KABARBURSA.COM — Lembaga Human Initiative tengah merancang strategi ekspansi pasar digital guna mendongkrak daya saing Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Jawa Barat. Bekerja sama dengan pendiri Bukalapak, lembaga non-pemerintah (NGO) ini mengintegrasikan ekosistem digital retail market berbasis jaringan afiliator (referral market) demi memperluas jangkauan produk lokal secara masif.
Dalam Forum Ekonomi Regional Jawa Barat 2026 di Aula Tampomas, Sumedang, Selasa, 23 Juni 2026, Vice President of Worldwide Partnership & National Development Human Initiative, Bambang Suherman, menjelaskan bahwa strategi taktis ini bertujuan untuk memecah kebuntuan tiga masalah klasik yang mengimpit UMKM domestik, yakni keterbatasan modal, rendahnya kualitas produk, dan minimnya ketersediaan akses pasar.
"Jika skema penjualan masih mengandalkan diri sendiri, tenaga yang kita butuhkan terlalu besar untuk memunculkan produk di beranda ponsel konsumen. Kami mengubah pola itu melalui kolaborasi platform transaksi digital yang menggerakkan 10.000 afiliator untuk menjual produk UMKM," kata Bambang.
Bambang mengatakan disrupsi teknologi telah meruntuhkan dominasi jaringan ritel raksasa konvensional. Momentum tumbangnya toko-toko ritel besar ini dimanfaatkan oleh anak muda untuk memacu penetrasi platform digital baru sebagai offtaker produk pemberdayaan masyarakat.
Selain merombak sistem pemasaran, Human Initiative juga mengintervensi standarisasi produk. Pelaku usaha didorong untuk beralih dari sekadar memproduksi kemasan oleh-oleh yang eksklusif namun berbiaya tinggi, menuju pemenuhan sertifikasi komoditas ekspor.
Bambang mencontohkan keberhasilan program pertanian berbasis teknologi greenhouse "Desa Tani" di Lembang, Jawa Barat. Lewat intervensi teknologi mikro iklim (micro climate), lahan pertanian melonjak dari 1,2 hektare menjadi 10 hektare yang digarap oleh 75 petani.
"Hasilnya, efisiensi produksi melesat dari 76 persen menjadi 97 persen hasil produktif. Pendapatan rata-rata petani melonjak drastis dari Rp1,5 juta menjadi Rp7,5 juta per bulan karena produk hortikultura mereka langsung menembus sektor Horeka (Hotel, Restoran, Kafe) dan pasar ekspor," beber Bambang.
Mengenai permodalan, Bambang menilai ketersediaan likuiditas dari lembaga keuangan seperti Bank BJB akan terbuka dengan sendirinya apabila kualitas produk UMKM sudah mapan dan terserap oleh pasar digital.
Guna mempercepat proses agregasi tersebut, Human Initiative tengah mengonsolidasikan sejumlah lembaga dari Sabang sampai Merauke untuk membentuk sebuah konsorsium nasional. Jaringan ini diproyeksikan menjadi wadah bank produk unggulan yang mampu menciptakan lapangan kerja baru, di luar sektor formal dan pabrikan.
"Kami sudah beraudiensi dengan Menteri Ketenagakerjaan. Sektor formal memosisikan pekerja sebagai objek, sedangkan UMKM adalah subjek mandiri. Akhir Juli 2026 nanti, kami mengumpulkan 100 local champion pemilik UMKM se-Indonesia untuk mengkonsolidasikan volume produksi," jelasnya.
Langkah ini memastikan produk lokal, termasuk kain batik khas Sumedang, tidak lagi berdiri sendiri melainkan masuk ke dalam ekosistem jaringan produksi yang terstandarisasi. "Biar bagaimanapun, produk berkualitas tinggi tidak akan muncul sebagai produk unggul jika tidak sesuai dengan preferensi pasar digital," kata Bambang.(*)