KABARBURSA.COM – Bank Indonesia (BI) mencatat harga properti residensial di pasar primer masih mengalami kenaikan pada triwulan I 2026. Namun, pertumbuhan harga mulai melambat di tengah penurunan penjualan rumah yang cukup dalam.
Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso mengatakan kondisi tersebut tercermin dari Indeks Harga Properti Residensial (IHPR) yang tumbuh 0,62 persen secara tahunan (year on year/yoy) pada triwulan I 2026.
“Hasil Survei Harga Properti Residensial menunjukkan harga properti residensial di pasar primer tumbuh terbatas,” ujar Ramdan dalam keterangan resmi BI, dikutip Minggu, 10 Mei 2026.
BI mencatat IHPR triwulan I 2026 berada di level 110,60 atau lebih rendah dibanding pertumbuhan triwulan IV 2025 sebesar 0,83 persen (yoy). Perlambatan terjadi pada seluruh segmen rumah, baik tipe kecil, menengah, maupun besar.
Harga rumah tipe menengah tumbuh 0,88 persen (yoy), melambat dibanding triwulan sebelumnya sebesar 1,12 persen. Sementara rumah tipe besar tumbuh 0,50 persen (yoy) dari sebelumnya 0,72 persen. Adapun rumah tipe kecil tumbuh 0,61 persen (yoy), lebih rendah dibanding triwulan IV 2025 sebesar 0,76 persen.
Di sisi lain, penjualan properti residensial di pasar primer justru mengalami tekanan. BI mencatat penjualan rumah secara tahunan terkontraksi 25,67 persen pada triwulan I 2026, berbalik dari triwulan sebelumnya yang masih tumbuh 7,83 persen.
Penurunan penjualan terutama terjadi pada rumah tipe kecil yang terkontraksi 45,59 persen (yoy), setelah sebelumnya tumbuh tinggi 17,32 persen. Sementara penjualan rumah tipe besar masih minus 8,03 persen (yoy), meski lebih baik dibanding kontraksi 10,95 persen pada triwulan sebelumnya.
Adapun penjualan rumah tipe menengah menjadi satu-satunya segmen yang tumbuh. Pada triwulan I 2026, penjualan rumah tipe menengah meningkat 8,28 persen (yoy), membaik dari triwulan sebelumnya yang terkontraksi 4,84 persen.
Secara spasial, BI mencatat 10 dari 18 kota survei mengalami perlambatan pertumbuhan harga rumah. Bahkan tiga kota tercatat mengalami penurunan IHPR secara tahunan.
Surabaya menjadi salah satu kota dengan kontraksi terdalam, yakni minus 0,27 persen (yoy), lebih dalam dibanding triwulan sebelumnya minus 0,04 persen.
Sebaliknya, harga rumah di Padang dan Balikpapan menunjukkan kenaikan lebih tinggi dibanding triwulan sebelumnya. Harga rumah di Padang tumbuh 1,21 persen (yoy), sementara Balikpapan naik 1,44 persen (yoy).
Dari sisi pembiayaan, dana internal pengembang masih menjadi sumber utama pembangunan properti residensial dengan porsi mencapai 80,66 persen dari total kebutuhan pembiayaan. Sementara pinjaman perbankan menyumbang 13,74 persen dan pembayaran konsumen sebesar 5,60 persen.
BI juga mencatat mayoritas pembelian rumah primer masih menggunakan skema Kredit Pemilikan Rumah (KPR). Pangsa pembelian melalui KPR mencapai 69,87 persen dari total skema pembelian rumah primer.
Sementara itu, total nilai KPR tumbuh 4,79 persen secara tahunan pada triwulan I 2026. Meski masih meningkat, pertumbuhan tersebut melambat dibanding triwulan sebelumnya sebesar 7,05 persen.
BI menyebut sejumlah faktor masih menjadi hambatan penjualan properti residensial di pasar primer. Tantangan terbesar berasal dari kenaikan harga bahan bangunan sebesar 20,97 persen, diikuti persoalan perizinan dan birokrasi 18,15 persen serta suku bunga KPR sebesar 16,47 persen.(*)