Makro 17 Mar 2026 Penulis: Moh. Alpin Pulungan Editor: Syahrianto

Kiwoom: Jika Minyak Stabil di Bawah USD100, IHSG Punya Napas Kedua

Kiwoom Sekuritas menilai IHSG berpotensi rebound jika harga minyak stabil di bawah USD100 di tengah tekanan global dan sentimen energi.

Kiwoom menyebut IHSG bisa rebound jika harga minyak stabil di bawah USD100. Tekanan pasar dinilai dipicu sentimen global dan energi.

Kiwoom menyebut IHSG bisa rebound jika harga minyak stabil di bawah USD100. Tekanan pasar dinilai dipicu sentimen global dan energi. Foto: Dok. KabarBursa
Kiwoom menyebut IHSG bisa rebound jika harga minyak stabil di bawah USD100. Tekanan pasar dinilai dipicu sentimen global dan energi. Foto: Dok. KabarBursa

Daftar Isi

  1. 01 Sentimen Global dan Domestik

KABARBIRSA.COM — Pasar saham Indonesia memang tengah tertekan, tetapi belum kehilangan peluang untuk bangkit. Di tengah gejolak geopolitik di Timur Tengah yang disertai lonjakan harga energi global, arah pergerakan IHSG kini sangat ditentukan oleh harga minyak dunia.

Tim riset Kiwoom Sekuritas melihat tekanan yang terjadi saat ini lebih merupakan respons pasar terhadap kombinasi risiko global dan domestik, khususnya dari sisi energi dan kebijakan moneter. Dalam analisis Kiwoom, pergerakan IHSG ke depan sangat bergantung pada perkembangan konflik serta arah harga minyak dunia.

“Jika konflik mereda dan harga minyak kembali stabil di bawah USD100 per barel, sebagian tekanan terhadap pasar Indonesia berpotensi mereda, perfect reason for a technical rebound from psychological level 7000 (alasan yang kuat untuk terjadinya rebound teknikal dari level psikologis 7000),” tulis Kiwoom Sekuritas dalam risetnya yang dikutip Selasa, 17 Maret 2026.

Pandangan Kiwoom itu menjadi titik terang di tengah koreksi tajam IHSG dalam beberapa hari terakhir. Kemarin, IHSG sempat terperosok hingga 6.917 sebelum ditutup di level 7.022, terkoreksi 114,9 poin atau 1,61 persen, sekaligus menembus batas psikologis 7.000.

Namun pada perdagangan Selasa, 17 Maret 2026, IHSG mulai menunjukkan respons awal. Indeks ditutup menguat ke level 7.106,84 atau naik sekitar 84,55 poin setara 1,20 persen secara harian, meski secara bulanan masih terkoreksi dalam, turun lebih dari 13 persen.

Secara teknikal, pergerakan ini mengindikasikan fase technical rebound awal setelah tekanan jual yang cukup dalam. Dari grafik intraday, IHSG sempat menyentuh area bawah di kisaran 7.060 sebelum berbalik naik dan ditutup mendekati area resistance jangka pendek di sekitar 7.120.

Pergerakan harga juga mulai bergerak di atas MA20 di kisaran 7.097, sementara masih berdekatan dengan MA100 di area 7.076. Kondisi ini menunjukkan adanya upaya pasar untuk kembali ke jalur konsolidasi setelah sebelumnya breakdown dari level 7.000. Di sisi lain, indikator MACD terlihat mulai mendatar setelah fase negatif, mengindikasikan momentum bearish mulai mereda, meski belum sepenuhnya berbalik menjadi tren naik yang kuat.

Secara keseluruhan, penguatan ini masih berada dalam kategori rebound teknikal, bukan pembalikan tren. Selama IHSG belum mampu menembus area 7.150–7.200 secara konsisten, pergerakan indeks masih rentan terhadap tekanan lanjutan, terutama jika sentimen global kembali memburuk.

Sentimen Global dan Domestik

Tekanan yang terjadi tidak berdiri sendiri. Kombinasi sentimen global dan domestik datang hampir bersamaan, menciptakan kondisi pasar yang rapuh dalam jangka pendek. Dari sisi global, eskalasi konflik Amerika Serikat dan Iran mendorong lonjakan harga minyak sekaligus meningkatkan kekhawatiran gangguan pasokan energi.

Jika harga minyak bergerak ke kisaran USD120 hingga USD150 per barel, bahkan dalam skenario ekstrem menuju USD200, tekanan inflasi global akan meningkat. Berdasarkan data Trading Economics, harga minyak global masih bergerak fluktuatif di tengah ketidakpastian konflik Timur Tengah. Per Selasa hari ini, 17 Maret 2026, kontrak berjangka minyak mentah WTI kembali naik di atas USD98 per barel atau sekitar Rp1,65 juta, setelah sempat tertekan pada sesi sebelumnya.

Pergerakan ini mencerminkan sikap pasar yang masih menimbang dampak konflik terhadap pasokan energi global. Iran dilaporkan meningkatkan serangan terhadap infrastruktur energi di kawasan tersebut, sementara sebagian besar negara belum merespons ajakan Presiden AS Donald Trump untuk ikut mengamankan aktivitas komersial di Selat Hormuz.

Kondisi ini membuat ekspektasi penurunan suku bunga global ikut bergeser. “Survei terbaru menunjukkan ekspektasi pemangkasan Fed Rate tahun ini turun drastis menjadi 1x, dibandingkan sekitar 2x pada awal tahun,” tulis Kiwoom.

Pasar kini lebih berhati-hati membaca arah kebijakan moneter Amerika Serikat. Fokus investor bukan lagi pada keputusan suku bunga semata, melainkan sinyal lanjutan dari bank sentral mengenai arah inflasi dan durasi suku bunga tinggi.

Jika suku bunga bertahan lebih lama, yield obligasi Amerika Serikat berpotensi naik, dolar menguat, dan tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, semakin besar. Saat ini, rupiah sendiri sudah mendekati level psikologis 17.000 per USD.

Di sisi lain, arus modal asing juga mulai menunjukkan tekanan. Sepanjang tahun berjalan, tercatat foreign net sell mencapai Rp22,37 triliun di pasar reguler. Kondisi ini memperlihatkan kecenderungan investor global untuk mengalihkan dana ke aset yang dianggap lebih aman.

Yield US10YT: 4.27 persen, dibanding ID10YT: 6.82 persen (spread semakin menyempit, surat utang Indonesia makin kalah bersaing),” tulis riset Kiwoom yang dikepalai Liza Camelia Suryanata itu.

Dari dalam negeri, tekanan bertambah dengan kerentanan sektor energi. Ketergantungan Indonesia terhadap impor minyak membuat lonjakan harga global langsung berdampak pada fiskal dan stabilitas ekonomi.

Cadangan BBM nasional yang disebut hanya cukup sekitar 20 hari memperkuat kekhawatiran pasar terhadap ketahanan energi. Di saat yang sama, pemerintah menghadapi dilema antara menjaga harga BBM tetap stabil atau menambah beban subsidi.

Wacana pelebaran defisit anggaran di atas 3 persen turut menambah ketidakpastian. Investor mulai mencermati risiko terhadap persepsi lembaga pemeringkat dan potensi kenaikan premi risiko Indonesia.

Namun di tengah tekanan tersebut, pasar tidak sepenuhnya kehilangan arah. Yang sedang terjadi bukan semata penurunan tanpa dasar, melainkan proses penyesuaian terhadap berbagai skenario risiko global. “Yang sedang dipricing pasar bukan hanya kondisi sekarang, tetapi skenario setelah Lebaran,” tulis Kiwoom.

Dalam konteks ini, arah IHSG ke depan akan sangat ditentukan oleh perkembangan eksternal, terutama harga energi dan dinamika geopolitik. Jika tekanan global mereda dan harga minyak kembali stabil di bawah USD100 per barel, ruang pemulihan terbuka. Koreksi yang terjadi saat ini bisa jadi bukan akhir dari tren, melainkan fase penyesuaian menuju titik keseimbangan baru.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
MO
Ass. Redaktur

Moh. Alpin Pulungan

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait