Makro 13 Jan 2026 Penulis: Harun Rasyid Editor: Moh. Alpin Pulungan

HSBC: Ekonomi Indonesia 2025 Mulai Tunjukkan Titik Balik

Setelah setahun penuh tantangan, ekonomi Indonesia menunjukkan tanda-tanda pemulihan. HSBC memaparkan faktor kunci dan potensi tren di 2026.

HSBC menilai ekonomi RI 2025 mulai stabil berkat pelonggaran kebijakan moneter dan fiskal. Apa dampaknya ke pertumbuhan dan daya beli?

HSBC Global Research beberkan kondisi ekonomi Indonesia 2025 dan PR untuk tahun 2026. Berikut catatannya. Foto: Harun/KabarBursa.com
HSBC Global Research beberkan kondisi ekonomi Indonesia 2025 dan PR untuk tahun 2026. Berikut catatannya. Foto: Harun/KabarBursa.com

KABARBURSA.COM - HSBC Global Research sebagai lembaga riset global dari grup perbankan HSBC, merangkum kondisi ekonomi Indonesia sepanjang tahun 2025.

Seperti kita ketahui, ekonomi Indonesia tahun lalu tidak bisa dibilang baik-baik saja dan penuh dengan tantangan. Terutama bagi masyarakat kelas menengah dan bawah.

Managing Director, Chief India Economist and Macro Strategist, ASEAN Economist dari HSBC Global Research, Pranjul Bhandari menilai, situasi ekonomi Indonesia 2025 dipengaruhi kondisi global yang terbilang menarik.

"Pertumbuhan ekonomi global pada 2025 ternyata jauh lebih tangguh dibandingkan dengan perkiraan kami di awal tahun. Sebagian besar ketahanan tersebut disebabkan oleh arus perdagangan yang tetap kuat, serta munculnya sektor-sektor baru," ujarnya dalam HSBC Indonesia Economy & Investment Outlook 2026 yang digelar secara daring, Senin, 12 Januari 2026.

Adapun salah satu sektor baru yang mempengaruhi tingkat ekonomi, yakni kecerdasan buatan (AI) yang turut mendorong aktivitas perdagangan. HSBC Global Research juga menyebut, dinamika dan pertumbuhan ekonomi domestik 2025 pascapandemi relatif lemah.

Pranjul menilai, tahun 2025 berakhir dengan catatan yang sedikit lebih kuat. Kekuatan ini berpotensi berlanjut hingga 2026.

"Dalam beberapa tahun setelah pandemi, Indonesia menghadapi kebijakan fiskal yang ketat dan kebijakan moneter yang juga ketat. Akibatnya, pertumbuhan berada di bawah potensi. Pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) relatif lemah, dan hal ini tercermin dalam berbagai indikator yang kami pantau," ucapnya.

Selain itu, masyarakat juga bisa merasakan indikator tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya seperti penjualan ritel, upah, dan tingkat ketenagakerjaan.

"Namun, tahun 2025 menandai perubahan yang cukup besar. Sepanjang tahun tersebut, kami melihat kebijakan fiskal dan moneter yang jauh lebih longgar. Bank Indonesia memangkas suku bunga sebesar 150 basis poin, dan pemerintah juga meluncurkan berbagai program kesejahteraan sosial," lanjut Pranjul.

Menurutnya, dampak dari kebijakan-kebijakan di atas mulai terlihat jelas menjelang akhir tahun.

Sebagai contoh, dalam lima bulan terakhir tahun 2025, Indeks Manajer Pembelian (Purchasing Managers’ Index/PMI) yang mencerminkan aktivitas manufaktur secara nasional berada di zona positif setiap bulan.

"Sebelumnya, PMI kerap naik-turun dan beberapa kali masuk wilayah negatif. Namun, tren tersebut berubah, dan PMI cenderung stabil di wilayah positif dalam lima bulan terakhir 2025. Jika ditelusuri lebih jauh, penguatan PMI terutama didorong oleh meningkatnya permintaan domestik," terang Pranjul.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
HA
Jurnalis

Harun Rasyid

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait