Makro 29 Aug 2025 Penulis: Hutama Prayoga Editor: Pramirvan Datu

Jadi Sentimen Negatif, Pengamat: Gejolak Sosial Bikin Investor Kabur

IHSG jatuh ke 7.879 terdampak gejolak sosial dan politik di Indonesia, sektor properti dan infrastruktur tertekan, pasar menunggu sinyal stabilitas pemerintah.

IHSG melemah 0,91 persen ke 7.879 akibat gejolak sosial. Investor asing dan domestik melepas portofolio, pasar menunggu kepastian stabilitas politik.

Ilustrasi: Protes (unjuk rasa) di Jakarta dan IHSG turun. Foto: AI untuk KabarBursa.
Ilustrasi: Protes (unjuk rasa) di Jakarta dan IHSG turun. Foto: AI untuk KabarBursa.

Daftar Isi

  1. 01 IHSG Masih Rapuh
  2. 02 IHSG Masih Berpotensi Konsolidasi

KABARBURSA.COM - Gejolak sosial yang terjadi di Indonesia beberapa hari terakhir menyebabkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ikut terdampak. 

Pada perdagangan Jumat, 29 Agustus 2025, IHSG dibuka melemah 0,91 persen ke level 7.879. Mengutip Stockbit, hampir seluruh sektoral mengalami pelemahan pada pembukaan pagi ini. 

Sektor properti terlihat yang mengalami koreksi paling dalam sebesar 1,90 persen, diposisi kedua ada infrastruktur yang melemah 1,86 persen. 

Sektor barang siklikal dan barang dasar juga tidak luput dari tekanan dengan penurunan masing-masing 1,65 persen dan 1,55 persen. Sementara itu, sektor teknologi turun 0,83 persen, energi 0,88 persen, keuangan 1,05 persen, serta transportasi 0,96 persen.

Penurunan lebih terbatas terjadi pada sektor industri yang melemah 0,39 persen, kesehatan 0,65 persen, dan non-siklikal 0,67 persen.

IHSG Masih Rapuh 

Pengamat Pasar Modal sekaligus founder Republik Investor Hendra Wardana mengatakan, anjloknya IHSG mencerminkan rapuhnya psikologis pasar terhadap gejolak politik dan keamanan di dalam negeri.

Ia mengatakan aksi massa yang merebak di Jakarta dan sejumlah daerah menjadi sentimen negatif karena meningkatkan ketidakpastian politik. Hal ini membuat investor asing maupun pun domestik melepas portfolio di pasar saham Indonesia. 

"Pasar modal sangat sensitif terhadap isu stabilitas. Begitu muncul potensi risiko keamanan, investor asing maupun domestik cenderung menahan diri, bahkan melepas portofolio untuk mengamankan posisi likuid," ujar dia dalam risetnya kepada Kabarbursa.com, Jumat, 29 Agustus 2025.

Gejolak sosial ini diperparah oleh respons pemerintah yang dinilai belum tepat. Alih-alih menjalin komunikasi terbuka dengan masyarakat, kata Hendra, langkah yang muncul justru berupa himbauan work from home (WFH) bagi anggota DPR. 

Ia menilai kebijakan ini menimbulkan persepsi bahwa pemerintah dan wakil rakyat lebih memilih menjauh ketimbang mendengar aspirasi langsung. 

"Padahal, pasar butuh sinyal stabilitas dan kepastian. Dalam ekonomi, persepsi sering kali lebih kuat pengaruhnya dibanding fakta di lapangan," ungkapnya. 

Tak mengherankan jika situasi ini menjadi sorotan media internasional. Hendra menyebut jika investor global yang memantau Indonesia melihat adanya eskalasi ketidakpastian politik, yang berujung pada aksi jual di pasar keuangan.

"Inilah sebabnya IHSG cepat merespons dan tertekan signifikan. Kondisi serupa juga dialami nilai tukar rupiah yang ikut berfluktuasi," tuturnya. 

IHSG Masih Berpotensi Konsolidasi

Secara teknikal, menurut analisa Hendra, IHSG kini bergerak mendekati area support penting di kisaran gap 7.800–7.840. Area ini diperkirakan akan menjadi penahan pertama bagi tekanan jual. 

Ia menyampaikan jika level tersebut berhasil bertahan, ada peluang IHSG kembali konsolidasi. Namun bila jebol, risiko koreksi lebih dalam bisa terbuka. 

"Oleh karena itu, banyak pelaku pasar saat ini memilih strategi defensif sembari menunggu kepastian arah kebijakan pemerintah," ungkapnya.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
HU
Ass. Redaktur

Hutama Prayoga

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait