Makro 14 Oct 2025 Penulis: Syahrianto Editor: Yunila Wati

Kepastian ini bikin Harga Minyak Brent dan WTI Menguat

Harga minyak Brent dan WTI naik setelah Trump-Xi bertemu, OPEC pertahankan proyeksi permintaan.

Harga minyak Brent dan WTI naik setelah Trump-Xi bertemu, OPEC pertahankan proyeksi permintaan, prospek perdamaian Timur Tengah menahan kenaikan.

Ilustrasi: Fasilitas rig minyak (Foto: Pexels/Joseph Martin)
Ilustrasi: Fasilitas rig minyak (Foto: Pexels/Joseph Martin)

KABARBURSA.COM – Harga minyak menanjak pada Senin, 13 Oktober 2025, setelah adanya kepastian bahwa Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump akan bertemu dengan Presiden China Xi Jinping pada akhir Oktober. 

Pernyataan ini meredakan ketegangan perdagangan antara dua ekonomi terbesar dunia yang sempat mendorong harga minyak mentah menuju level terendah lima bulan pada Jumat lalu.

Seperti dilansir Reuters, futures Brent naik 59 sen atau 0,9 persen menjadi USD 63,32 per barel, sementara futures West Texas Intermediate (WTI) AS juga ditutup naik 59 sen, atau 1 persen, di level USD 59,49 per barel.

Kedua kontrak sempat anjlok sekitar 4 persen pada Jumat lalu setelah Trump sempat mengancam membatalkan pertemuan dengan Xi dan memberlakukan tarif baru yang tajam terhadap impor dari China.

Namun, Menteri Keuangan AS Scott Bessent menegaskan pada Senin bahwa pertemuan kedua pemimpin tetap akan digelar di Korea Selatan pada akhir Oktober. Bessent juga menekankan adanya komunikasi intens antara kedua pihak selama akhir pekan.

“Kami telah berhasil meredakan ketegangan secara signifikan,” ujar Bessent dalam wawancara dengan Fox Business Network.

Analis DBS, Suvro Sarkar, menilai bahwa aksi jual di pasar kini mulai terbatas karena kesediaan Washington dan Beijing untuk berunding. Prospek jangka pendek akan sangat bergantung pada hasil akhir pembicaraan perdagangan.

Harga minyak sempat terpuruk pada Maret dan April di puncak ketegangan perdagangan kedua negara. Menurut analis PVM Energy, “Setiap penurunan perdagangan internasional hanya akan memberikan tekanan negatif bagi harga minyak.”

Dari sisi permintaan, impor minyak mentah China pada September tercatat naik 3,9 persen dibandingkan tahun sebelumnya, mencapai 11,5 juta barel per hari, menurut data bea cukai. 

Sementara itu, Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) mempertahankan proyeksi pertumbuhan permintaan minyak global yang relatif tinggi untuk tahun ini dan tahun depan.

Dalam laporan bulanan Senin, OPEC memperkirakan defisit pasokan minyak akan jauh lebih kecil pada 2026, seiring langkah kelompok OPEC+ untuk terus menambah produksi.

Di sisi geopolitik, harapan perdamaian di Timur Tengah membatasi kenaikan harga minyak. Kelompok militan Palestina, Hamas, membebaskan 20 sandera Israel terakhir pada Senin, sebagai bagian dari kesepakatan gencatan senjata yang dimediasi AS.

Trump menyebut peristiwa ini sebagai “fajar historis Timur Tengah baru” setelah dua tahun perang di Gaza. Namun, para pedagang masih menunggu bukti perdamaian yang bertahan sebelum memasukkan faktor ini ke perhitungan harga minyak, catat analis PVM.

“Pasar minyak tetap skeptis, menilai dengan harga, apakah kekerasan baru-baru ini akan memberi pengaruh bullish. Pasar juga akan menunggu bukti gencatan senjata yang bertahan lebih dari beberapa hari,” tambah mereka. (*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
SY
Ass. Redaktur

Syahrianto

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait