Makro 22 May 2025 Penulis: Yunila Wati Editor: Pramirvan Datu

Harga Minyak Turun, Tergelincir Kabar Negosiasi Nuklir AS-Iran

Harga minyak Brent akhirnya ditutup turun 47 sen atau 0,7 persen ke level USD64,91 per barel. Minyak mentah acuan AS, West Texas Intermediate (WTI), juga ikut melemah 46 sen ke USD61,57 per barel.

Harga minyak turun usai kabar negosiasi nuklir AS-Iran, ditambah lonjakan stok AS dan produksi Kazakhstan yang menekan sentimen pasar.

Ilustrasi anjloknya harga minyak dunia.
Ilustrasi anjloknya harga minyak dunia.

Daftar Isi

  1. 01 Brent Turun Paling Dalam Ketimbang WTI
  2. 02 Kazakhztan Tingkatkan Produksi Minyak

KABARBURSA.COM – Harga minyak dunia melemah pada penutupan perdagangan Rabu waktu setempat atau Kamis dinihari WIB, 22 Mei 2025. Tergelincirnya harga minya terjadi setelah setelah Menteri Luar Negeri Oman menyatakan bahwa Iran dan Amerika Serikat akan kembali menggelar pembicaraan mengenai program nuklir Iran pada akhir pekan ini. 

Kabar ini sontak meredam kekhawatiran pasar yang sempat meningkat akibat isu rencana serangan Israel ke fasilitas nuklir Iran.

Sehari sebelumnya, CNN melaporkan bahwa intelijen AS menduga Israel tengah bersiap melancarkan serangan ke fasilitas nuklir milik Teheran. Meski belum ada keputusan final dari pemimpin Israel, kabar itu sempat membuat pelaku pasar berspekulasi bahwa ketegangan geopolitik bisa meletus kapan saja.

Iran adalah salah satu produsen utama di dalam tubuh OPEC, dan eskalasi konflik dapat berdampak langsung pada aliran pasokan minyak global.

Namun, suasana pasar berubah ketika muncul konfirmasi soal putaran baru perundingan damai. Menurut Phil Flynn, analis senior di Price Futures Group, harapan akan jalur diplomasi telah menghapus sentimen risiko yang sebelumnya mendongkrak harga. 

“Sekarang pasar mempersiapkan diri menghadapi babak baru perundingan damai. Itu cukup untuk menekan kembali harga,” kata Flynn.

Brent Turun Paling Dalam Ketimbang WTI

Harga minyak Brent akhirnya ditutup turun 47 sen atau 0,7 persen ke level USD64,91 per barel. Minyak mentah acuan AS, West Texas Intermediate (WTI), juga ikut melemah 46 sen ke USD61,57 per barel. Penurunan ini terjadi setelah sempat menguat di awal sesi perdagangan.

Meski kabar perundingan membawa ketenangan sesaat, kekhawatiran pasar belum sepenuhnya hilang. Potensi balasan dari Iran, seperti penutupan Selat Hormuz, jalur penting ekspor minyak untuk negara-negara seperti Arab Saudi, Kuwait, dan UEA, tetap membayangi. 

Menurut Priya Walia, analis dari Rystad Energy, jika terjadi ketegangan lebih lanjut, gangguan pasokan bisa mencapai 500.000 barel per hari. Namun, ia menilai OPEC+ masih memiliki kapasitas untuk merespons kondisi tersebut dengan cukup cepat.

Di luar faktor geopolitik, tekanan lain datang dari dalam negeri AS sendiri. Data terbaru dari Badan Informasi Energi (EIA) menunjukkan bahwa stok minyak mentah, bensin, dan bahan bakar sulingan semuanya mengalami kenaikan di luar ekspektasi pasar. 

Stok minyak naik 1,3 juta barel, bensin bertambah 800.000 barel, dan bahan bakar sulingan meningkat 600.000 barel. Laporan ini memperkuat sentimen bearish karena menunjukkan lemahnya penyerapan pasar domestik.

Kazakhztan Tingkatkan Produksi Minyak

Sementara itu, dari Asia Tengah, kabar datang dari Kazakhstan yang dilaporkan meningkatkan produksi minyak sebesar dua persen sepanjang Mei. 

Langkah ini berlawanan dengan upaya OPEC+ yang tengah mencoba menahan laju produksi untuk menjaga harga tetap stabil di tengah ketidakpastian global.

Dengan latar belakang kondisi pasar yang dinamis ini, harga minyak bergerak di tengah tarik-ulur antara sentimen damai dan tekanan pasokan.

Di satu sisi, potensi perundingan antara Washington dan Teheran membuka peluang meredanya ketegangan geopolitik. Di sisi lain, data inventori dan produksi justru menambah beban pada harga. 

Pasar kini menanti arah selanjutnya: apakah diplomasi mampu membawa ketenangan jangka panjang, atau justru ketegangan baru kembali mencuat.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
YU
Redaktur

Yunila Wati

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait