Makro 23 May 2026 Penulis: Pramirvan Datu Editor: Uslimin Usle

Gas Mahal dan Perizinan Berbelit Jadi Beban Industri Tekstil

Problem klasik yang tak kunjung tuntas, mulai dari birokrasi perizinan yang dinilai berbelit, proses AMDAL yang memakan waktu panjang

Wakil Ketua Komisi VII DPR RI, Evita Nursanty, menegaskan bahwa persoalan daya saing industri tekstil nasional

Gas Mahal dan Perizinan Berbelit Jadi Beban Industri Tekstil
Gas Mahal dan Perizinan Berbelit Jadi Beban Industri Tekstil

KABARBURSA.COM - Wakil Ketua Komisi VII DPR RI, Evita Nursanty, menegaskan bahwa persoalan daya saing industri tekstil nasional tidak semata-mata berkutat pada ketersediaan sumber daya manusia terampil. Lebih dari itu, sektor industri masih dibayangi beragam hambatan struktural yang membuat iklim usaha belum sepenuhnya kondusif.

Dalam agenda kunjungan tersebut, Komisi VII DPR RI juga menerima berbagai aspirasi serta keluhan dari pelaku industri tekstil. Evita mengungkapkan, persoalan yang disampaikan mayoritas masih berkutat pada problem klasik yang tak kunjung tuntas, mulai dari birokrasi perizinan yang dinilai berbelit, proses AMDAL yang memakan waktu panjang, hingga tingginya biaya energi serta distribusi gas industri yang belum merata.

“Dari kalangan industri sendiri kita mendengar begitu banyak harapan. Namun tantangannya masih sama. Ke mana pun kami pergi yang berkaitan dengan sektor industri, keluhannya tetap itu-itu saja, terutama soal perizinan yang rumit,” ujar Evita dalam keterangannya dikutip di Jakarta, Sabtu 23 Mei 2026.

Ia menilai proses perizinan yang panjang dan tidak efisien berpotensi menjadi batu sandungan bagi arus investasi. Menurutnya, meskipun pemerintah telah mendorong sistem perizinan terintegrasi, implementasi di lapangan masih belum sepenuhnya berjalan efektif karena pelaku usaha tetap harus melewati banyak tahapan administratif.

“Kalau prosesnya tetap rumit dan membutuhkan waktu panjang, investor tentu bisa memilih hengkang. Ini menjadi tantangan besar bagi kita untuk segera melakukan pembenahan,” tegas politisi Fraksi PDI-Perjuangan tersebut.

Selain persoalan birokrasi, Evita turut menyoroti tingginya biaya energi yang hingga kini masih menjadi beban laten bagi industri tekstil nasional. Tarif listrik dan harga gas yang mahal, kata dia, menjadi faktor yang cukup memengaruhi daya saing industri di tengah ketatnya persaingan global.

Ia bahkan mengungkap adanya keluhan terkait disparitas harga gas antara perusahaan yang berada di kawasan industri dan perusahaan di luar kawasan industri.

“Masalahnya masih sama, mulai dari tarif listrik tinggi, harga gas mahal, sampai distribusi gas yang belum merata. Bahkan ada perusahaan di kawasan industri yang justru membayar harga gas lebih mahal dibanding perusahaan di luar kawasan industri,” ungkapnya.

Evita juga menekankan pentingnya sinkronisasi regulasi antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Menurut dia, disharmoni aturan kerap memunculkan kebingungan di kalangan pelaku industri sehingga harmonisasi kebijakan menjadi kebutuhan mendesak agar dunia usaha memiliki kepastian dalam bergerak.

“Di pusat aturannya A, tetapi di daerah bisa menjadi B. Teman-teman industri akhirnya kebingungan. Seharusnya ada sinkronisasi dan harmonisasi regulasi antara pusat dan daerah,” jelasnya.

Ia memastikan berbagai temuan dalam kunjungan kerja tersebut akan menjadi bahan evaluasi dan pembahasan Komisi VII DPR RI bersama pemerintah, terutama dengan Kementerian Perindustrian.

Evita berharap pembenahan pendidikan vokasi, reformasi regulasi, serta penguatan iklim investasi dapat berjalan simultan demi meningkatkan daya saing industri tekstil nasional di tengah dinamika ekonomi global.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
PR
Redaktur Pelaksana

Pramirvan Datu

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait