Makro 06 Jun 2026 Penulis: Desty Luthfiani Editor: Tim Editorial

IHSG dan Rupiah Tertekan, Kepercayaan Investor Global Mulai Runtuh?

Anjloknya IHSG ke level 5.594 dan pelemahan rupiah hingga menembus Rp18.000 per dolar AS memicu kekhawatiran investor global

IHSG terjun ke level 5.594 dan rupiah melemah hingga Rp18.042 per dolar AS di tengah derasnya arus keluar modal asing

Mata
Mata

Daftar Isi

  1. 01 Dominasi Aksi Jual Asing
  2. 02 Krisis Rupiah dan Tekanan Eksternal
  3. 03 Respon Bursa Efek Indonesia

KABARBURSA.COM - Pasar modal Indonesia tengah menghadapi badai besar yang mengguncang kepercayaan investor global. Pada perdagangan Jumat, 5 Juni 2026, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terhempas ke level 5.594,77.

Penurunan drastis ini menggenapi koreksi tajam sekitar 38 persen dari rekor tertingginya di level 9.134 pada awal tahun, menempatkan Indonesia sebagai salah satu pasar saham dengan kinerja terburuk di dunia sepanjang 2026.

Dominasi Aksi Jual Asing

Kondisi pasar saat ini diperparah oleh derasnya arus keluar modal asing. Berdasarkan data perdagangan, aktivitas transaksi di Bursa Efek Indonesia (BEI) masih didominasi oleh investor asing dengan kontribusi sekitar 65,08 persen.

Namun, dominasi tersebut mencerminkan tren negatif yang masif, di mana nilai jual investor asing mencapai Rp14,74 triliun, sedangkan nilai beli tercatat hanya Rp12,69 triliun. Alhasil, terjadi net foreign sell sekitar Rp2,05 triliun dalam sehari. Sementara itu, investor domestik mencatatkan nilai beli sebesar Rp8,38 triliun dan nilai jual sebesar Rp6,33 triliun dengan kontribusi pasar 34,92 persen.

Krisis Rupiah dan Tekanan Eksternal

Bersamaan dengan anjloknya pasar saham, nilai tukar rupiah juga berada dalam kondisi yang sangat rentan dan sempat menembus level Rp18.042 per dolar AS, seperti terlihat pada data Google Finance.

Laporan Bloomberg mencatat bahwa sejak Prabowo dilantik, mata uang Indonesia telah melemah sekitar 14 persen dan menjadi mata uang dengan kinerja terburuk di Asia tahun ini. Tekanan ini bahkan memicu pasar opsi yang memperkirakan peluang 46 persen rupiah melemah ke level Rp19.000 per dolar AS pada akhir tahun ini, dan peluang 28 persen untuk turun ke level Rp20.000 per dolar AS dalam satu tahun ke depan.

Dalam laporan yang sama, Bloomberg menyebut bahwa investor global semakin kehilangan kepercayaan terhadap Indonesia. Faktor utamanya adalah kekhawatiran terhadap arah kebijakan pemerintah yang dinilai semakin populis dan intervensionis, serta ketidakpastian fiskal pasca keluarnya Sri Mulyani Indrawati dari posisi Menteri Keuangan.

George Boubouras, Head of Research K2 Asset Management, secara blak-blakan menyebut bahwa Indonesia menjadi target aksi jual terbesar di kawasan Asia.

"Perdagangan terbesar di Asia saat ini adalah menjual Indonesia," katanya dikutip dari Bloomberg.

Boubouras bahkan mengaku telah keluar sepenuhnya dari pasar Indonesia sejak 2024. "Saya tidak memiliki eksposur sama sekali ke Indonesia. Saya tidak akan memberi mereka kesempatan," ujarnya.

Senada dengan hal itu, Yuxuan Tang dari JPMorgan Private Bank menyebut ketidakpastian politik domestik sebagai risiko khas emerging market.

"Ketidakpastian politik domestik adalah risiko khas emerging market yang biasanya membuat investor global memilih menunggu di pinggir lapangan sampai prediktabilitas kembali muncul. Kami masih menyarankan sikap hati-hati saat ini," kata Tang.

Gary Tan, Portfolio Manager Allspring Global Investments, menambahkan bahwa kekhawatiran terbesar investor saat ini berpusat pada prospek rupiah yang bearish.

"Faktor utama di balik posisi short terhadap Indonesia adalah prospek rupiah yang bearish. Investor masih khawatir terhadap ketidakseimbangan makro dan kredibilitas kebijakan, khususnya dari sisi fiskal," ujarnya.

Tekanan di pasar juga memunculkan kekhawatiran terhadap peringkat utang Indonesia. Shamaila Khan dari UBS Asset Management mengingatkan bahwa status investment grade sangat sulit diperoleh tetapi sangat mudah hilang.

"Sangat sulit mendapatkannya dan sangat mudah kehilangannya. Kami ingin memastikan Indonesia tidak mengorbankan kebijakan-kebijakan yang selama ini memberikan manfaat besar bagi perekonomian," ujarnya.

Respon Bursa Efek Indonesia

Di tengah gejolak pasar, Direktur Utama BEI, Jeffrey Hendrik, meminta investor untuk tetap rasional dan fokus pada fundamental emiten. Menurutnya, kinerja emiten di bursa sebenarnya masih berada dalam kondisi yang sangat baik.

Berdasarkan laporan keuangan tahun buku 2025, laba perusahaan tercatat tumbuh lebih dari 21 persen. Sementara pada kuartal I 2026, emiten anggota indeks LQ45 membukukan pertumbuhan laba bersih sebesar 29,9 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, dengan 80 persen perusahaan tercatat berhasil membukukan laba bersih.

"Ini menandakan bahwa dasar-dasar perusahaan tercatat kami saat ini dalam kondisi baik. Tentunya ini bisa menjadi dasar untuk membuat keputusan bagi para investor," ujar Jeffrey di Gedung BEI, Kamis, 4 Juni 2026.

Terkait isu penurunan status Indonesia dari emerging market menjadi frontier market oleh MSCI, Jeffrey menegaskan bahwa itu adalah mis informasi.

"Kemarin ada informasi kurang akurat yang beredar terkait screenshot seakan-akan ada pengumuman MSCI bahwa Indonesia diletakkan di frontier market. Rupanya misinformasi," katanya.

"Mengenai MSCI, semua yang dapat kita katakan adalah hal-hal konkret yang telah kita lakukan. Kita punya harapan tingginya Indonesia akan tetap di emerging market." tambahnya.

Di sisi lain, aktivitas penawaran umum perdana saham (IPO) disebut masih berjalan normal. Direktur Penilaian Perusahaan BEI, I Gede Nyoman Yetna, menyampaikan bahwa saat ini terdapat 15 perusahaan dalam pipeline IPO—antrean calon emiten yang sedang menjalani proses menuju pencatatan saham di bursa—dan prosesnya terus dipantau agar berjalan tepat waktu.

"Masih sesuai jadwal, kami memiliki 15 perusahaan dalam proses. Tentunya kami memantau progresnya setiap hari bersama manajemen dan underwriter agar prosesnya dapat berjalan lebih cepat," kata Nyoman.

Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Liza Camelia Suryanata, menambahkan bahwa pasar saat ini tidak lagi mempertanyakan kemampuan Indonesia untuk bertumbuh, melainkan kredibilitas kebijakan ekonomi.

"Pasar tidak lagi mencari alasan untuk menjual. Pasar sedang mencari alasan untuk berhenti menjual," kata Liza.

Liza mengungkapkan bahwa saat ini pasar tidak lagi mempertanyakan kemampuan pertumbuhan ekonomi Indonesia, melainkan tengah menyoroti kredibilitas kebijakan nasional.

Menurutnya, terdapat lima kekhawatiran utama yang membebani sentimen investor, yakni isu tata kelola dan kredibilitas kebijakan pasca outlook negatif dari Moody's dan Fitch, tekanan rupiah yang mendekati level Rp18.000 per dolar AS, menyusutnya kelas menengah yang menjadi motor konsumsi domestik, berlanjutnya arus keluar modal asing (foreign outflow), serta meningkatnya risiko komunikasi kebijakan di mata investor global.

Ia mengungkapkan bahwa pasar kini tengah berada dalam fase menanti alasan untuk berhenti menjual, dengan menantikan hasil MSCI Global Market Accessibility Review, FTSE Russell Global Equity Index Series Review, serta MSCI Annual Market Classification Review yang akan menjadi ujian krusial bagi kredibilitas pasar modal Indonesia dalam dua minggu ke depan.(*)
 

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
DE
Jurnalis

Desty Luthfiani

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait