Makro 12 Nov 2025 Penulis: Hutama Prayoga Editor: Tim Editorial

Harga Minyak Dunia Naik, Investor Terus Pantau Dampak Sanksi AS ke Rusia

Melansir Reuters, harga minyak mentah Brent naik USD1,10, atau 1,72 persen ke level USD65,16 per barel.

Melansir Reuters, harga minyak mentah Brent naik USD1,10, atau 1,72 persen ke level USD65,16 per barel.

Ilustrasi: Alat pengangkat minyak dari dalam tanah. (Foto: AI untuk KabarBursa)
Ilustrasi: Alat pengangkat minyak dari dalam tanah. (Foto: AI untuk KabarBursa)

KABARBURSA.COM - Harga minyak dunia mengalami kenaikan sekitar USD1 pada perdagangan Selasa, 11 November 2025. Meningkatnya harga ini dipicu oleh sanksi terbaru Amerika Serikat (AS) terhadap minyak Rusia dan optimisme atas potensi berakhirnya penutupan pemerintah AS.

Melansir Reuters, harga minyak mentah Brent naik USD1,10, atau 1,72 persen ke level USD65,16 per barel. Sedangkan harga minyak mentah West Texas Intermediate AS juga naik 91 sen, atau 1,51 persen menjadi USD61,04 per barel.

Investor saat ini terus memantau dampak sanksi AS terhadap Rusia, dan efeknya terhadap pasar minyak mentah dan bahan bakar olahan

Analis PVM Tamas Varga mengatakan, pembatasan ekspor bahan bakar akibat sanksi menopang harga minyak di tengah kelebihan pasokan minyak mentah.

"Sanksi baru AS terhadap produsen dan eksportir minyak utama Rusia membebani ekspor produk," ujar Varga. Akibatnya, minyak pemanas dan bensin bergerak ke arah yang berbeda dari minyak mentah.

Sumber di India menyebut, sejumlah negara Timur Tengah seperti Arab Saudi, Irak, dan Kuwait akan meningkatkan pasokan minyak mentah ke India pada bulan Desember karena penyulingan India mencari alternatif selain barel Rusia.

Di sisi lain, pasar juga melihat dukungan karena penutupan pemerintah terpanjang dalam sejarah AS dapat berakhir minggu ini setelah Senat menyetujui kompromi yang akan memulihkan pendanaan federal.

"Optimisme seputar pembukaan kembali pemerintahan meningkatkan ekspektasi permintaan," kata Phil Flynn, analis senior di Price Futures Group.

Awal bulan ini, OPEC+ sepakat untuk meningkatkan target produksi Desember sebesar 137.000 barel per hari. Namun, mereka juga sepakat untuk menghentikan sementara peningkatan pada kuartal pertama tahun depan.

"Pasar minyak juga menghadapi kelebihan pasokan yang cukup besar di tahun mendatang, sehingga harga kemungkinan akan tetap tertekan. Penyebab utama kelebihan pasokan ini adalah ekspansi pasokan yang signifikan oleh OPEC+," ujar analis Commerzbank dalam sebuah catatan.(*) 
 

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
HU
Ass. Redaktur

Hutama Prayoga

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait