Makro 16 May 2026 Penulis: Moh. Alpin Pulungan Editor: Syahrianto

IEA Prediksi Permintaan Minyak Global Turun pada 2026

IEA memperkirakan permintaan minyak dunia turun pada 2026 akibat perang Timur Tengah dan gangguan pasokan Selat Hormuz.

Permintaan minyak global diproyeksi turun pada 2026. IEA menilai perang Timur Tengah mulai menekan konsumsi energi dunia.

Permintaan minyak global diproyeksi turun pada 2026. IEA menilai perang Timur Tengah mulai menekan konsumsi energi dunia. Foto: Dok. KabarBursa.com.
Permintaan minyak global diproyeksi turun pada 2026. IEA menilai perang Timur Tengah mulai menekan konsumsi energi dunia. Foto: Dok. KabarBursa.com.

KABARBURSA.COM — Badan Energi Internasional atau International Energy Agency (IEA) memperkirakan konsumsi minyak dunia akan menyusut pada 2026. Kondisi ini menandai perubahan besar setelah bertahun-tahun permintaan energi global cenderung tumbuh, didorong pemulihan ekonomi dan aktivitas industri.

Dalam laporan terbaru, IEA memproyeksikan permintaan minyak global turun sekitar 420 ribu barel per hari secara tahunan pada 2026 menjadi 104 juta barel per hari. Angka ini lebih rendah sekitar 1,3 juta barel per hari dibandingkan proyeksi sebelum konflik Timur Tengah pecah.

Penurunan terdalam diperkirakan terjadi pada kuartal II 2026, saat konsumsi minyak global diproyeksikan anjlok hingga 2,45 juta barel per hari dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.

Lembaga tersebut melihat pelemahan awal paling besar berasal dari sektor petrokimia dan penerbangan. Namun dalam jangka lebih panjang, tekanan harga energi, perlambatan ekonomi, dan langkah penghematan konsumsi diperkirakan mulai menekan penggunaan bahan bakar secara lebih luas. Artinya, perang tidak hanya mengganggu pasokan energi, tetapi mulai mengubah pola konsumsi.

Konflik di Timur Tengah—khususnya terganggunya lalu lintas kapal di Selat Hormuz—menjadi faktor utama di balik perubahan ini. Jalur tersebut selama ini mengangkut sekitar seperlima perdagangan minyak dunia.

IEA mencatat produksi minyak global kembali turun 1,8 juta barel per hari pada April 2026 menjadi sekitar 95,1 juta barel per hari. Sejak Februari, total gangguan pasokan telah mencapai 12,8 juta barel per hari. Di negara-negara Teluk yang terdampak pembatasan Selat Hormuz, produksi bahkan berada 14,4 juta barel per hari di bawah tingkat sebelum perang.

“Lebih dari sepuluh minggu setelah perang di Timur Tengah dimulai, kehilangan pasokan yang terus meningkat dari Selat Hormuz menguras cadangan minyak global dengan laju yang belum pernah terjadi sebelumnya,” tulis IEA dalam laporannya yang dikutip Sabtu, 16 Mei 2026.

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa tekanan energi kini tidak lagi sebatas lonjakan harga jangka pendek, tetapi mulai menggerus stok minyak dunia.

Data IEA memperlihatkan persediaan minyak global turun sekitar 250 juta barel hanya dalam periode Maret hingga April 2026. Penurunan itu setara sekitar 4 juta barel per hari.

Cadangan minyak darat negara-negara OECD menjadi yang paling terpukul, menyusut sekitar 146 juta barel.

Di tengah tekanan pasokan, harga minyak bergerak sangat liar. Harga acuan North Sea Dated sempat melonjak hingga USD144 per barel atau sekitar Rp2,43 juta, sebelum turun kembali di bawah USD100 per barel atau sekitar Rp1,69 juta, lalu kembali naik.

Saat laporan disusun, harga berada di sekitar USD110 per barel atau setara Rp1,86 juta. Volatilitas ini memperlihatkan pasar minyak kini lebih sensitif terhadap perkembangan geopolitik dibanding fundamental ekonomi biasa.

Meski demikian, IEA menilai respons pasar mulai muncul dari berbagai sisi. Arab Saudi dan Uni Emirat Arab mulai mengalihkan ekspor melalui terminal di luar Selat Hormuz. Negara-negara konsumen juga mengeluarkan cadangan strategis untuk menahan tekanan.

Di luar Timur Tengah, produksi dari Amerika dan kawasan Atlantik meningkat. Ekspektasi pertumbuhan pasokan minyak dari benua Amerika bahkan direvisi naik menjadi 1,5 juta barel per hari pada 2026. Namun langkah tersebut belum cukup menghilangkan ketidakseimbangan pasar.

IEA memperingatkan bahwa pemulihan permintaan minyak kemungkinan baru terjadi apabila konflik mereda dan jalur distribusi melalui Selat Hormuz kembali normal.

“Walaupun permintaan dapat kembali tumbuh menjelang akhir tahun apabila kesepakatan tercapai dan arus minyak melalui Selat Hormuz pulih secara bertahap, pasokan kemungkinan akan pulih lebih lambat,” tulis IEA.

Kondisi ini membuat pasar minyak diperkirakan tetap mengalami defisit hingga akhir 2026. Dalam jangka pendek, pelemahan permintaan minyak mungkin terlihat sebagai kabar positif karena dapat meredakan tekanan konsumsi energi. Namun di sisi lain, kombinasi antara pasokan yang terganggu dan cadangan yang terus menipis justru berpotensi menjaga harga tetap tinggi.

Bagi negara pengimpor energi seperti Indonesia, situasi ini dapat memperbesar tekanan terhadap subsidi energi, biaya logistik, hingga inflasi pangan dan industri dalam beberapa bulan mendatang.(*)

 

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
MO
Ass. Redaktur

Moh. Alpin Pulungan

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait