Makro 28 Apr 2026 Penulis: Moh. Alpin Pulungan Editor: Syahrianto

IHSG Tertinggal di Tengah Reli Asia, Kiwoom Soroti Fenomena Two-Speed Market

Kiwoom menilai pasar Asia kini terbelah dua, dengan Jepang dan Korea melaju cepat sementara IHSG tertahan oleh faktor struktural.

IHSG tertinggal di tengah reli Asia, Kiwoom soroti fenomena two-speed market dan lemahnya arus dana asing ke Indonesia.

IHSG tertinggal di tengah reli Asia, Kiwoom soroti fenomena two-speed market dan lemahnya arus dana asing ke Indonesia. Foto: Dok. KabarBursa.
IHSG tertinggal di tengah reli Asia, Kiwoom soroti fenomena two-speed market dan lemahnya arus dana asing ke Indonesia. Foto: Dok. KabarBursa.

KABARBURSA.COM — Pasar saham Indonesia kian tertinggal di tengah derasnya arus dana global yang beralih ke negara lain di Asia. Dalam tiga bulan terakhir, indeks tercatat turun sekitar 15 persen, sementara investor asing terus mencatatkan aksi jual bersih yang signifikan.

Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Liza Camelia Suryanata, menilai kondisi ini tidak sekadar dipicu faktor jangka pendek, melainkan mencerminkan perubahan struktur pasar yang lebih dalam.

“Kenyataannya, saat ini terlihat jelas terjadi ‘two-speed market’ di Asia, yaitu kondisi di mana pergerakan pasar terbagi dua arah,” tulis Liza dalam risetnya yang diterima KabarBursa.com, Selasa, 28 April 2026.

Ia menjelaskan, di satu sisi pasar Asia Utara seperti Jepang dan Korea Selatan melaju cepat didorong sektor teknologi dan pertumbuhan laba yang kuat. Di sisi lain, Indonesia masih tertahan, bukan karena fundamental yang lemah, melainkan akibat faktor struktural seperti likuiditas, transparansi, serta persepsi risiko yang belum sepenuhnya pulih.

Kondisi tersebut membuat daya tarik pasar saham domestik melemah di mata investor global. Sepanjang tahun berjalan, aksi jual bersih asing tercatat mencapai Rp41,5 triliun, dengan tekanan terbesar terjadi pada saham perbankan berkapitalisasi besar.

Di saat yang sama, nilai tukar rupiah juga masih tertahan di kisaran Rp17.200 hingga Rp17.300 per dolar AS, yang menjadi salah satu level terlemah sepanjang sejarah.

Tekanan ini mencerminkan kombinasi risiko global dan domestik yang belum sepenuhnya mereda. Meski proyeksi pertumbuhan ekonomi masih berada di atas 5,5 persen pada kuartal pertama dan kedua, narasi tersebut belum cukup kuat untuk menarik kembali aliran dana asing. “Realitanya, pasar masih menunggu katalis nyata sebelum berani berbalik masuk,” tulis Liza.

Secara regional, posisi Indonesia dinilai semakin terjepit. Di kawasan ASEAN, persaingan semakin agresif, sementara di Asia Utara, aliran dana global menguat seiring reli sektor teknologi.

Vietnam, misalnya, dijadwalkan naik kelas menjadi emerging market versi FTSE Russell mulai September 2026, yang berpotensi menarik arus dana baru. Sementara itu, Indonesia masih berada di kategori secondary emerging market dan sempat menghadapi tekanan terkait transparansi dan free float.

Preferensi investor global juga mulai terlihat lebih selektif. Manajer aset global seperti BlackRock disebut tengah menyiapkan produk investasi berbasis ASEAN dengan porsi awal yang lebih besar ke Singapura, yang dinilai memiliki likuiditas dan transparansi lebih baik.

Kontras semakin terlihat jika dibandingkan dengan Jepang dan Korea Selatan. Indeks Nikkei telah menembus level 60.000 dengan kenaikan sekitar 67,8 persen dalam setahun terakhir. Sementara itu, Kospi melonjak hingga di atas 6.600 atau naik sekitar 160,67 persen, didorong reli saham teknologi seperti sektor semikonduktor.

Dalam konteks ini, Indonesia dinilai tertinggal bukan karena valuasi yang mahal, melainkan karena kalah dalam narasi pertumbuhan dan positioning sektor di mata investor global. Akibatnya, meski valuasi pasar domestik relatif murah, kondisi tersebut belum cukup untuk menarik arus dana asing secara konsisten.

Di sisi lain, lembaga pemeringkat internasional mulai menunjukkan sikap lebih hati-hati. Moody’s masih mempertahankan peringkat Indonesia di level investment grade, namun dengan outlook negatif. Kondisi serupa juga terjadi pada empat bank besar nasional yang dipertahankan di level layak investasi oleh Fitch Ratings, tetapi dengan prospek memburuk.

Meski demikian, Liza menilai peluang Indonesia belum sepenuhnya tertutup. Dari sisi ekonomi riil, Indonesia masih memiliki daya tarik investasi langsung asing serta basis pasar domestik yang besar. Namun, tantangan utama terletak pada bagaimana kekuatan tersebut diterjemahkan ke dalam pasar keuangan yang lebih dalam, transparan, dan likuid.

Selama isu struktural tersebut belum sepenuhnya teratasi, pasar saham domestik diperkirakan masih berada dalam fase konsolidasi dan tertinggal dibandingkan pasar Asia lainnya. “IHSG cenderung tetap berada dalam fase konsolidasi dan relatif tertinggal dibandingkan pasar Asia lainnya,” kata Liza.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
MO
Ass. Redaktur

Moh. Alpin Pulungan

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait