Makro 17 May 2026 Penulis: Hutama Prayoga Editor: Tim Editorial

Harga Emas Masih Volatil, Logam Mulia Diprediksi Bisa Turun ke Rp2,68 Juta

Ketidakpastian geopolitik dan arah kebijakan terkait Selat Hormuz diperkirakan menjadi penentu utama pergerakan emas dunia dan logam mulia pekan depan

Pengamat Ibrahim Assuaibi memproyeksikan harga logam mulia berpotensi turun ke Rp2,685 juta per gram atau naik hingga Rp2,88 juta tergantung perkembangan geopol

Ilustrasi logam mulia (Foto: Dok. KabarBursa.com.)
Ilustrasi logam mulia (Foto: Dok. KabarBursa.com.)

KABARBURSA.COM – Pergerakan harga emas dunia dan logam mulia diperkirakan masih akan dibayangi volatilitas pada pekan depan seiring meningkatnya ketidakpastian geopolitik.

Pengamat komoditas dan mata uang, Ibrahim Assuaibi memperkirakan harga emas dunia memiliki potensi koreksi maupun penguatan tergantung perkembangan situasi global, terutama terkait pembukaan kembali Selat Hormuz.

Ia menyampaikan harga emas dunia pada Sabtu, 16 Mei 2026 ditutup pada level USD4.538 per troy ons, sementara logam mulia berafa di harga Rp2.769.000 per gram.

Menurut dia apa bila harga emas melemah, maka  support pertama berada di level USD4.444 per troy ounce. Bersamaan dengan itu, logam mulia diperkirakan turun ke kisaran Rp2.749.000 per gram.

"Apabila harga masih koreksi kembali, support kedua emas dunia USD4.307 per troy ounce. Kemudian logam mulia di level Rp2.685.000 per gram," ujar Ibrahim dalam keterangannya, Minggu, 17 Mei 2026.

Namun di sisi lain, peluang penguatan harga emas juga masih terbuka. Untuk resistance pertama, kata Ibrahim, harga emas dunia bisa menyentuh level USD4.639 per troy ounce dengan harga logam mulia berpotensi naik ke Rp2.789.000 per gram.

Sementara resistance kedua emas dunia diperkirakan berada di level USD4.796 per troy ounce. Jika skenario ini terjadi, harga logam mulia diprediksi dapat mencapai Rp2.880.000 per gram.

"Namun logam mulia untuk mencapai level Rp2.900.000, kemungkinan sangat berat," kata Ibrahim. 
 

Lebih lanjut ia menjelaskan bahwa arah pergerakan harga emas sangat dipengaruhi dinamika geopolitik global dan pergerakan indeks dolar Amerika Serikat (AS).

Ibrahim menyoroti pertemuan antara Presiden AS Donald Trump dengan Presiden China Xi Jinping terkait upaya mendorong tercapainya kesepakatan pembukaan kembali Selat Hormuz. 
 

Dengan kondisi tersebut, ia mengatakan pasar kini tengah menanti apakah Iran akan mencapai kesepakatan baru dengan AS atau justru konflik semakin meluas.

"Amerika sendiri mengatakan kemungkinan besar kalau sudah ada kesepakatan tidak akan lagi melakukan serangan," ungkap Ibrahim.

Selain itu ia juga menyoroti ketegangan antara Lebanon dan Israel yang hingga kini masih berlangsung meskipun perundingan terus diperpanjang.  (*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
HU
Ass. Redaktur

Hutama Prayoga

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait