Makro 21 Feb 2026 Penulis: Syahrianto Editor: Yunila Wati

Impor Migas Naik, Transaksi Berjalan RI Defisit USD2,5 Miliar

BI mencatat transaksi berjalan defisit USD2,5 miliar pada triwulan IV 2025 akibat impor migas.

BI mencatat transaksi berjalan defisit USD2,5 miliar pada 4Q25 akibat impor migas. Neraca pembayaran justru surplus USD6,1 miliar.

BI menyatakan defisit tersebut terjadi seiring peningkatan impor minyak dan gas pada akhir tahun. (Foto: Dok. KabarBursa)
BI menyatakan defisit tersebut terjadi seiring peningkatan impor minyak dan gas pada akhir tahun. (Foto: Dok. KabarBursa)

KABARBURSA.COM – Bank Indonesia (BI) melaporkan neraca transaksi berjalan pada triwulan IV 2025 mengalami defisit USD2,5 miliar atau setara 0,7 persen terhadap produk domestik bruto (PDB). Posisi ini berbalik dari triwulan III 2025 yang mencatat surplus USD4 miliar atau 1,1 persen terhadap PDB.

Dalam keterangannya, BI menyatakan defisit tersebut terjadi seiring peningkatan impor minyak dan gas pada akhir tahun. Otoritas moneter juga mencatat realisasi tersebut lebih baik dibandingkan ekspektasi konsensus yang memperkirakan defisit USD2,59 miliar.

Pada periode yang sama, neraca transaksi modal dan finansial mencatat surplus USD8,3 miliar. Posisi ini berbanding terbalik dengan triwulan III 2025 yang mengalami defisit USD8 miliar. Surplus tersebut menopang perbaikan struktur eksternal pada akhir tahun.

Dengan perkembangan tersebut, neraca pembayaran Indonesia pada triwulan IV-2025 mencatat surplus USD6,1 miliar. Pada triwulan sebelumnya, neraca pembayaran tercatat defisit USD6,4 miliar. Perubahan ini mencerminkan perbaikan arus transaksi eksternal dalam jangka pendek.

Secara kumulatif sepanjang 2025, defisit neraca transaksi berjalan tercatat USD1,5 miliar atau setara 0,1 persen terhadap PDB. Angka ini lebih rendah dibandingkan 2024 yang mencatat defisit USD8,6 miliar. 

Perbaikan tersebut menunjukkan penurunan tekanan eksternal dibandingkan tahun sebelumnya.

Di sisi lain, neraca transaksi modal dan finansial sepanjang 2025 mencatat defisit USD4,2 miliar. Kondisi ini dipengaruhi ketidakpastian global yang mendorong arus keluar modal portofolio. Tekanan eksternal tersebut memengaruhi dinamika arus investasi jangka pendek.

Perkembangan tersebut menyebabkan neraca pembayaran sepanjang 2025 mencatat defisit USD7,8 miliar. Pada 2024, neraca pembayaran masih mencatat surplus USD7,2 miliar. 

BI menegaskan bahwa defisit transaksi berjalan tetap dalam kisaran yang terjaga. Otoritas moneter menyebut defisit neraca transaksi berjalan akan tetap rendah di kisaran 0,1–0,9 persen terhadap PDB pada 2026. Proyeksi tersebut mencerminkan keyakinan terhadap ketahanan sektor eksternal.

Peningkatan impor minyak dan gas menjadi salah satu faktor utama pelebaran defisit pada triwulan IV 2025. Namun surplus pada transaksi modal dan finansial mampu menahan tekanan lebih lanjut terhadap neraca pembayaran.

Secara keseluruhan, data triwulan IV 2025 menunjukkan dinamika yang berbeda dibandingkan periode sebelumnya. Transaksi berjalan berbalik defisit, sementara transaksi modal dan finansial mencatat surplus signifikan. (*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
SY
Ass. Redaktur

Syahrianto

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait