Makro 06 Sep 2025 Penulis: Syahrianto Editor: Yunila Wati

FTSE 100 Melemah, Saham Energi dan Bank Tekan Pasar

FTSE 100 melemah terseret saham energi dan bank, investor menanti data ekonomi Inggris dan AS serta isu pajak dan anggaran Inggris.

FTSE 100 melemah terseret saham energi dan bank, investor menanti data ekonomi Inggris dan AS serta isu pajak dan anggaran Inggris.

Ilustrasi: Indeks pasar saham Eropa Stoxx 600 di sebuah gedung. (Foto: AI untuk KabarBursa)
Ilustrasi: Indeks pasar saham Eropa Stoxx 600 di sebuah gedung. (Foto: AI untuk KabarBursa)

KABARBURSA.COM – Indeks saham utama Inggris, FTSE 100, ditutup lebih rendah pada Jumat, terseret oleh pelemahan saham energi dan perbankan, sementara investor mencermati data ekonomi domestik dan AS.

Indeks blue-chip FTSE 100 turun 0,1 persen dalam sehari, meski masih mencatat kenaikan tipis secara mingguan. 

Sementara itu, FTSE 250 yang berfokus pada pasar domestik naik 0,5 persen, tetapi mencatat penurunan mingguan kedua berturut-turut.

Indeks homebuilders menguat, dipimpin saham Berkeley yang naik 3 persen setelah mengonfirmasi proyeksi laba untuk tahun fiskal 2026 dan 2027. Saham Vistry, Persimmon, Taylor Wimpey, dan Barratt Redrow juga ikut menguat.

Saham penambang logam mulia dan industri turut naik mengikuti kenaikan harga emas dan tembaga. Sebaliknya, saham energi jatuh 2,4 persen dan membebani FTSE 100, dengan Shell turun 2,2 persen dan BP melemah 2,6 persen.

Saham perbankan besar juga melemah, dengan HSBC, NatWest, Barclays, dan Lloyds menjadi salah satu penekan utama indeks acuan. 

Saham perusahaan asuransi non-jiwa juga turun, terseret penurunan 2,9 persen pada Admiral Group, yang menjadi penurunan terbesar di FTSE 100 setelah Peel Hunt memangkas rekomendasi sahamnya menjadi “jual” dari “kurangi”.

Di sisi lain, saham Entain naik 3,3 persen dan menjadi penguat utama FTSE 100 setelah Jefferies menaikkan target harga perusahaan taruhan tersebut. 

Namun, saham Ashmore anjlok 4,3 persen setelah manajer aset itu melaporkan pendapatan biaya lebih rendah dari perkiraan serta laba yang turun dalam laporan tahunannya.

Kekhawatiran terhadap kondisi keuangan Inggris dan kemampuan pemerintah mengendalikannya menekan pasar awal pekan ini, sempat mendorong imbal hasil obligasi pemerintah bertenor panjang ke level tertinggi 27 tahun. 

Investor terus berspekulasi soal potensi kenaikan pajak yang bisa menahan pertumbuhan ekonomi, sementara Inggris dijadwalkan menyampaikan anggaran negara pada 26 November.

Dari sisi data, penjualan ritel Inggris pada Juli tercatat naik lebih tinggi dari perkiraan. 

Di AS, data menunjukkan pertumbuhan lapangan kerja melemah tajam pada Agustus dengan tingkat pengangguran naik menjadi 4,3 persen, menegaskan pelemahan pasar tenaga kerja dan memperkuat alasan bagi The Fed untuk memangkas suku bunga bulan ini.

Sementara itu, Wakil Perdana Menteri Inggris Angela Rayner mengundurkan diri setelah menyatakan penyesalan atas kesalahannya dalam pembayaran pajak properti pada rumah barunya. (*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
SY
Ass. Redaktur

Syahrianto

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait