Makro 31 Oct 2025 Penulis: Yunila Wati Editor: Pramirvan Datu

Harga Emas Naik Dua Persen: Diprediksi Tembus USD4.500 – USD4.700 per Ons

Harga emas dunia menembus USD4.000 per ons setelah pasar global kehilangan keyakinan atas kesepakatan dagang AS–China dan The Fed memberi sinyal akhir siklus pemangkasan suku bunga.

Harga emas melonjak 2 persen ke atas USD4.000 didorong ketidakpastian dagang AS–China dan kebijakan dovish The Fed, membuka peluang menuju USD4.700.

Ilustrasi: sebongkah emas batangan. (Foto: Pexels/Michael Steinberg)
Ilustrasi: sebongkah emas batangan. (Foto: Pexels/Michael Steinberg)

Daftar Isi

  1. 01 Keputusan The Fed Dianggap Meresahkan Pasar
  2. 02 Analisis Teknikal XAU USD
  3. 03 Perak, Platinum dan Paladium Kompak Melesat

KABARBURSA.COM – Laju harga emas kembali tak terbendung. Pada perdagangan Kamis waktu New York, 30 Oktober 2025, harga emas dunia melambung hingga 2 persen. Penyebabnya adalah memudarnya keyakinan terhadap kesepakatan dagang AS-China.

Tidak hanya itu, melonggarnya kebijakan moneter dari Federal Reserve ikut mengerek harga emas di posisi teratas. Emas spot menembus USD4.003,62 per ons pada pukul 24.39 WIB, sementara kontrak berjangka Desember naik 0,4 persen ke USD4.015,9 per ons. 

Di sini, pasar sepertinya mulai melihat risiko global sebagai hal yang lebih serius. Apalagi setelah Washington mengumumkan rincian kesepakatan perdagangan dengan Beijing yang tidak sekuat harapan awal.

Ceritanya, di awal, langkan Presiden Donald Trump memangkas tarif impor China dari 57 persen menjadi 6 persen akan meredakan tensi hubungan dagang keduanya. Sayangnya, pasar membaca bahwa kesepakatan tersebut hanya bersifat sementara.

Jeffrey Christian dari CPM Group menilai, optimisme yang muncul langsung menguap ketika pelaku pasar menyadari bahwa kesepakatan ini “dangkal” dan tidak menjamin stabilitas ekonomi global.

Keputusan The Fed Dianggap Meresahkan Pasar

Hal lainnya terkait dengan langkah The Fed menurunkan suku bunga, namun dibarengi dengan sinyal bahwa siklus pemangkasan mungkin sudah mendekati akhir. Kombinasi ini menciptakan lingkungan yang sangat mendukung bagi emas, yang tidak menawarkan imbal hasil tetapi cemerlang saat pasar mencari keamanan.

Akibatnya, lembaga seperti Wells Fargo Investment Institute merevisi naik proyeksi harga emas akhir 2026, Dalam revisi tersebut, harga emas akan naik di kisaran USD4.500–USD4.700 per ons, dari sebelumnya USD3.900–USD4.100.

Wells juga yakin bahwa permintaan dari investor swasta hingga bank sentral akan tetap tinggi.

Analisis Teknikal XAU USD

Jika melihat dari analisis teknikal XAU USD, perkiraan Wells mendekati kebenaran. Dari sisi moving average, tren jangka menengah hingga panjang masih menunjukkan kecenderungan naik. Sebanyak delapan indikator memberikan sinyal beli, melawan empat sinyal jual

Harga emas berada di atas rerata pergerakan 50, 100, dan 200 hari (masing-masing di kisaran USD3.822, USD3.584, dan USD3.346) yang menandakan struktur bullish masih terjaga secara teknikal. 

Selama harga tetap bertahan di atas zona USD3.900–USD3.950, tren kenaikan jangka menengah dianggap belum rusak.

Namun, indikator teknikal lainnya memperlihatkan nada yang jauh lebih hati-hati. Rangkuman teknikal keseluruhan bahkan menunjukkan kondisi “sangat jual” dengan enam indikator memberi sinyal sell dan hanya satu buy.

RSI berada di level 52,2, mendekati area netral, dan mengindikasikan momentum naik mulai kehilangan tenaga. Stochastic dan StochRSI masing-masing menunjukkan kondisi jenuh jual (oversold), yang artinya reli cepat sebelumnya kemungkinan diikuti fase pendinginan harga.

Sinyal buy tunggal datang dari MACD yang masih positif di 49,92, yang mengisyaratkan tren dasar tetap naik. Namun, tekanan dari indikator seperti Williams %R di -72,5 dan CCI di -97,3 menunjukkan pasar emas sedang mengalami koreksi minor, bukan pembalikan tren. 

ADX di level 41,7 menandakan kekuatan tren masih cukup tinggi, sementara ATR sebesar 131,16 mencerminkan volatilitas yang meningkat. Kondisi ini umum terjadi ketika harga bergerak menuju fase distribusi atau re-akumulasi sebelum tren berikutnya terbentuk.

Berdasarkan peta pivot points, area USD3.966–USD4.016 menjadi zona keseimbangan harga. Jika harga mampu bertahan di atas level tersebut, peluang untuk menguji kembali resistansi di USD4.080 hingga USD4.130 terbuka lebar. 

Sebaliknya, kegagalan menembus level itu bisa menyeret emas ke area support USD3.850–USD3.900, di mana tekanan jual kemungkinan berkurang dan pembeli institusional kembali masuk.

Secara teknikal, tren jangka panjang masih berpihak pada pembeli. Kenaikan di atas USD4.000 menunjukkan kekuatan fundamental, terutama ekspektasi suku bunga rendah dan kekhawatiran geopolitik, tetap menjadi pendorong utama. 

Namun, indikator jangka pendek yang melemah memberi sinyal bahwa pasar membutuhkan jeda sebelum melanjutkan reli.

Dengan struktur seperti ini, peluang emas untuk menanjak menuju kisaran USD4.500–USD4.700 masih realistis, tetapi memerlukan dukungan katalis tambahan. 

Perak, Platinum dan Paladium Kompak Melesat

Sementara itu, logam mulia lain ikut menikmati limpahan modal. Perak melesat 2,7 persen ke USD48,81 per ons, platinum naik 1,2 persen ke USD1.604,38, sementara paladium menanjak 3,4 persen ke USD1.447,08.

Secara keseluruhan, pasar logam mulia kini berada pada fase di mana faktor makro dan geopolitik saling memperkuat. Kenaikan emas di atas USD4.000 per ons bukan sekadar lonjakan teknikal, melainkan refleksi dari keresahan global yang kembali bergejolak. 

Selama The Fed belum menegaskan arah kebijakan yang pasti dan ketidakpastian perdagangan masih menghantui, peluang emas untuk memperpanjang tren naik menuju target USD4.500 tetap terbuka lebar.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
YU
Redaktur

Yunila Wati

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait