Makro 26 Apr 2026 Penulis: Moh. Alpin Pulungan Editor: Syahrianto

Fondasi Bisnis Vale (INCO) Mulai Tertekan Meski Ditutupi Klaim Naiknya Laba

Produksi stagnan, harga nikel turun, laba operasional melemah, sementara belanja modal melonjak dan menekan arus kas.

Meski laba naik, kinerja inti INCO tertekan. Produksi stagnan, harga nikel turun, dan arus kas menyusut akibat lonjakan capex.

Area pertambangan nikel PT Vale Indonesia Tbk (INCO) di Luwu Timur, Sulawesi Selatan. Aktivitas tambang dan pembukaan lahan terlihat di tengah kawasan hutan. Foto: Walhi Sulsel.
Area pertambangan nikel PT Vale Indonesia Tbk (INCO) di Luwu Timur, Sulawesi Selatan. Aktivitas tambang dan pembukaan lahan terlihat di tengah kawasan hutan. Foto: Walhi Sulsel.

KABARBURSA.COM – PT Vale Indonesia Tbk (INCO) menutup 2025 dengan kinerja yang secara kasat mata terlihat solid. Hal itu bisa dilihat antara lain dari produksi yang meningkat, pendapatan yang tumbuh, dan laba bersih melonjak signifikan. Namun, jika ditelusuri lebih dalam, sejumlah indikator justru mulai menunjukkan tekanan yang tidak bisa diabaikan.

Sepanjang 2025, INCO mencatat produksi nikel dalam matte sebesar 72.027 ton, naik tipis dibandingkan 71.311 ton pada tahun sebelumnya. Kenaikan ini menjadi dasar bagi perusahaan untuk menyebut kinerja operasional tetap terjaga.

Namun, gambaran tersebut mulai berubah jika melihat tren di akhir tahun. Pada kuartal keempat, produksi hanya mencapai 17.052 ton, turun sekitar 12 persen dibandingkan kuartal sebelumnya yang mencapai 19.391 ton.  

Penurunan ini terjadi seiring dimulainya pembangunan kembali Furnace 3 yang menurut perusahaan diperlukan untuk menjaga kapasitas produksi ke depan. Meski bersifat strategis, kondisi ini tetap mencerminkan bahwa stabilitas produksi tidak sepenuhnya terjaga sepanjang tahun.

Di sisi lain, tekanan juga datang dari harga. Sepanjang 2025, harga realisasi rata-rata nikel turun menjadi USD12.157 per ton dari USD13.086 per ton pada 2024. Penurunan sekitar 7 persen ini menunjukkan bahwa pasar nikel global masih berada dalam tekanan di tengah kondisi kelebihan pasokan.

Menariknya, di tengah penurunan harga tersebut, kinerja keuangan justru bergerak berlawanan arah. INCO mencatat laba bersih sebesar USD76,1 juta, meningkat 32 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Kenaikan ini tidak sepenuhnya berasal dari ekspansi produksi, melainkan dari faktor lain seperti peningkatan payability nikel matte dan efisiensi biaya.

“Meskipun berada dalam lingkungan harga yang lebih lemah, peningkatan tingkat payability nikel matte… serta volume pengiriman yang lebih tinggi, mendorong kenaikan total pendapatan Perseroan,” tulis manajemen INCO dalam keterbukaan informasi yang dikutip Ahad, 26 April 2026.

Di titik ini, kualitas pertumbuhan mulai menjadi pertanyaan. Ketika produksi hanya naik tipis dan harga justru turun, kenaikan laba yang signifikan menunjukkan bahwa sumber pertumbuhan tidak sepenuhnya berasal dari kekuatan bisnis inti.

Hal ini semakin terlihat dari kinerja operasional. Laba usaha tercatat turun dari USD63,8 juta pada 2024 menjadi USD41,4 juta pada 2025. Penurunan ini mengindikasikan bahwa tekanan pada bisnis inti sebenarnya sudah mulai terjadi, meskipun tertutup oleh faktor non-operasional dalam laporan laba bersih.

Sementara itu, tekanan dari sisi keuangan juga mulai terlihat melalui arus kas. Sepanjang 2025, INCO membukukan arus kas operasi sebesar USD234,7 juta. Namun, kebutuhan investasi melonjak jauh lebih besar, dengan belanja modal mencapai USD485,9 juta.  

Akibatnya, arus kas bersih dari aktivitas investasi tercatat negatif USD495,2 juta, mencerminkan kebutuhan dana yang besar untuk ekspansi. Kondisi ini berdampak langsung pada posisi kas perusahaan yang turun dari USD674,6 juta menjadi USD376,3 juta di akhir tahun.

Di satu sisi, belanja besar ini mencerminkan agresivitas perusahaan dalam membangun fondasi pertumbuhan jangka panjang. Namun di sisi lain, tekanan likuiditas menjadi konsekuensi yang tidak bisa dihindari. Tahun 2025 juga diwarnai sejumlah gangguan operasional. Salah satunya adalah insiden kebocoran pipa minyak pada Agustus yang diakui perusahaan sebagai salah satu ujian terberat.

“Tahun ini juga menghadirkan salah satu ujian terberat bagi Perseroan, yaitu insiden kebocoran pipa minyak,” tulis manajemen.

Pernyataan ini menunjukkan bahwa tantangan yang dihadapi tidak hanya berasal dari pasar, tetapi juga dari sisi operasional. Secara keseluruhan, kinerja INCO pada 2025 memang menunjukkan ketahanan di tengah tekanan global. Namun di balik itu, mulai terlihat perubahan struktur yang lebih dalam.

Produksi yang tidak tumbuh signifikan, harga yang melemah, laba operasional yang menurun, serta tekanan arus kas menjadi sinyal bahwa fase berikutnya tidak akan semudah sebelumnya. Dalam konteks ini, kinerja 2025 bisa dibaca sebagai titik transisi. Bukan lagi sekadar fase pertumbuhan stabil, melainkan awal dari periode yang lebih kompleks, di mana efisiensi, disiplin biaya, dan keberhasilan proyek ekspansi akan menjadi penentu utama arah ke depan.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
MO
Ass. Redaktur

Moh. Alpin Pulungan

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait