KABARBURSA.COM – Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Indonesia mendorong pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Sumedang dan Jawa Barat untuk mempercepat transformasi digital untuk meningkatkan daya saing dan memperluas akses pasar hingga ke tingkat global.
Komite Tetap Korwil I Jawa Barat pada Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Indonesia, Zoelkifli M Adam, menilai digitalisasi menjadi salah satu faktor penting yang dapat membantu UMKM naik kelas di tengah perubahan pola bisnis dan perilaku konsumen yang semakin bergeser ke platform digital.
Menurut pengalamannya sebagai pelaku usaha, pemanfaatan teknologi digital mampu menciptakan perubahan signifikan terhadap perkembangan bisnis, mulai dari pemasaran hingga perluasan jaringan pelanggan.
“Saya sebagai pelaku usaha dari perusahaan kecil, dari properti sampai dunia pendidikan. Saya tahu persis bagaimana kemajuan teknologi digitalisasi itu membawa usaha saya mengalami perubahan yang luar biasa,” kata Zoelkifli dalam Forum Ekonomi Regional Jawa Barat (FER Jabar) 2026 di Aula Tampomas, Sumedang, Selasa 23 Juni 2026.
Ia mengatakan, pelaku UMKM daerah-daerah di Jawa Barat memiliki potensi ekonomi yang besar. Namun, potensi tersebut perlu didukung kolaborasi yang kuat antara pemerintah, dunia usaha, dan pelaku UMKM agar mampu memberikan dampak lebih luas terhadap pertumbuhan ekonomi daerah.
Menurut Zoelkifli, KADIN berperan menjembatani produk-produk unggulan daerah agar memiliki nilai tambah melalui penguatan pemasaran dan pemanfaatan teknologi digital.
"Nah, apa peran yang dilakukan oleh Kadin? Yang tadi bicara marketingnya, kemudian tadi dari digitalisasi, itu lah yang bisa mendongkrak penjualan," ujarnya.
Ia menambahkan, KADIN Jawa Barat terus membangun sinergi dengan pemerintah daerah serta komunitas UMKM untuk meningkatkan daya beli masyarakat sekaligus memperkuat kapasitas usaha pelaku UMKM.
"Yang menjadi harapan kami, KADIN Sumedang hingga KADIN Jawa Barat bersama dengan pemerintah, dan juga bersama dengan pelaku UMKM untuk berkolaborasi meningkatkan daya beli masyarakat," kata Zoelkifli.
Lebih lanjut, ia menilai tantangan terbesar yang masih dihadapi banyak UMKM bukan terletak pada kualitas produk, tapi dari kemampuan memasarkan produk secara efektif.
Zoelkifli menilai, banyak pelaku usaha memiliki produk bernilai jual menarik namun belum memahami strategi pemasaran digital yang sesuai dengan perkembangan pasar saat ini.
"Para pelaku UMKM di Jawa Barat ini punya produk bagus tapi kemudian cara penjualannya bagaimana? Sehingga karena tidak memahami cara penjualannya seperti apa. Kalau begitu akan sulit bisa naik kelas," ujarnya.
Karena itu, KADIN mendorong peningkatan literasi digital melalui pelatihan dan pendampingan yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah daerah hingga institusi pendidikan.
Zoelkifli menegaskan, upaya mencetak UMKM yang lebih kompetitif membutuhkan dukungan bersama agar pelaku usaha mampu memanfaatkan teknologi digital untuk mengembangkan bisnisnya.
"Yang kita dorong itu adalah bagaimana UMKM ini supaya naik kelas. Apa yang harus dilakukan? Yaitu adalah proses pembelajaran digitalisasi, itu sangat penting sekali," tuturnya.
Ia mengajak berbagai lembaga pemerintah seperti dinas tenaga kerja, dinas pendidikan, dan dinas yang membidangi UMKM untuk memperkuat kolaborasi dengan KADIN dalam meningkatkan kemampuan digital para pelaku usaha.
"Kita ada lembaga-lembaga, ada Dinas Ketenagakerjaan, ada Dinas Pendidikan, ada Dinas bidang UMKM. Yuk bersama-sama dengan KADIN untuk melatih para UMKM ini supaya bisa mempelajari dan melek teknologi, sehingga produk yang dihasilkan bisa dijual," kata Zoelkifli.
KADIN juga mendorong legalitas yang sah untuk menunjang keberlangsungan bisnis UMKM dalam ranah digital.(*)