Makro 23 Apr 2026 Penulis: Moh. Alpin Pulungan Editor: Syahrianto

Goldman Sachs Proyeksikan Tembaga Stabil di 2026 Meski Terdampak Hormuz

Goldman Sachs tetap proyeksikan harga tembaga stabil dan surplus 2026, meski ada risiko gangguan pasokan dari Selat Hormuz.

Goldman Sachs proyeksikan tembaga stabil di 2026 dengan surplus, meski risiko pasokan muncul akibat gangguan jalur Hormuz.

Goldman Sachs proyeksikan tembaga stabil di 2026 dengan surplus, meski risiko pasokan muncul akibat gangguan jalur Hormuz. Foto: Dok. Xinhua
Goldman Sachs proyeksikan tembaga stabil di 2026 dengan surplus, meski risiko pasokan muncul akibat gangguan jalur Hormuz. Foto: Dok. Xinhua

KABARBURSA.COM — Ketegangan geopolitik di Timur Tengah terus merembet ke pasar komoditas. Goldman Sachs memperingatkan potensi gangguan pasokan tembaga global jika jalur distribusi di Selat Hormuz terus terganggu.

Dilansir dari Reuters, Kamis, 23 April 2026, bank investasi tersebut masih mempertahankan proyeksi harga tembaga tahun ini di kisaran USD12.650 per metrik ton (Rp213,79 juta per ton). Di sisi lain, pasar diperkirakan akan mengalami surplus sekitar 490.000 ton pada 2026.

Namun, di balik proyeksi tersebut, ada risiko yang mulai muncul dari sisi pasokan. Gangguan distribusi global berpotensi memicu kelangkaan asam sulfat, bahan penting dalam proses produksi tembaga.

Asam sulfat dan sulfur menjadi komponen utama dalam proses ekstraksi dan pemurnian tembaga yang menyumbang sekitar 17 persen dari total pasokan global. Jika distribusinya terganggu, produksi bisa ikut tertekan.

Goldman Sachs menilai risiko ini semakin besar setelah China memutuskan menghentikan ekspor asam sulfat mulai 1 Mei. Kebijakan tersebut, jika berlanjut, berpotensi memperketat pasar bahan baku tembaga secara global.

Gangguan ini paling terasa di negara produsen utama seperti Republik Demokratik Kongo dan Chile. Kedua negara tersebut sangat bergantung pada pasokan sulfur untuk menjaga produksi tetap stabil.

Di tengah kondisi ini, stok bahan baku di beberapa wilayah masih terbatas. Perusahaan di Kongo, misalnya, diperkirakan hanya memiliki cadangan untuk dua hingga tiga bulan.

Jika gangguan rantai pasok berlanjut hingga pertengahan tahun, produksi tembaga di negara tersebut berpotensi berkurang hingga sekitar 125.000 ton pada 2026.

Namun, Goldman Sachs juga melihat kemungkinan penurunan permintaan global yang bisa menyeimbangkan dampak tersebut. Dalam skenario terburuk, pelemahan ekonomi global diperkirakan menekan permintaan tembaga hingga sekitar 140.000 ton.

Di sisi lain, Chile juga menghadapi tekanan serupa. Kebijakan larangan ekspor asam sulfat dari China berpotensi mengganggu produksi sekitar 200.000 ton tembaga, setara dengan sekitar 1 persen pasokan global.

Situasi ini memperlihatkan bahwa pasar tembaga tidak hanya dipengaruhi oleh permintaan dan harga, tetapi juga sangat sensitif terhadap gangguan rantai pasok bahan baku yang bergantung pada stabilitas geopolitik.

Dengan kondisi tersebut, proyeksi surplus tembaga global bisa berubah sewaktu-waktu jika gangguan distribusi terus berlanjut.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
MO
Ass. Redaktur

Moh. Alpin Pulungan

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait