Makro 10 Jun 2026 Penulis: Gusti Ridani Editor: Syahrianto

Harga Pertamax Naik, Ekonom Sarankan Revisi Kuota Pertalite hingga 31 Juta KL

Kenaikan harga Pertamax dinilai menghemat fiskal negara, tetapi berpotensi mendorong lonjakan konsumsi Pertalite di atas kuota.

Ekonom Unpad menyarankan revisi kuota Pertalite hingga 31 juta KL setelah kenaikan Pertamax berisiko memicu migrasi konsumen BBM bersubsidi.

Ekonom Unpad menyarankan revisi kuota Pertalite hingga 31 juta KL setelah kenaikan Pertamax berisiko memicu migrasi konsumen BBM bersubsidi. Foto: Dok. Pertamina.
Ekonom Unpad menyarankan revisi kuota Pertalite hingga 31 juta KL setelah kenaikan Pertamax berisiko memicu migrasi konsumen BBM bersubsidi. Foto: Dok. Pertamina.

KABARBURSA.COM — Langkah PT Pertamina Patra Niaga menyesuaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) non-subsidi jenis Pertamax dan Pertamax Green dinilai memberi ruang napas baru bagi anggaran negara.

Pakar dan pengamat ekonomi sekaligus dosen senior di Departemen Ilmu Ekonomi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Padjadjaran (FEB Unpad), Yayan Satyakti, menyebut kebijakan mengerek harga Pertamax dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter sebagai keputusan yang tepat di waktu yang tepat. Tanpa kenaikan ini, keuangan negara harus menanggung beban kompensasi yang berat.

"Kenaikan harga Pertamax memberi Indonesia ruang napas fiskal sekitar Rp39 triliun per tahun dibandingkan tidak berbuat apa-apa di tengah pelemahan rupiah. Namun, kebijakan ini baru berjalan setengah jalan," ujar Yayan kepada KabarBursa.com, Rabu, 10 Juni 2026.

Yayan membeberkan, berdasarkan simulasi model permintaan terhadap 1,36 juta rumah tangga Indonesia (data Susenas 2019–2024), kenaikan Pertamax ini secara bersih menghemat anggaran negara sebesar Rp11,4 triliun per tahun serta memangkas devisa impor BBM hingga USD0,6 miliar.

Namun, Yayan mengingatkan adanya risiko migrasi konsumsi dari Pertamax ke Pertalite.

Menggunakan metode estimasi Regression Discontinuity Design (RDD) dan simulasi Monte Carlo sebanyak 5.000 kali, ia menemukan bahwa sekitar satu dari lima konsumen Pertamax berpotensi turun kelas ke BBM bersubsidi.

"Risikonya adalah migrasi. Kira-kira 19,5 persen pembeli Pertamax akan pindah ke Pertalite jika pengawasan kuota berjalan baik. Jika pengawasan lemah (weak enforcement), migrasi melonjak hingga 22,5 persen. Akibatnya, sekitar 40 persen dari total penghematan kotor akan menguap kembali karena subsidi Pertalite membengkak," urainya.

Menurut Yayan, simulasi kebijakan BBM terbaru menunjukkan bahwa opsi dengan kenaikan harga mampu menyelamatkan posisi fiskal bersih hingga Rp 11,4 triliun per tahun serta menghemat devisa impor sebesar US$ 0,6 miliar, berbanding terbalik dengan opsi tanpa kenaikan yang akan membebani APBN sebesar Rp 27,7 triliun.

Meski demikian, skenario kenaikan harga, kata dia, menyimpan bom waktu berupa lonjakan konsumsi Pertalite hingga 30,8 juta KL, atau 5 persen di atas kuota, akibat eksodus belasan hingga puluhan persen pengguna Pertamax.

Dari sisi daya beli, Dosen Senior FEB Unpad itu mengatakan bahwa kenaikan Pertamax sebenarnya tidak memukul rumah tangga kelas menengah bawah (desil 4–5) secara langsung.

Kelompok ini rata-rata hanya kehilangan Rp3.400 hingga Rp5.700 per bulan (setara 0,1 persen dari total pengeluaran) karena mayoritas dari mereka sudah mengonsumsi Pertalite sejak awal.

Ancaman nyata bagi masyarakat justru berada pada risiko kelangkaan di lapangan.

Menurutnya, Migrasi konsumen Pertamax diproyeksikan membuat konsumsi Pertalite melambung ke angka 30,8 juta kiloliter (KL), atau melampaui kuota resmi yang dipatok sebesar 29,26 juta KL.

"Pengemudi ojek online, petani, serta nelayan adalah kelompok pertama yang akan terpukul jika kuota Pertalite jebol dan memicu antrean panjang atau pembatasan ketat di SPBU," jelas Yayan.

Yayan pun mendesak pemerintah segera mengeksekusi lima rekomendasi taktis agar penghematan subsidi BBM tidak menjadi sia-sia, mulai dari membatasi pembelian Pertalite via MyPertamina maksimal 50 liter per bulan hingga mengubah skema subsidi agar melekat pada subjek, bukan objek.

Yayan juga menyarankan pengalihan dana penghematan sebesar Rp3 triliun hingga Rp4 triliun untuk bantalan sosial sektor produktif (ojol, nelayan, petani), serta meminta BPH Migas segera mengantisipasi lonjakan konsumsi dengan merevisi kuota Pertalite ke angka 30,6–31 juta KL.

Terakhir, ia mengingatkan pemerintah untuk mengharmonisasikan anggaran Program Makan Bergizi Gratis (MBG) senilai Rp268 triliun terhadap kinerja pendapatan negara, mengingat penghematan BBM ini nyatanya baru menutup sekitar 4 persen dari total kebutuhan program tersebut.

Sebagai informasi, Pertamina mengumumkan harga Pertamax dengan angka oktan (RON) 92 meningkat dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter. Pada saat yang sama, Pertamax Green dengan spesifikasi RON 95 turut mengalami penyesuaian dari Rp12.900 menjadi Rp17.000 per liter.

Daftar Harga BBM Retail Non Subsidi melalui SPBU per 10 Juni 2026:

Pertamax Series

  • Pertamax (RON 92): dari Rp. 12.300/liter menjadi Rp. 16.250/liter
  • Pertamax Green 95 (RON 95): dari Rp. 12.900/liter menjadi Rp. 17.000/liter.
  • Pertamax Turbo (RON 98): Rp. 20.750/liter (tetap).

Dex Series

  • Dexlite (CN 51): Rp. 23.000/liter. (tetap)
  • Pertamina Dex (CN 53): Rp. 24.800/liter. (tetap)(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
GU
Jurnalis Madya

Gusti Ridani

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait