Makro 03 Jul 2025 Penulis: Hutama Prayoga Editor: Pramirvan Datu

Investor Soroti Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi RI di 2026

IHSG terkoreksi ke 6.881 seiring kekhawatiran proyeksi ekonomi 2026 dan ketidakpastian global jelang tenggat tarif AS. Investor cenderung wait and see di sektor sensitif.

IHSG turun 0,49 persen ke 6.881 akibat sentimen proyeksi ekonomi RI 2026 dan tekanan global. Investor wait and see, fokus pada BMRI, MBMA, dan TOWR.

Logo Bursa Efek Indonesia (BEI) di depan gedung utama, Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta Selatan. (Foto: Dok KabarBursa)
Logo Bursa Efek Indonesia (BEI) di depan gedung utama, Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta Selatan. (Foto: Dok KabarBursa)

Daftar Isi

  1. 01 IHSG Uji Support Kuat

KABARBURSA.COM - Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG ditutup di zona merah usai turun sebesar 0,49 persen ke level 6.881 pada perdagangan Rabu, 2 Juli 2025. 

Pelemahan indeks ini tidak lepas dari perhatian investor terhadap proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia di tahun 2026.

Investor dinilai tengah menyoroti target pemerintah yang mencanangkan pertumbuhan ekonomi Indonesia di kisaran 5,2 - 5,8 persen secara Year on Year (YoY) pada 2026. 

Rencana pertumbuhan tersebut disampaikan langsung Menteri Keuangan Sri Mulyani, dalam merespon ketidakpastian global yang masih terjadi. 

Analis pasar modal sekaligus Founder Stocknow.id Hendra Wardana mengatakan, investor kini mulai mencerna lebih serius proyeksi pemerintah terhadap perekonomian 2026. Menurutnya, kondisi ini cukup mempengaruhi pasar saham Indonesia. 

"Ketidakpastian ini menahan minat beli jangka pendek di pasar saham, khususnya pada sektor-sektor yang sensitif terhadap gejolak global seperti manufaktur, perdagangan, dan perbankan," ujar dia kepada KabarBursa.com, Kamis, 3 Juli 2025.

Selain dari dalam negeri, pelemahan IHSG juga datang dari sentimen mancanegara. Hendra menilai investor saat ini tengah berhati-hati jelang tenggat berakhirnya penundaan tarif impor Amerika Serikat 9 Juli 2025 mendatang. 

"Tekanan ini bukan semata karena teknikal, melainkan juga disebabkan oleh meningkatnya ketidakpastian kebijakan dagang global yang tercermin dalam lonjakan Trade Policy Uncertainty Index ke kisaran 8.000, serta menguatnya Volatility Index (VIX) di pasar global," jelasnya. 

Hendra menyampaikan, pasar Asia secara umum juga melemah, sejalan dengan kekhawatiran atas arah kebijakan fiskal AS dan kemungkinan pelemahan ekonomi global. 

"Sehingga arus modal cenderung berpindah ke aset yang lebih aman. Kondisi ini diperburuk dengan menguatnya dolar AS, yang turut menekan nilai tukar rupiah dan membuat investor domestik lebih berhati-hati," katanya. 

IHSG Uji Support Kuat

Secara teknikal, Hendra melihat IHSG kini menguji support kuat di area 6.840–6.820, dan bila bertahan di atas level ini, potensi rebound jangka pendek ke area 6.950–7.000 masih terbuka. 

"Namun, jika tekanan global terus berlanjut dan rupiah tak kunjung stabil, penurunan bisa berlanjut ke kisaran 6.750–6.700," ungkapnya. 

Meski demikian, Hendra menyatakan masih terdapat peluang untuk strategi akumulasi selektif, terutama pada saham-saham yang memiliki katalis domestik kuat dan tahan terhadap volatilitas global. 

Menurutnya, saham PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) masih direkomendasikan beli dengan target harga 5.150, mengingat fundamental kuat, eksposur besar pada sektor produktif. 

Ada pula, lanjut dia, saham PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) yang dinilai juga menarik dikoleksi pada pelemahan ini, dengan target harga 530 seiring meningkatnya perhatian global terhadap transisi energi dan bahan baku kendaraan listrik. 

"Sementara itu, PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR) juga patut diperhatikan dengan target harga 525, karena permintaan infrastruktur digital dan jaringan 5G tetap tumbuh stabil meski dalam kondisi ekonomi yang penuh tekanan," pungkasnya.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
HU
Ass. Redaktur

Hutama Prayoga

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait