Makro 24 Jun 2025 Penulis: Syahrianto Editor: Yunila Wati

Harga Emas Naik Tajam di Tengah Krisis Iran-Israel

Harga emas dunia menguat karena meningkatnya permintaan aset aman setelah serangan AS-Israel terhadap Iran memicu kekhawatiran pasar atas konflik regional.

Emas menguat ke USD 3.395 per ons usai ketegangan Iran-Israel memanas. Investor buru aset aman, pasar cermati suku bunga dan data PCE AS.

Ilustrasi: sebongkah emas batangan. (Foto: Pexels/Michael Steinberg)
Ilustrasi: sebongkah emas batangan. (Foto: Pexels/Michael Steinberg)

KABARBURSA.COM – Harga emas naik pada perdagangan Senin, 23 Juni 2025, seiring meningkatnya ketegangan antara Iran dan Israel yang mendorong investor memburu aset aman. Pasar global saat ini mencermati secara ketat perkembangan di kawasan Timur Tengah.

Seperti dikutip dari Reuters, harga emas di pasar spot tercatat menguat 0,4 persen ke level USD 3.382,42 per ons. Sementara itu, kontrak berjangka emas AS ditutup naik 0,3 persen ke USD 3.395 per ons.

“Penguatan harga emas sebagian besar dipicu oleh ketidakpastian politik usai serangan udara AS ke wilayah Iran,” ujar Jeffrey Christian, Managing Partner di CPM Group.

Selama akhir pekan, Amerika Serikat meluncurkan sejumlah serangan rudal ke situs nuklir Iran. Presiden Donald Trump bahkan secara terbuka mempertimbangkan kemungkinan menggulingkan pemerintahan Iran. Axios melaporkan bahwa Iran telah menembakkan enam rudal ke arah pangkalan militer AS di Qatar, mengutip seorang pejabat Israel.

Di sisi lain, militer Israel menghantam Penjara Evin yang terletak di Teheran Utara. Penjara ini merupakan simbol penting dari sistem pemerintahan Iran, dan serangan ini disebut sebagai pengeboman paling intens terhadap ibu kota Iran sejauh ini.

Emas secara historis dianggap sebagai lindung nilai terhadap inflasi dan menjadi tempat aman saat terjadi ketidakpastian geopolitik. “Kami memperkirakan harga emas dan perak akan tetap kuat, bahkan terus naik selama krisis politik dan ekonomi berlanjut. Kami tidak melihat masalah ini akan segera berakhir. Ada kemungkinan harga emas menyentuh USD 3.500 per ons dalam beberapa bulan mendatang,” tambah Christian.

Sebagai catatan, harga emas pernah menyentuh rekor tertingginya pada 22 April lalu di posisi USD 3.500,05 per ons.

Sementara itu, investor juga tengah menantikan rilis data Personal Consumption Expenditures (PCE) dari Amerika Serikat yang dijadwalkan minggu ini. Data tersebut menjadi indikator penting bagi arah kebijakan suku bunga The Fed.

Pekan lalu, Federal Reserve memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 4,25 hingga 4,50 persen, namun sejumlah pembuat kebijakan memberi sinyal kemungkinan penurunan suku bunga pada akhir tahun ini.

Emas batangan yang tidak memberikan imbal hasil umumnya mendapat dorongan ketika suku bunga rendah.

Selain emas, harga perak di pasar spot juga naik 0,7 persen ke USD 36,23 per ons. Platinum melonjak 2 persen menjadi USD 1.290,31, dan palladium menguat 3,1 persen ke USD 1.076,50—level tertingginya sejak 11 Juni. (*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
SY
Ass. Redaktur

Syahrianto

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait