Makro 04 Mar 2026 Penulis: Moh. Alpin Pulungan Editor: Syahrianto

Kiwoom Sebut APEX hingga ADRO Berpotensi Dapat Sentimen dari Lonjakan Harga Energi

Riset Kiwoom menyoroti saham migas dan batu bara seperti APEX, ENRG, ELSA, MEDC hingga ADRO yang berpotensi terdorong kenaikan harga energi global.

Kiwoom menilai saham energi seperti APEX, ENRG, ELSA, MEDC hingga ADRO berpotensi mendapat sentimen dari lonjakan harga minyak global.

Kiwoom menilai saham energi seperti APEX, ENRG, ELSA, MEDC hingga ADRO berpotensi mendapat sentimen dari lonjakan harga minyak global. Foto: Freepik
Kiwoom menilai saham energi seperti APEX, ENRG, ELSA, MEDC hingga ADRO berpotensi mendapat sentimen dari lonjakan harga minyak global. Foto: Freepik

KABARBURSA.COM — Lonjakan harga minyak dunia akibat eskalasi konflik di Timur Tengah mulai menggeser perhatian investor di Bursa Efek Indonesia. Ketika sebagian sektor menghadapi risiko tekanan biaya, saham-saham energi justru masuk radar pasar karena berpotensi mendapat dorongan sentimen dari kenaikan harga komoditas global.

Riset terbaru Kiwoom Sekuritas Indonesia menyebut emiten energi menjadi kelompok yang paling sensitif terhadap perubahan harga minyak dan energi global. “Emiten migas seperti APEX, ENRG, ELSA, MEDC serta batu bara seperti AADI, ADRO, ITMG, PTBA berpotensi mendapat sentimen positif jika harga energi global naik,” tulis Kiwoom Sekuritas dalam risetnya, Rabu, 4 Maret 2026.

Analisis tersebut muncul di tengah lonjakan harga minyak dunia yang dipicu ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Pasar energi global kembali memanas karena kekhawatiran gangguan distribusi minyak. Salah satu titik paling sensitif berada di Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang dilalui sekitar 20 persen perdagangan minyak dunia. Setiap gangguan di kawasan ini hampir selalu langsung tercermin dalam pergerakan harga minyak.

Data pasar menunjukkan harga minyak Brent yang pada 27 Februari 2026 masih berada di sekitar USD72,48 per barel mulai bergerak naik tajam pada awal Maret. Dalam hitungan hari, harga Brent melonjak ke kisaran USD81 hingga USD82 per barel. Jika dihitung dari posisi sebelum konflik meningkat, kenaikan tersebut mencapai sekitar USD9,35 atau sekitar 13 persen.

Pergerakan ini bahkan sempat membawa Brent diperdagangkan di sekitar USD82,57 per barel. Level tersebut menjadi yang tertinggi sejak Januari 2025, menandakan pasar mulai memasukkan risiko geopolitik ke dalam harga energi global.

Sejumlah analis energi menilai kenaikan ini masih bisa berlanjut jika konflik di kawasan tersebut tidak mereda. Dalam skenario moderat, harga Brent diperkirakan dapat bertahan di kisaran USD80 hingga USD90 per barel. Namun jika distribusi minyak global terganggu lebih serius, terutama jika jalur tanker melalui Selat Hormuz terhambat, harga minyak berpotensi menembus USD100 per barel. Skenario inilah yang kemudian memunculkan kekhawatiran mengenai potensi shock energi global.

Bagi Indonesia, lonjakan harga minyak dunia memiliki dampak yang jauh lebih langsung dibandingkan banyak negara produsen energi. Struktur energi nasional membuat Indonesia sangat sensitif terhadap fluktuasi harga minyak karena konsumsi domestik jauh lebih besar dibandingkan produksi.

Data energi menunjukkan konsumsi minyak Indonesia mencapai sekitar 1.626.878 barel per hari pada 2024. Sementara produksi domestik hanya berada di kisaran 840.868 barel per hari. Artinya terdapat selisih pasokan sekitar 786.010 barel per hari yang harus dipenuhi melalui impor minyak mentah maupun bahan bakar.

Kondisi ini semakin terlihat dari data lifting minyak terbaru pemerintah yang pada 2025 hanya berada di sekitar 608 ribu barel per hari. Angka tersebut bahkan lebih rendah dari produksi beberapa tahun sebelumnya, sementara konsumsi energi nasional terus meningkat. Ketimpangan antara produksi dan konsumsi membuat Indonesia masuk dalam kategori net oil importer, yakni negara yang lebih banyak mengimpor minyak daripada memproduksinya.

Ketergantungan tersebut tercermin dari besarnya impor energi nasional. Pada 2023, Indonesia tercatat mengimpor sekitar 132 juta barel minyak mentah. Selain itu, Indonesia juga mengimpor sekitar 26,9 miliar liter bahan bakar minyak serta sekitar 6,95 juta ton LPG untuk memenuhi kebutuhan energi domestik.

Dalam jangka panjang, ketergantungan terhadap impor energi bahkan terus meningkat. Data menunjukkan impor minyak dan produk energi Indonesia meningkat sekitar 91 persen sejak 2001 hingga 2021. Tren ini menunjukkan bahwa ekonomi domestik semakin rentan terhadap volatilitas harga energi global.

Selain produksi yang terbatas, kapasitas pengolahan minyak dalam negeri juga menjadi salah satu kendala utama. Kapasitas kilang domestik Indonesia pada 2024 tercatat sekitar 807 ribu barel per hari. Angka ini jauh lebih kecil dibandingkan kebutuhan konsumsi energi nasional yang mencapai sekitar 1,6 juta barel per hari.

Perbedaan antara kapasitas produksi, pengolahan, dan konsumsi inilah yang membuat setiap lonjakan harga minyak global dengan cepat memunculkan tekanan baru bagi perekonomian Indonesia. Ketika harga minyak naik, biaya impor energi meningkat dan dapat merembet ke inflasi, neraca perdagangan, hingga beban fiskal negara.

Dalam situasi geopolitik yang masih belum stabil, pergerakan harga minyak global kini menjadi salah satu indikator utama yang terus dipantau pasar keuangan dan pelaku ekonomi di Indonesia.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
MO
Ass. Redaktur

Moh. Alpin Pulungan

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait