Makro 02 Jul 2025 Penulis: Yunila Wati Editor: Pramirvan Datu

Franc Swiss Melesat, Dolar AS Tumbang: Apa Implikasinya?

Franc Swiss curi perhatian saat Dolar AS melemah. Apakah ini sinyal pergeseran arus dana global menuju mata uang safe haven baru?

Dolar AS melemah, Franc Swiss menguat 13,26 persen. Investor global mulai alihkan aset ke mata uang defensif. Rupiah stabil di tengah gejolak global.

Ilustrasi mata uang Franc Swiss. (Foto: Wise)
Ilustrasi mata uang Franc Swiss. (Foto: Wise)

Daftar Isi

  1. 01 Franc Swiss, Bukan Lagi Mata Uang Pendiam
  2. 02 Rupiah Tak Ramai, tapi Tetap Stabil
  3. 03 Yen Masih Favorit, Namun Bukan Satu-satunya

KABARBURSA.COM - Di tengah pasar keuangan global yang bergejolak, Dolar Amerika Serikat (AS) kini berada di bawah tekanan serius. 

Indeks Dolar (DXY) yang mencerminkan kekuatan mata uang Negeri Paman Sam terhadap enam mata uang utama dunia tercatat anjlok 7,35 persen dalam setahun terakhir. Bahkan menyentuh level terendah dalam tiga tahun terakhir.

Namun di sisi lain, mata uang yang selama ini cenderung bergerak diam-diam justru mencuri perhatian. Franc Swiss (CHF) mencatatkan penguatan paling tajam dibandingkan mata uang utama lainnya. Dalam periode yang sama, nilai tukarnya terhadap Dolar melonjak 13,26 persen.

Apakah ini pertanda bahwa pasar global sedang mencari "tempat aman" baru di luar Dolar AS?

Franc Swiss, Bukan Lagi Mata Uang Pendiam

Bagi investor global, Swiss selama ini dikenal sebagai negara dengan profil risiko sangat rendah, yaitu netral secara politik, inflasi terjaga, dan punya reputasi tinggi dalam pengelolaan keuangan. Namun Franc Swiss tak pernah benar-benar jadi sorotan utama karena kalah populer dari Yen Jepang dan emas sebagai safe haven.

Situasi kini berubah. Dalam risetnya, Head of Research Kiwoom Sekuritas Liza Camelia Suryanati melihat, saat pasar mulai meragukan ketahanan ekonomi AS dan sinyal resesi makin jelas, investor global mulai mengalihkan aset ke mata uang yang lebih defensif. Franc Swiss pun menjadi magnet baru.

“Yen Jepang juga mengalami penguatan signifikan, naik lebih dari 10,5 persen terhadap Dolar. Namun penguatannya lebih banyak didorong oleh unwinding posisi carry trade, sebuah strategi lama yang meminjam dana dalam Yen berbunga rendah untuk diinvestasikan di aset lain,” tulis riset tersebut, dikutip Rabu, 2 Juli 2025. 

Ketika risiko meningkat, investor cenderung menutup posisi dan kembali memegang Yen, sehingga mendorong nilainya naik.

Rupiah Tak Ramai, tapi Tetap Stabil

Di tengah volatilitas global, kinerja rupiah nyatanya tidak seburuk yang dibayangkan. Sepanjang satu tahun terakhir, rupiah hanya melemah tipis 0,18 persen terhadap Dolar AS. Ini nyaris setara dengan Dolar Kanada (CAD) yang juga mencatat penurunan 0,15 persen di tengah tekanan dari ketidakpastian kebijakan perdagangan AS pasca kebijakan tarif ala Trump jilid dua.

Rupiah bahkan terlihat lebih stabil dibanding Dolar Australia (AUD), yang justru tertekan lebih dari 2,8 persen akibat perlambatan ekonomi China dan turunnya harga komoditas utama.

Sementara itu, Dolar Singapura (SGD) mencatat penguatan lebih dari 5 persen, cerminan ketahanan ekonomi kawasan dan reputasi Singapura sebagai pusat keuangan Asia Tenggara.

Di tengah lanskap seperti ini, kinerja Rupiah tergolong defensif. Bank Indonesia terlihat cukup aktif menjaga kestabilan nilai tukar melalui intervensi di pasar valas, sembari mengelola ekspektasi inflasi dan arus modal asing. Hasilnya tak mencolok, tapi jelas membuahkan hasil.

Yen Masih Favorit, Namun Bukan Satu-satunya

Jika dilihat lebih dalam, hubungan negatif paling jelas terhadap Dolar terlihat pada Yen Jepang. Saat Dolar melemah, Yen justru menguat. Korelasi ini memperkuat asumsi bahwa investor global masih menjadikan Yen sebagai acuan utama dalam kondisi penuh ketidakpastian, meski kini Franc Swiss mulai merebut perhatian.

Di sisi lain, mata uang utama seperti Euro dan Poundsterling juga ikut menguat masing-masing 8,5 persen dan 6,6 persen. Tapi penguatan ini lebih karena pasar melihat kebijakan suku bunga Eropa dan Inggris mungkin akan tetap tinggi lebih lama ketimbang AS, yang mulai mengarah pada pelonggaran.

Apa Implikasinya?

Pergerakan pasar valas selama satu tahun terakhir mengindikasikan bahwa investor mulai melakukan rotasi strategi, dari mencari imbal hasil tinggi ke arah perlindungan nilai. Dan dalam konteks ini, Franc Swiss tak lagi jadi pilihan alternatif, tapi mulai menjadi arus utama.

Bagi Indonesia, kestabilan rupiah di tengah dinamika global menunjukkan kebijakan yang terjaga dengan baik. Memang, rupiah bukan mata uang kuat secara struktural, tapi bukan berarti tak mampu bertahan. 

Dalam dunia yang semakin tidak pasti, kadang kekuatan sejati justru ada pada yang bisa tetap berdiri diam, tak terlalu kuat, tapi cukup solid untuk dipercaya.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
YU
Redaktur

Yunila Wati

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait