaan budaya yang kuat. Aspek ini dinilai jadi salah satu modal dalam pengembangan wisata dan ekonomi daerah.

Dalam upaya tersebut, Pemerintah Kota Cirebon telah memetakan kawasan wisata unggulan yang merepresentasikan kekayaan sejarah, warisan budaya, hingga jejak akulturasi lintas peradaban.

Kepala Badan Perencanaan Pembangunan, Penelitian, dan Pengembangan Daerah (Bappelitbangda) Kota Cirebon, Agus Herdhyana mengatakan, Cirebon memiliki karakter budaya yang unik dan bahkan memiliki kemiripan dengan Yogyakarta dari sisi keberadaan pusat-pusat kerajaan yang masih bertahan hingga saat ini.

"Kota Cirebon ini memiliki kekhasan yang hampir sama dengan Jogja. Jadi kalau di Jogja itu kan ada satu keraton dengan satu Pakualaman. Kalau di Cirebon itu kita ada empat keraton yaitu Kasepuhan, Kanoman, Kacirebonan, dan Kaprabonan. Itu kekayaan kita," kata Agus dalam Forum Ekonomi Regional Jawa Barat (FER Jabar) 2026 di Aula Tampomas Sumedang, Selasa 23 Juni 2026.

Menurut Agus, kekayaan budaya Cirebon tidak hanya berasal dari keberadaan empat keraton tersebut. Kota ini juga memiliki kawasan yang terhubung dengan peninggalan era kolonial. Sehingga menciptakan perpaduan sejarah yang khas dari daerah lain di Indonesia.

"Di sisi lain juga, kita memiliki heritage yang terhubung dengan area kolonial. Jadi perpaduan yang memang sangat khas dari Kota Cirebon," ujarnya.

Untuk memperkuat pengembangan sektor pariwisata, Pemerintah Kota Cirebon memetakan kawasan-kawasan wisata yang memiliki nilai sejarah, budaya, dan ekonomi.

"Nah satu hal yang kemungkinan kita coba kemas melalui Dinas Pendidikan dan Pariwisata kita adalah kita mulai memetakan kawasan wisata yang ada di Kota Cirebon. Kita memiliki 10 peta kawasan wisata. Salah satunya adalah kawasan keraton," kata Agus.

Salah satu kawasan yang dinilai menarik adalah Kaprabonan yang berada di dekat area Pecinan. Kawasan ini dinilai sebagai representasi kuatnya akulturasi budaya yang menjadi ciri khas Kota Cirebon sejak masa lampau.

Menurut Agus, identitas Cirebon terbentuk dari pertemuan berbagai budaya besar, mulai dari Jawa, Sunda, Arab, hingga Tiongkok. Jejak perpaduan tersebut masih terlihat jelas pada bangunan dan ornamen yang terdapat di lingkungan keraton.

"Karena Kota Cirebon ini ada akulturasi antara budaya Jawa, Sunda, Arab, dan Tiongkok. Jadi kalau kita berkunjung ke Keraton Kasepuhan maka di situ ada yang khas, termasuk dari budaya Tiongkok," ujarnya.

Selain kawasan keraton, Kota Cirebon juga mengembangkan kawasan Kota Tua yang menyimpan sejumlah bangunan bersejarah peninggalan masa kolonial.

Salah satunya adalah bekas pabrik rokok British-American Tobacco (BAT) yang menjadi bagian dari peradaban kota.

Di kawasan tersebut, pemerintah juga membangun Taman Pedati Gede yang mengangkat simbol penting dalam sejarah Cirebon. Agus mengatakan taman tersebut memiliki replika Pedati Gede berukuran asli sebagai bagian dari upaya memperkuat identitas lokal.

"Kemudian juga yang kita kemas ada kawasan Kota Tua. Salah satu kawasan yang terkenal ada pabrik rokok British-American Tobacco (BAT). Ini berada di tengah-tengah Cirebon. Dan juga di tempat itu kita bangun Taman Pedati Gede," katanya.

Seluruh kawasan wisata tersebut saling terhubung dan menjadi bagian dari konsep pengembangan destinasi terpadu yang menghubungkan kawasan keraton, Pecinan, Kota Tua, hingga titik-titik bersejarah lainnya.

Tak hanya itu, Cirebon juga mengangkat konsep poros imajiner yang disebut memiliki kemiripan dengan Yogyakarta.

Jika Yogyakarta dikenal dengan garis imajiner yang menghubungkan Keraton, Tugu, dan kawasan selatan, Cirebon memiliki poros imajiner yang menghubungkan keraton dengan Jalan Karanggetas hingga kawasan makam Sunan Gunung Jati.

"Di Cirebon ada garis imajiner antara keraton yang ada di Cirebon kemudian masuk ke Jalan Karanggetas, Silwangi, dan ujungnya adalah wilayah kabupaten di Pemakaman Sunan Gunung Jati," jelas Agus.

Melalui pemetaan 10 kawasan wisata tersebut, Kota Cirebon dapat menawarkan perpaduan unik antara warisan kerajaan, sejarah kolonial, kawasan religius, serta akulturasi budaya yang dapat menarik kunjungan wisatawan lokal maupun mencanegara.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
HA
Jurnalis

Harun Rasyid

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait