Makro 17 Aug 2025 Penulis: Yunila Wati Editor: Pramirvan Datu

Harga Emas Dunia Redup 1,8 Persen, Pasar Khawatir Rilis Data Inflasi AS

Harga emas stabil di akhir pekan, namun catat penurunan mingguan akibat data inflasi AS dan sorotan pasar pada pertemuan Trump–Putin di Alaska.

Emas stabil Jumat, tapi turun 1,8 persen minggu ini usai data inflasi AS. Pasar menanti hasil pertemuan Trump–Putin yang bisa pengaruhi arah harga emas.

Ilustrasi.
Ilustrasi.

KABARBURSA.COM - Harga emas dunia pada Jumat, 15 Agustus 2025, memang terlihat stabil, tetapi jika dilihat dari gambaran lebih luas sepanjang pekan, tren yang muncul adalah penurunan atau koreksi mingguan. 

Data menunjukkan harga emas spot terakhir tercatat di level USD3.336,66 per ons, relatif tidak berubah pada perdagangan harian. Namun, jika dibandingkan dengan posisi awal pekan, logam mulia ini sudah melemah sekitar 1,8 persen. 

Kontrak berjangka emas AS pun ditutup hampir datar di USD3.382,6, memperlihatkan bahwa penahanannya lebih banyak bersifat sementara, bukan tanda pemulihan tren.

Tekanan terbesar datang dari rilis data inflasi Amerika Serikat. Indeks harga produsen (PPI) pada Juli melonjak dengan laju tercepat dalam tiga tahun, memberikan sinyal bahwa tekanan harga di hulu masih kuat. Kondisi ini memicu keraguan pasar terhadap prospek pelonggaran kebijakan moneter The Fed. 

Sebelum data itu keluar, peluang penurunan suku bunga sebesar 25 basis poin pada September sempat diperkirakan mencapai 95 persen. Namun, angka itu kini turun ke 89,1 persen, yang mencerminkan berkurangnya keyakinan investor. Koreksi 

emas pada penutupan Kamis, 15 Agustus 2025, turun 0,6 persen adalah cerminan langsung dari sentimen tersebut.

Meski dolar AS melemah dan secara teori bisa mendukung harga emas karena membuat komoditas ini lebih murah bagi pemegang mata uang lain, efeknya belum cukup untuk menahan arus tekanan.

Pasar kini juga membagi fokus pada faktor geopolitik, khususnya pertemuan antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden Rusia Vladimir Putin di Alaska. Ekspektasi terhadap kesepakatan gencatan senjata di Ukraina menambah ketidakpastian. 

Dalam situasi geopolitik seperti ini, emas kerap dilirik sebagai aset lindung nilai, tetapi arah pergerakan harga tetap bergantung pada hasil diplomasi tingkat tinggi itu.

Lembaga riset seperti ANZ menilai prospek emas dalam jangka menengah tetap positif. Mereka menekankan bahwa risiko makroekonomi dan geopolitik berpotensi meningkat pada paruh kedua tahun ini, sehingga daya tarik emas sebagai safe haven belum hilang. 

Prospek bullish juga didukung oleh kemungkinan pelemahan dolar lebih lanjut, pelonggaran kebijakan moneter di AS, dan tanda-tanda perlambatan ekonomi global. 

Namun untuk pekan ini, sinyal pasar jelas, emas tidak sedang menguat, melainkan berada dalam fase koreksi setelah kehilangan hampir dua persen nilainya.

Dengan kata lain, meski stabil di penghujung pekan, harga emas dunia mengalami penurunan mingguan yang nyata. Stabilitas harian lebih terlihat sebagai jeda di tengah tren pelemahan, bukan tanda pembalikan arah. 

Kini investor menunggu dua hal penentu, yaitu arah kebijakan suku bunga The Fed setelah data inflasi panas, serta dampak geopolitik dari pertemuan Trump–Putin yang bisa mengubah persepsi risiko pasar dalam waktu dekat.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
YU
Redaktur

Yunila Wati

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait