KABARBURSA.COM — Musim panas bahkan belum resmi dimulai, tapi sebagian besar kota besar di Asia sudah lebih dulu dipanggang. Dari China sampai India, suhu naik di atas normal dan bikin jutaan orang bereaksi dengan cara paling manusiawi sekaligus paling boros listrik, yakni dengan menyalakan AC tanpa ampun.
Masalahnya, ketika satu rumah menyalakan pendingin udara mungkin terasa biasa saja. Tapi ketika ratusan juta rumah melakukan hal yang sama secara bersamaan, jaringan listrik mulai megap-megap.
Pengamat energi dari Reuters sekaligus kolumnis transisi energi global, Gavin Maguire, melihat gelombang panas yang datang lebih cepat ini bukan cuma soal cuaca buruk. Efeknya bisa menjalar sampai pasar energi global.
Suhu di banyak wilayah China, Jepang, Korea Selatan, India, dan Asia Tenggara kini berada jauh di atas rata-rata historis. Data LSEG menunjukkan kondisi panas itu kemungkinan bertahan beberapa minggu ke depan. Akibatnya mudah ditebak. Konsumsi listrik naik brutal karena AC bekerja nyaris tanpa jeda.
“Gelombang panas berkepanjangan kemungkinan besar akan memicu penggunaan pendingin udara secara kolektif, yang pada akhirnya memberikan tekanan tambahan pada pembangkit listrik,” tulis Maguire, dikutip dari risetnya di laman Reuters, Kamis, 28 Mei 2026.
Di atas kertas, Asia memang sedang rajin bicara energi hijau. Panel surya dipasang di mana-mana, turbin angin terus bertambah, dan konferensi transisi energi makin ramai. Tapi begitu suhu mulai seperti neraka tropis, kenyataan lama muncul lagi. Batu bara dan gas tetap jadi penyelamat utama.
Lebih dari separuh listrik Asia sampai hari ini masih berasal dari pembangkit berbahan bakar fosil. Pembangkit batu bara sendiri menyumbang sekitar 52 persen pasokan listrik Asia sepanjang 2025. Dengan kata lain, ketika AC warga Asia mulai meraung serempak, yang paling sibuk justru cerobong asap.
“Pembangkit batu bara akan tetap menjadi tulang punggung sistem kelistrikan kawasan ini untuk masa yang masih panjang,” tulis Maguire.
Di Korea Selatan, suhu rata-rata sejak pertengahan Mei tercatat sekitar 13 persen di atas normal. Otoritas meteorologi setempat bahkan mulai mengeluarkan peringatan panas ekstrem.
Shanghai tak jauh berbeda. Tokyo juga mulai kepanasan lebih cepat dari biasanya. Sementara di India, sejumlah wilayah sudah mencatat suhu di atas 40 derajat Celsius. Warga akhirnya berbondong-bondong mencari perlindungan ke ruangan ber-AC.
Ironisnya, dunia saat ini sedang terobsesi membangun pusat data AI yang rakus listrik. Tapi menurut Maguire, ledakan penggunaan pendingin udara justru bisa lebih membebani jaringan listrik global dibanding demam data center.
“Lonjakan kebutuhan pendingin ruangan bisa jadi memberikan tekanan yang lebih besar terhadap jaringan listrik global dibanding ledakan pusat data,” katanya.
Masalah makin rumit karena kondisi geopolitik juga sedang kacau. Perang Amerika Serikat dan Israel melawan Iran sudah mengguncang pasar energi dunia. Jalur pelayaran di Selat Hormuz ikut terganggu, membuat distribusi energi makin sensitif.
Artinya, ketika utilitas Asia mulai berburu batu bara dan gas tambahan demi menjaga listrik tetap hidup, harga energi global bisa kembali melonjak.
Permintaan impor batu bara diperkirakan meningkat menjelang puncak musim panas. Gas alam cair atau LNG juga kemungkinan bakal kembali diburu negara-negara Asia yang tak punya banyak pilihan sumber energi.
Singkatnya, Asia sedang masuk jebakan klasik. Semakin panas cuacanya, semakin besar konsumsi listriknya. Semakin besar konsumsi listriknya, semakin besar pula ketergantungan pada batu bara dan gas.
Jadi di tengah slogan transisi energi dan seminar net zero yang terus dipoles rapi, realitasnya tetap sederhana. Saat warga mulai gerah dan AC dinyalakan massal, batu bara lagi-lagi dipanggil jadi pahlawan dadakan.(*)