Makro 20 Jun 2025 Penulis: Syahrianto Editor: Yunila Wati

Harga Minyak Naik Tiga Persen usai Serangan Israel ke Iran

Harga minyak dunia melonjak hampir 3 persen ke level tertinggi sejak Januari 2024 setelah Israel membombardir Iran dan memicu kekhawatiran pasokan energi terganggu.

Harga minyak naik 3 persen setelah Israel serang Iran. Pasar khawatir pasokan terganggu. Brent tembus USD78,85, WTI naik ke USD77,20 per barel.

Ilustrasi: Alat pengangkat minyak dari dalam tanah. (Foto: AI untuk KabarBursa)
Ilustrasi: Alat pengangkat minyak dari dalam tanah. (Foto: AI untuk KabarBursa)

Daftar Isi

  1. 01 Tidak Ada Sinyal Reda
  2. 02 OPEC+ Tetap Lanjutkan Rencana

KABARBURSA.COM - Harga minyak dunia melonjak hampir 3 persen pada Kamis, 19 Juni 2025 setelah Israel membombardir target nuklir di Iran. Lonjakan ini memperpanjang kekhawatiran pasar terhadap konflik di Timur Tengah yang berisiko mengganggu pasokan energi global.

Seperti dilansir Reuters, kontrak Brent ditutup menguat USD2,15 atau 2,8 persen menjadi USD78,85 per barel, level tertinggi sejak 22 Januari. Sementara minyak mentah AS jenis WTI naik USD2,06 atau 2,7 persen ke USD77,20 per barel pada pukul 13.30 EST.

Kenaikan harga dipicu laporan bahwa Israel kembali melancarkan serangan udara, sementara Iran membalas dengan rudal dan drone ke wilayah Israel. Konflik makin panas setelah serangan terhadap rumah sakit di Israel.

Tidak Ada Sinyal Reda

Ketegangan belum menunjukkan tanda-tanda mereda. PM Israel Benjamin Netanyahu menyebut Teheran akan membayar "harga penuh", sedangkan Iran memperingatkan agar tidak ada pihak ketiga yang ikut campur.

"Pasar semakin yakin AS akan terlibat dalam beberapa bentuk," kata Rory Johnston, pendiri Commodity Context, seperti dikutip Reuters. Presiden AS Donald Trump dijadwalkan memutuskan langkah selanjutnya dalam dua pekan ke depan.

Iran merupakan produsen minyak terbesar ketiga di OPEC dengan output 3,3 juta barel per hari. Sekitar 20 juta barel minyak per hari melewati Selat Hormuz, jalur vital ekspor energi dunia.

Menurut Helima Croft dari RBC Capital Markets, keterlibatan AS bisa memicu serangan langsung terhadap kapal tanker dan infrastruktur energi. JP Morgan bahkan memperkirakan skenario ekstrem bisa membawa harga minyak tembus USD130 per barel jika Selat Hormuz ditutup.

OPEC+ Tetap Lanjutkan Rencana

Meski ketegangan meningkat, Rusia tetap mendorong OPEC+ melanjutkan rencana penambahan produksi. "Kita harus jalankan rencana secara tenang, jangan menakuti pasar," ujar Wakil PM Rusia Alexander Novak dalam forum ekonomi di St. Petersburg.

Namun lembaga pemeringkat DBRS Morningstar memperkirakan lonjakan harga minyak bersifat sementara. Jika konflik mereda, harga diprediksi kembali turun ke kisaran normal. (*)

 

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
SY
Ass. Redaktur

Syahrianto

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait