Makro 26 Jun 2025 Penulis: Yunila Wati Editor: Pramirvan Datu

Harga Minyak Bangkit, Pasar Pantau Data Ekonomi dan Stabilitas Geopolitik

Minyak rebound usai guncangan awal pekan, pasar pantau data ekonomi dan sinyal The Fed. Bagaimana dengan stok minyak AS?

Harga minyak naik nyaris 1 persen berkat turunnya stok AS dan meredanya tensi Iran-Israel. Pasar tunggu sinyal suku bunga The Fed September ini.

Sebuah rig pengeboran minyak dan gas berbasis fracking berdiri megah saat matahari terbenam di salah satu ladang energi Amerika Serikat. Teknologi ini telah menjadikan AS sebagai eksportir energi terbesar dunia dan memperkuat posisinya di tengah krisis geopolitik seperti ketegangan di Selat Hormuz. Foto: iStock via Forbes.
Sebuah rig pengeboran minyak dan gas berbasis fracking berdiri megah saat matahari terbenam di salah satu ladang energi Amerika Serikat. Teknologi ini telah menjadikan AS sebagai eksportir energi terbesar dunia dan memperkuat posisinya di tengah krisis geopolitik seperti ketegangan di Selat Hormuz. Foto: iStock via Forbes.

Daftar Isi

  1. 01 Stok Minyak Mentah AS Turun Lampaui Ekspektasi
  2. 02 Pasar Tunggu Arah yang Jelas dari The Fed

KABARBURSA.COM – Harga minyak dunia mencatat penguatan nyaris 1 persen pada Rabu, 25 Juni 2025, setelah sempat tertekan tajam di awal pekan. 

Kenaikan ini didorong oleh data permintaan domestik Amerika Serikat yang cukup kuat serta penyesuaian pasar terhadap meredanya risiko pasokan menyusul gencatan senjata antara Iran dan Israel.

Minyak mentah Brent ditutup naik 54 sen, atau 0,8 persen, ke level USD67,68 per barel. Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) menguat 55 sen, atau 0,9 persen, ke posisi USD64,92 per barel. 

Kedua acuan ini berhasil mengurangi sebagian dari penurunan 13 persen yang terjadi sejak awal pekan, yang merupakan angka tertinggi dalam beberapa bulan terakhir.

Pelemahan harga sebelumnya terjadi setelah Presiden AS Donald Trump secara resmi mengumumkan gencatan senjata antara Iran dan Israel. Pernyataan tersebut meredakan kekhawatiran akan potensi gangguan pasokan dari kawasan Timur Tengah, sehingga menekan harga ke posisi terendah sejak awal Juni.

Namun, analis pasar menilai risiko kawasan belum sepenuhnya hilang. 

“Meski kekhawatiran pasokan dari Timur Tengah untuk sementara mereda, permintaan terhadap pasokan jangka pendek tetap tinggi,” tulis analis ING dalam catatan kepada klien.

Stok Minyak Mentah AS Turun Lampaui Ekspektasi

Dari sisi fundamental, laporan mingguan dari pemerintah AS memberikan dukungan kuat bagi harga. Data menunjukkan penurunan stok minyak mentah sebesar 5,8 juta barel dalam sepekan terakhir, jauh melampaui ekspektasi analis yang hanya memperkirakan penurunan sekitar 800 ribu barel. 

Penurunan juga terjadi pada stok bensin yang justru menyusut 2,1 juta barel, padahal pasar memperkirakan adanya kenaikan.

Kenaikan tajam pada volume permintaan bensin, yang mencapai level tertinggi sejak Desember 2021, menjadi sinyal bahwa konsumsi domestik mulai menggeliat.

“Kita melihat penurunan stok besar-besaran di seluruh lini, baik minyak mentah, bensin, maupun distilat,” kata Phil Flynn, analis senior dari Price Futures Group. 

“Laporan ini bisa menjadi pengalih perhatian pasar dari isu geopolitik dan mengembalikan fokus ke fundamental permintaan dan pasokan dalam negeri,” lanjut dia.

Pasar Tunggu Arah yang Jelas dari The Fed

Namun pasar tetap berhati-hati. Sejumlah data ekonomi AS yang dirilis belakangan ini, termasuk indeks kepercayaan konsumen, memberi sinyal bahwa pertumbuhan ekonomi mungkin lebih lemah dari yang diperkirakan. 

Kondisi ini memperkuat ekspektasi bahwa Federal Reserve berpotensi memangkas suku bunga pada paruh kedua tahun ini.

Analis independen Tina Teng menilai harga minyak kemungkinan akan bergerak stabil dalam rentang USD65 hingga USD70 per barel dalam waktu dekat. Menurutnya, pelaku pasar kini menunggu arah yang lebih jelas dari data ekonomi lanjutan serta keputusan suku bunga The Fed.

Pasar kini memperkirakan peluang pemangkasan suku bunga pada bulan September mencapai lebih dari 85 persen. Jika hal itu terwujud, pelonggaran moneter biasanya akan mendorong pertumbuhan ekonomi dan, pada gilirannya, meningkatkan permintaan energi.

Untuk saat ini, harga minyak terlihat mencoba mengkonsolidasikan diri setelah volatilitas tinggi di awal minggu. Dengan kombinasi antara permintaan domestik yang sehat dan harapan terhadap pelonggaran kebijakan moneter, prospek pasar minyak memasuki kuartal ketiga tahun ini tetap terbuka lebar.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
YU
Redaktur

Yunila Wati

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait