Makro 15 Jun 2025 Penulis: Desty Luthfiani Editor: Moh. Alpin Pulungan

Konflik Israel–Iran Meledak, Indonesia Terjepit Lonjakan Harga Minyak

Perang Iran-Israel memicu krisis minyak global. Indonesia menghadapi tekanan fiskal berat, ekonomi terancam, rakyat bersiap hadapi harga BBM naik.

Konflik Iran-Israel bikin harga minyak melonjak. Indonesia hadapi tekanan fiskal besar. Apa dampaknya bagi ekonomi dan subsidi BBM kita?

Ilustrasi perang Israel- Iran dan dampaknya bagi Indonesia. Foto dibuat oleh AI untuk KabarBursa.com.
Ilustrasi perang Israel- Iran dan dampaknya bagi Indonesia. Foto dibuat oleh AI untuk KabarBursa.com.

Daftar Isi

  1. 01 Dampak Perang Iran-Israel bagi Indonesia

KABARBURSA.COM – Memanasnya perang antara Israel dan Iran pada Juni 2025 ini menandai titik balik berbahaya dalam tatanan geopolitik global. Krisis ini tidak hanya memicu kecemasan militer di Timur Tengah, tetapi juga mengguncang stabilitas ekonomi dunia, termasuk Indonesia.

Terlebih lagi, saat ini Indonesia sedang dihadapkan pada tekanan fiskal serius akibat lonjakan harga minyak mentah dunia yang menembus 100 dolar AS per barel.

Ekonom Universitas Andalas Syafruddin Karimi menilai, krisis ini tidak berdiri sendiri, melainkan merupakan hasil kumulatif dari pendekatan kebijakan luar negeri Amerika Serikat di bawah Donald Trump yang mengedepankan logika bisnis dalam diplomasi global. 

“Perang Israel–Iran yang meletus pada Juni 2025 menjadi puncak dari kebijakan luar negeri gaya Donald Trump yang selama ini mengedepankan logika bisnis dalam urusan geopolitik,” ujarnya pada Minggu, 15 Juni 2025.

Ia menjelaskan, sejak membatalkan kesepakatan nuklir Iran (JCPOA) pada 2018, Trump telah merusak mekanisme damai yang selama bertahun-tahun dibangun oleh komunitas internasional. 

“Trump memperlakukan dunia sebagai arena negosiasi transaksional, bukan sebagai tatanan yang harus dijaga stabilitasnya,” ujar Syafruddin.

Akibat pendekatan tekanan maksimal yang berlarut-larut, Iran kembali mengembangkan program pengayaan uranium. Sementara itu, Israel merasa mendapatkan legitimasi tidak langsung untuk melancarkan serangan terbuka ke situs nuklir dan tokoh strategis Iran. 

“Dukungan militer AS meski tak diumumkan secara formal melalui pengisian bahan bakar jet Israel dan peluncuran sistem pertahanan rudal, membuktikan bahwa Amerika bukan lagi penonton, tapi sudah jadi peserta aktif dalam konflik ini,” tambahnya.

Trump juga tak menunjukkan sinyal meredakan konflik. Sebaliknya, ia memberi tenggat waktu kepada Iran untuk kembali ke meja perundingan, seolah menjadikan krisis ini kelanjutan dari negosiasi dagang dengan taruhan yang jauh lebih berbahaya. 

“Ini bukan lagi perang tarif. Ini adalah strategi negosiasi yang dibungkus ancaman militer, yang menempatkan nyawa jutaan orang sebagai bagian dari risiko kalkulatif,” kata Syafruddin.

Dampak langsung dari konflik ini sangat terasa di pasar global. Harga minyak melonjak tajam seiring meningkatnya kekhawatiran terhadap terganggunya arus pengiriman melalui Selat Hormuz, jalur vital ekspor minyak dunia. 

“Ketika rudal saling menghujam dan Selat Hormuz terancam blokade, harga minyak langsung melonjak di atas 100 dolar per barel. Ini bukan sekadar lonjakan biasa; ini adalah alarm keras bagi negara-negara pengimpor energi seperti Indonesia,” jelasnya.

Dampak Perang Iran-Israel bagi Indonesia

Bagi Indonesia, lonjakan harga minyak menjadi beban berat bagi anggaran negara. Pemerintah kini menghadapi dilema klasik antara menyesuaikan harga BBM atau mempertahankan subsidi besar-besaran yang menggerus ruang fiskal. 

“Kenaikan harga minyak otomatis memperbesar beban APBN lewat subsidi energi, memperlebar defisit transaksi berjalan, dan mendorong inflasi,” ujar Syafruddin.

Dalam situasi seperti ini, Indonesia tidak bisa berdiri diam atau bersikap seolah-olah berada di luar pusaran. Ketergantungan pada impor energi membuat posisi Indonesia sangat rentan terhadap volatilitas geopolitik global. Pemerintah dituntut mengambil langkah antisipatif dan menjaga keseimbangan antara stabilitas fiskal dan perlindungan daya beli masyarakat.

Syafruddin mengingatkan bahwa dunia saat ini tengah bergulat dengan potensi konflik regional yang bisa menjalar menjadi bencana global, dan bahwa gaya kepemimpinan berbasis ancaman bukanlah solusi jangka panjang. 

“Jika kebijakan luar negeri dijalankan seperti bisnis berisiko tinggi, maka dunia tidak akan mendapat perdamaian—yang tersisa hanyalah pasar ketakutan yang dikelola oleh mereka yang merasa kebal dari akibatnya,” kata dia.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
DE
Jurnalis

Desty Luthfiani

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait