Makro 08 Jun 2026 Penulis: Syahrianto Editor: Yunila Wati

Israel Serang Beirut Lagi, Harga Minyak Dunia Mendadak Lompat Segini!

Harga minyak mentah dunia langsung meroket pada perdagangan Senin pagi setelah Israel meluncurkan serangan udara.

Harga minyak mentah Brent dan WTI melonjak tajam setelah serangan udara Israel ke Beirut merusak rencana gencatan senjata. Simak rincian harga terbarunya.

Ilustrasi: Alat pengangkat minyak dari dalam tanah. (Foto: Pexels/Jan Zakelj)
Ilustrasi: Alat pengangkat minyak dari dalam tanah. (Foto: Pexels/Jan Zakelj)

Daftar Isi

  1. 01 Serangan Israel turut Melemahkan Futures Bursa AS

KABARBURSA.COM – Harga minyak melesat naik lebih dari USD2 per barel pada awal perdagangan hari Senin, 8 Juni 2026. 

Lonjakan ini terjadi setelah Israel pada hari Minggu meluncurkan serangan ke wilayah Beirut untuk pertama kalinya sejak Amerika Serikat mengumumkan rencana gencatan senjata untuk Lebanon.

Sebagaimana dilansir Reuters, kontrak berjangka (futures) minyak mentah AS naik sebesar USD2,57 menjadi USD93,11 per barel pada pukul 22.15 GMT. 

Sementara itu, kontrak berjangka minyak mentah Brent melonjak sebesar USD2,67 menjadi USD95,76 per barel.

Serangan Israel turut Melemahkan Futures Bursa AS

Kontrak berjangka (stock futures) saham melemah pada Minggu malam setelah Iran dilaporkan meluncurkan rudal ke Israel. Aksi ini membahayakan gencatan senjata yang rapuh dan mempertinggi ketidakpastian pasar pasca-aksi jual tajam pada indeks Nasdaq pekan lalu.

Seperti dilansir CNBC, kontrak berjangka yang terikat dengan Dow Jones Industrial Average kehilangan 80 poin atau melemah 0,2 persen. Kontrak berjangka S&P 500 dan Nasdaq 100 masing-masing juga ikut mengalami penurunan sebesar 0,2 persen.

Laporan serangan oleh Iran ini memicu kekhawatiran baru mengenai stabilitas gencatan senjata antara Washington dan Teheran. Serangan rudal yang dilaporkan tersebut menyusul sebuah unggahan di media sosial X oleh Ketua Parlemen Iran, MB Ghalibaf, yang berargumen bahwa blokade angkatan laut Amerika Serikat (AS) dan dugaan pelanggaran kesepakatan terkait Lebanon merupakan bentuk pelanggaran terhadap gencatan senjata.

Pada hari Jumat, indeks Nasdaq Composite jatuh 4,18 persen ke level 25.709,43, yang menjadi penurunan terbesar sejak April 2025. Indeks S&P 500 merosot 2,64 persen dan ditutup pada level 7.383,74, sementara Dow Jones kehilangan 695 poin untuk mengakhiri pekan pada level 50.866,78, sehari setelah mencetak rekor tertinggi baru. 

Sepanjang pekan lalu, S&P 500 turun lebih dari 2 persen, Nasdaq jatuh 4,7 persen, dan Dow Jones bergerak sedikit lebih rendah.

Kemerosotan pada hari Jumat tersebut menyusul rilis data laporan tenaga kerja bulan Mei yang lebih kuat dari perkiraan. Data tersebut mengerek imbal hasil obligasi pemerintah (Treasury yields) dan memperparah kekhawatiran bahwa tingginya biaya pendanaan dapat membebani perusahaan-perusahaan yang tengah berinvestasi besar-besaran dalam ekspansi kecerdasan buatan (AI).

“Pasar saham mungkin menjadi korban dari kesuksesannya sendiri,” kata Callie Cox, kepala strategi pasar di Ritholtz Wealth Management. “Pasar tenaga kerja telah berbalik arah, namun ancaman inflasi tinggi yang persisten tampaknya menjadi risiko yang membayangi pikiran setiap orang.”

“Pertumbuhan dan momentum telah melampaui hampir segalanya sejak titik terendah pada bulan Maret,” tambahnya. “Hal itu bukanlah sesuatu yang Anda harapkan dalam lingkungan suku bunga tinggi dan inflasi tinggi, dan strategi investasi ini mungkin rentan terhadap kekecewaan jika tekanan biaya tetap tinggi.”

Pada pekan ini, investor akan berfokus pada data inflasi dan debut publik perusahaan SpaceX milik Elon Musk pada hari Jumat. Penawaran umum tersebut diperkirakan akan menjadi salah satu yang terbesar dalam sejarah Wall Street dan bisa menjadi ujian terbesar bagi pasar terhadap narasi valuasi AI.

“Penawaran umum berskala blockbuster telah menandai puncak dari ekses siklus pasar di masa lalu, sehingga tampaknya ada keheningan yang canggung seputar apa yang bisa disinyalkan oleh hal ini terhadap sentimen pasar,” kata Cox. “Banyak investor tampaknya menahan diri dan skeptis, namun dapatkah temperamen seperti itu bertahan ketika IPO terbesar sepanjang masa sudah di depan mata?”

Investor juga akan mencermati laporan Indeks Harga Konsumen (IHK) dan Indeks Harga Produsen (IHP) bulan Mei —yang masing-masing akan dirilis pada hari Rabu dan Kamis— yang diperkirakan akan mengindikasikan tekanan inflasi yang terus berlanjut.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
SY
Ass. Redaktur

Syahrianto

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait