Makro 09 Jun 2026 Penulis: Gusti Ridani Editor: Syahrianto

JK Ungkap 3 Sinyal Merosotnya Ekonomi: Rupiah Anjlok, Daya Beli Ambruk, dan Kriminalitas Melejit

Jusuf Kalla menilai pelemahan rupiah, turunnya daya beli, dan meningkatnya kriminalitas menjadi alarm ekonomi yang perlu diwaspadai.

Jusuf Kalla membeberkan tiga indikator ekonomi yang memburuk, mulai dari rupiah melemah, daya beli turun, hingga kriminalitas akibat pengangguran.

Jusuf Kalla membeberkan tiga indikator ekonomi yang memburuk, mulai dari rupiah melemah, daya beli turun, hingga kriminalitas akibat pengangguran. Foto: Dok. Paramadina.
Jusuf Kalla membeberkan tiga indikator ekonomi yang memburuk, mulai dari rupiah melemah, daya beli turun, hingga kriminalitas akibat pengangguran. Foto: Dok. Paramadina.

Daftar Isi

  1. 01 Pengangguran Picu Kriminalitas Jalanan

KABARBURSA.COM — Wakil Presiden Indonesia ke-10 dan ke-12, Jusuf Kalla (JK), membeberkan indikator nyata yang menunjukkan kondisi perekonomian nasional sedang tidak baik-baik saja. Sentimen negatif ini terlihat jelas dari pelemahan nilai tukar rupiah, anjloknya daya beli masyarakat di pasar riil, hingga meningkatnya angka kriminalitas akibat pengangguran.

Jusuf Kalla menyoroti posisi nilai tukar rupiah yang terus tertekan hingga menembus level Rp18.200 per dolar AS. Menurutnya, pelemahan ini adalah cerminan dari merosotnya kepercayaan masyarakat terhadap mata uang sendiri.

"Kenapa rupiah menurun dan dolar naik? Ya karena orang banyak simpan dolar karena tidak percaya kepada rupiah. Makin banyak orang simpan dolar, nah itu berarti nilai rupiah makin turun karena orang lepas rupiahnya. Itu supply and demand," ujar JK dalam sebuah seminar publik terkait kebijakan ekonomi dan menejemen krisis, Selasa, 9 Juni 2026.

JK meminta publik dan pengambil kebijakan tidak terkecoh oleh indikator bursa saham (pasar modal) atau klaim ramainya pusat perbelanjaan. Ia memisahkan kondisi ekonomi menjadi dua: pasar modal di bursa dan pasar fisik atau pasar riil seperti Pasar Tanah Abang dan Pasar Senen.

Menurut JK, ramainya mal saat ini tidak mencerminkan daya beli masyarakat yang sesungguhnya. Ia membagi alasan masyarakat pergi ke mal menjadi tiga motif: belanja, makan, atau sekadar mencari udara dingin karena keterbatasan fasilitas di rumah.

"Kalau mau lihat mal itu daya beli menurun, lihat orang di mal itu berapa orang yang bawa tas plastik? Salah satu kita lihat tuh orang bawa tas plastik kurang. Yang rame itu tempat dingin, kulinernya," papar JK analitis.

Sebaliknya, penurunan drastis justru terjadi di pasar modal dan pasar fisik akibat hilangnya prospek keuntungan. Saham-saham sektor komoditas tambang dan perbankan kakap yang dulu meraup laba puluhan triliun rupiah kini mulai dilepas oleh para investor.

"Sekarang tidak lagi, maka saham tambang turun. Orang berpikir dalam kondisi begini ekonomi pasti turun keuntungannya, maka orang menjual saham perbankan, turunlah nilainya. Itu pasar modal. Kalau pasar riil, pasar fisik, itu tergantung kemampuan daya beli orang," jelasnya.

Pengangguran Picu Kriminalitas Jalanan

Dampak paling mengkhawatirkan dari kelesuan ekonomi ini, lanjut JK, sudah merembet ke sektor sosial. Ia mengaitkan maraknya aksi pembegalan dan pencurian yang menghiasi pemberitaan media massa sebagai indikator langsung dari melonjaknya angka pengangguran.

"Orang curi sepeda motor, ada begal kan? Begal sudah banyak, banyak kriminal. Itu berarti banyak menganggur, banyak orang tidak ada pekerjaan. Kenapa begini? Ya karena memang uang kurang. Kurang makan, kurang mau biayai anaknya, tidak ada cara lain selain dia berbuat yang tidak sesuai," tegas JK.

Menghadapi ancaman krisis besar ini, JK mendorong institusi pendidikan tinggi dan para akademisi untuk berani bersuara guna memberikan solusi konkret kepada pemerintah. Sayangnya, ia menilai dunia akademik saat ini dilingkupi rasa takut akibat intervensi struktural.

Ia secara blak-blakan menyentil salah satu universitas negeri papan atas yang kini dinilainya cenderung cari aman karena jajaran rektoratnya merangkap jabatan di korporasi pelat merah.

"Universitas negeri sekarang hampir tidak ada berkomentar. Kasihan juga. Kan rektornya diancam kalau macam-macam. Universitas-nya Komisaris Mandiri? Ah rektornya. Jadi yang selalu berkomentar dosen sebenarnya, nah dosen ketakutan nanti rektornya takut nanti tidak dipilih lagi oleh pemerintah. Supaya dipilih lagi, makanya dia cari aman saja," sindir JK.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
GU
Jurnalis Madya

Gusti Ridani

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait