Makro 29 Jan 2026 Penulis: Syahrianto Editor: Yunila Wati

Goldman Sachs: RI Bisa Kehilangan Dana Asing Rp217 Triliun

Dana pasif yang mengikuti indeks MSCI bisa memicu penjualan saham Indonesia hingga miliaran dolar AS.

Goldman Sachs memperkirakan Indonesia berisiko kehilangan dana asing hingga Rp217 triliun jika terjadi perubahan status MSCI.

Bank investasi global Goldman Sachs Group Inc dan UBS AG merevisi rekomendasi terhadap saham-saham Indonesia setelah laporan MSCI Inc. (Foto: Wikimedia Commons)
Bank investasi global Goldman Sachs Group Inc dan UBS AG merevisi rekomendasi terhadap saham-saham Indonesia setelah laporan MSCI Inc. (Foto: Wikimedia Commons)

KABARBURSA.COM – Bank investasi global Goldman Sachs Group Inc dan UBS AG merevisi rekomendasi terhadap saham-saham Indonesia setelah MSCI Inc mengeluarkan peringatan mengenai potensi downgrade status pasar Indonesia, yang dinilai dapat memicu tekanan aliran dana asing di pasar modal domestik.

Seperti dilansir Bloomberg, Goldman Sachs menurunkan rekomendasi saham Indonesia menjadi underweight dengan mempertimbangkan kemungkinan terjadinya arus keluar dana besar-besaran jika Indonesia diturunkan statusnya dari emerging market

Analis Goldman Sachs memperkirakan bahwa dalam skenario ekstrem, dana pasif yang mengikuti indeks MSCI bisa memicu penjualan saham Indonesia hingga sekitar USD13 miliar, atau setara sekitar Rp217,28 triliun. 

Perhitungan konversi tersebut menggunakan kurs sekitar Rp16.722 per USD pada penutupan perdagangan Rabu, 28 Januari 2026.

"Kami memperkirakan akan terjadi penjualan pasif lanjutan dan memandang perkembangan ini sebagai beban yang akan menghambat kinerja pasar,” tulis analis Goldman Sachs Timothy Moe dalam laporan risetnya, Kamis, 29 Januari 2026.

Riset ini menyoroti dampak mekanis dari permintaan rebalancing indeks pada dana terkelola secara pasif.

Di samping itu, Goldman Sachs juga mencatat bahwa jika FTSE Russell melakukan peninjauan ulang metodologi free float dan status pasar Indonesia, hal ini berpotensi memicu tambahan arus keluar dana sekitar USD5,6 miliar (setara sekitar Rp93,68 triliun), yang berasal dari pengelolaan dana berbasis indeks lainnya.

UBS juga merevisi pandangan pasar dengan menurunkan rekomendasi saham domestik menjadi neutral, menyusul kekhawatiran serupa terkait volatilitas yang meningkat dan potensi dampak terhadap arus dana asing.

Mengutip pernyataan analis UBS termasuk Sunil Tirumalai dalam catatan riset tertanggal 28 Januari 2026, UBS menilai bahwa ketidakpastian terkait penilaian indeks global dan aturan keterbukaan data free float diperkirakan akan tetap membayangi pasar sampai ada kejelasan regulasi dan hasil peninjauan ulang MSCI.

“Kami menilai tekanan terhadap pasar secara keseluruhan kemungkinan akan bertahan hingga terdapat kejelasan terkait regulasi dan hasil peninjauan ulang MSCI,” tulis analis UBS, Sunil Tirumalai, dalam catatan Rabu, 28 Januari 2026.

MSCI dalam pengumumannya menyatakan akan menangguhkan beberapa perubahan indeks, termasuk penambahan saham baru dalam indeks, sampai regulator dan otoritas pasar mengatasi kekhawatiran mengenai struktur kepemilikan saham yang dianggap terlalu terkonsentrasi. 

Isu free float, jumlah saham yang tersedia untuk diperdagangkan, telah menjadi sorotan bagi investor global dalam beberapa tahun terakhir, karena sejumlah perusahaan besar Indonesia memiliki likuiditas yang tipis dan kontrol kepemilikan yang terpusat.

Sementara itu, analis Citigroup Inc. menyebut pembekuan perubahan indeks MSCI dapat menjadi hambatan sementara dan justru tercatat sebagai peluang beli pada saham-saham tertentu seperti perbankan, telekomunikasi, dan emiten komoditas. (*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
SY
Ass. Redaktur

Syahrianto

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait