KABARBURSA.COM - Ketua Umum Badan Pengurus Pusat Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (BPP HIPMI), Ade Jona Prasetyo, menilai Jerman masih menempati posisi penting sebagai salah satu mitra strategis Indonesia di kawasan Eropa. Hubungan tersebut mencakup berbagai sektor krusial, mulai dari investasi, transfer teknologi, manufaktur modern, pendidikan vokasi, hingga pengembangan industri yang berorientasi pada keberlanjutan.
Menurut Ade Jona, ruang untuk memperluas kemitraan kedua negara masih terbuka lebar. Peluang tersebut dinilai dapat diwujudkan melalui kerja sama yang lebih konkret di bidang investasi, alih teknologi, penguatan industri bernilai tambah, pengembangan energi baru dan terbarukan, serta peningkatan kualitas sumber daya manusia.
“Kami melihat banyak peluang untuk meningkatkan kerja sama yang lebih konkret, terutama dalam bidang investasi, transfer teknologi, pengembangan industri bernilai tambah, energi terbarukan, serta peningkatan kapasitas sumber daya manusia,” ujar Ade Jona dalam keterangannya di Jakarta, Selasa 16 Juni 2026.
Ia menilai kunjungan kenegaraan Presiden Republik Federal Jerman Frank-Walter Steinmeier ke Istana Negara, Jakarta, menjadi momentum strategis yang dapat mempererat hubungan bilateral kedua negara. Kunjungan tersebut tidak hanya memiliki nilai diplomatik, tetapi juga membuka ruang kolaborasi ekonomi yang lebih luas antara komunitas bisnis Indonesia dan Jerman.
Dalam konteks tersebut, HIPMI menyatakan kesiapan untuk memainkan peran sebagai penghubung antara pelaku usaha nasional dan mitra bisnis dari Jerman. Organisasi itu melihat sinergi lintas negara sebagai salah satu kunci untuk memperkuat daya saing ekonomi Indonesia di tengah dinamika global yang semakin kompetitif.
Ade Jona menegaskan bahwa kalangan pengusaha muda Indonesia memiliki antusiasme tinggi untuk membangun kemitraan dengan pelaku usaha internasional. Langkah itu dipandang penting guna memperluas akses pasar, meningkatkan kapasitas bisnis, sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam peta perdagangan global.
“Hubungan Indonesia dan Jerman memiliki fondasi yang sangat kuat. HIPMI siap menjadi mitra strategis dalam mempertemukan pelaku usaha kedua negara. Kami ingin mendorong lebih banyak kolaborasi bisnis, investasi, inovasi teknologi, hingga program pengembangan kewirausahaan yang dapat memberikan manfaat bagi Indonesia dan Jerman,” katanya.
Lebih lanjut, Ade Jona menilai pengalaman Jerman dalam membangun sektor manufaktur berteknologi tinggi serta sistem pendidikan vokasi yang terintegrasi dapat menjadi referensi berharga bagi Indonesia. Pengalaman tersebut diyakini mampu mendukung penguatan ekosistem industri nasional sekaligus meningkatkan kualitas tenaga kerja yang dibutuhkan dunia usaha.
Ia juga berharap hubungan yang semakin erat antara Indonesia dan Jerman dapat membuka akses yang lebih luas bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) serta generasi pengusaha muda Indonesia untuk terlibat dalam rantai pasok global dan menembus pasar Eropa.
Menurutnya, kolaborasi ekonomi yang solid akan menjadi pilar utama dalam memperkokoh hubungan bilateral kedua negara pada masa mendatang. Oleh karena itu, HIPMI menegaskan komitmennya untuk terus mendorong terbentuknya kemitraan strategis yang mampu menciptakan nilai tambah bagi kedua belah pihak.
“Kami percaya kerja sama ekonomi yang kuat akan menjadi fondasi penting dalam mempererat hubungan kedua negara. Pengusaha muda Indonesia siap menjadi bagian dari kemitraan strategis Indonesia-Jerman di masa depan,” ujar Ade. (*)